
Perasaan Yang Sama
Langit seakan menangis karena sesuatu hal di malam hari yang dingin itu. Ketika seorang gadis tengah bergelung di dalam selimut tebalnya. Ia seakan tak ingin beranjak sejengkal pun dari dalamnya walaupun seseorang yang dari tadi ada di balik pintu kamarnya, terus saja menyuruhnya untuk keluar karena makan malam yang seseorang itu siapkan sudah saatnya dinikmati.
"Bella keluarlah saatnya makan malam!" seru orang itu.
Bella seakan menutup telinganya dan terus saja memejamkan kedua mata indahnya.
"Jika kau tidak keluar, aku akan masuk dengan paksa." dan kali ini setelah seseorang itu mengancam, Bella pun dengan gerakan malasnya keluar dari dalam selimutnya dan mulai melangkah ke arah pintu kamarnya.
"Ya-ya aku keluar dan jangan sekali lagi kau hancurkan pintu kamarku seperti dulu lagi," ucapnya malas setelah ia sudah berhadapan dengan kakaknya sendiri--Lucas.
"Ya, asal kau selalu patuh pada kakakmu ini," canda Lucas sembari mengacak pucuk kepala adiknya.
"Hentikan! Kau membuat rambutku berantakan saja!"
Bella terlihat kesal akan ulah kakaknya itu, namun dari hatinya yang paling dalam gadis itu pun merasa bersyukur karena Lucas adalah kakaknya. Ya, kakak yang selalu ada di setiap ia membutuhkannya walau pun sesibuk apa pun kakaknya itu, namun selalu ada waktu untuknya.
***
"Wah, masakanmu selalu enak, Luc. Kau buka resto saja kalau begitu dari pada kau terus-terusan menjadi dosen untuk orang-orang yang usianya hampir sama denganmu." celoteh Bella setelah memasukan suapan pertamanya.
Lucas tersenyum lantas mengambil selembar tissue dan mengelapkannya pada sudut bibir Bella. Mendadak gadis itu terdiam lantas menatap tepat ke arah bola mata kakaknya. Hal serupa pun dilakukan oleh Lucas dan sensasi aneh seolah menyengat mereka berdua. Ketika tangan telanjang Lucas menyentuh halusnya pipi Bella.
Bella menjauhkan wajahnya agar tangan Lucas tidak berada lagi di sudut bibirnya. Sedangkan Lucas, ia malah diam sembari menatap lekat ke arah Bella. Tangannya pun masih melayang seolah masih sedang mengelap sudut bibir Bella.
"Luc, aku sudah kenyang. Kau yang bereskan ya, aku sangat mengantuk." ucap Bella tiba-tiba dan berdiri begitu saja tanpa meminun air terlebih dahulu dan mulai meninggalkan meja makan dengan langkah yang terburu-buru.
"Bodoh! Kenapa kau hilang kendali lagi? Pasti Bella akan menganggapmu makhluk yang harus dihindarinya," runtuk Lucas setelah dia tersadar dari lamunannya.
Lantas dia pun meninggalkan meja makan itu tanpa mempedulikan piring-piring yang masih ada di atasnya.
***
Angin malam seakan memberi hawa segar bagi Lucas, ketika ia dengan sengaja mendatangi lantai teratas gudung apartementnya dan di sana dirinya bisa sedikit menenangkan debaran jatungnya.
Debaran jantung yang seharusnya tidak ada apalagi perasaan itu selalu muncul ketika ia sedang berhadapan dengan Bella yang notabene adalah adik kandungnya sendiri. Dan perasaan itu yang tidak seharusnya ada kini sudah tumbuh subur bahkan mendarah daging di dalam hatinya.
Mungkin orang-orang akan menganggap hal itu wajar jika saja Bella bukan lah benar-benar adik kandungnya, namun yang lebih sialnya mereka berdua adalah sepasang kakak-beradik dari kedua orangtua yang sama dan Lucas malah jatuh cinta pada adiknya sendiri. Apakah itu tidak gila namanya.
Lucas tertawa sinis seolah mentertawakan nasibnya sendiri. Lantas melangkahkan kakinya menuju ujung bangunan gedung itu yang tidak dibatasi oleh pagar.
Lucas merentangkan kedua tangannya bahkan kedua matanya pun dipejamkannya. Rutinitas itu sudah sering ia lakukan ketika hatinya sedang mengalami hal yang menurutnya abnormal.
Samar-samar ketika ia sedang menikmati sensasi yang selama iniĀ dirasakan ketika hatinya sedang kacau, tiba-tiba dirinya mendengar suara derap langkah seseorang yang sedang berlari ke arahnya. Ketika ia membuka kelopak matanya ia menemukan ada sebuah tangan seseorang membelitnya dari belakan diikuti pula dengan tarikan dari orang itu yang membuat tubuh Lucas atau pun orang itu mundur beberapa langkah dan berakhir dengan tubuh mereka terjengkang menghantam kerasnya permukaan beton.
"Auch!" pekik kesakitan seseorang itu yang terdengar seperti suara seorang wanita.
Lucas lantas menatap ke arah orang itu dan dugaannya ternyata benar, ia adalah seorang wanita.
Lucas menatapnya lantas melihat kedua sikutnya yang berdarah.
"Apa kau gila, hah!" bentak Lucas atas reaksinya setelah ia melihat luka itu.
"Seharusnya kau bertanya dulu sebelum kau menarikku. Dan lihat karena perbuatanmu, kedua sikutmu terluka." Lucas masih menggerutu kesal, namun ia malah memeriksa kedua sikut wanita itu. "Lain kali kau pikirkan dulu apa yang ingin kau lakukan," lanjutnya. Dan kini intonasi suara Lucas sedikit melembut.
Wanita itu terus menatap lekat dengan apa yang tengah dilakukan pria di hadapannya. Sampai sebuah senyum kemenangan tersungging di bibirnya.
"Bangunlah dan ikuti aku. Kau bisa berjalan sendiri, bukan?" ucap Lucas lalu mengkah terlebih dahulu meninggalkan wanita yang dengan patuh mengikutinya.
***
Sesampainya di apartement, Lucas mempersilahkan wanita itu duduk di sofa ruang tamu lalu meninggalkannya sendiri.
Ketika Lucas kembali, ia sudah membawa peralatan P3K yang langsung digunakan untuk mengobati luka yang ada di kedua sikut tangan gadis itu.
"Auch! Pelan-pelan itu sangat perih," rintih wanita itu manja sembari menggenggam tangan Lucas.
"Hei! Kau cengeng sekali. Kau ingin sembuh atau tidak? Tinggal sedikit lagi, tahan atau kau pejamkan saja matamu itu." ucap Lucas tegas.
Mau tak mau wanita itu pun harus menahan rasa perih yang menyengat permukaan kulitnya. Bahkan agar menghilangkan efek rasa perihnya, ia mengikuti saran yang diajurkan oleh Lucas padanya.
"Selesai!" ucap Lucas seakan lega.
Wanita itu mulai membuka kelopak matanya dan beralih menatap ke arah sikutnya yang ternyata sudah tertempel plester sewarna kulitnya.
"Terimakasih,"ucapnya tulus.
Dari kejauhan Bella melihat adegan itu. Ya, adegan di mana Lucas begitu sabar menenangkan wanita di hadapannya itu. Dan entah kenapa perasaannya tidak senang bahkan membuatnya sedikit tidak suka jika Lucas memperhatikan orang lain khususnya seorang wanita selain dirinya, maka dari itu ia pun memutuskan untuk menghampiri kedua orang itu dan mencari tahu siapa wanita yang bersama kakaknya.
"Kau kenapa?" tanya Bella khawatir setelah melihat plaster yang menempel pada permukaan kulit sikutnya.
Wanita itu melirik ke arah Bella lalu menatap Lucas dengan tatapan bertanya siapa wanita itu.
"Dia adikku, Bellatric Adnan." ucap spontan dari Lucas.
Ia tersenyum atas kenyataan jika wanita yang tinggal dengan pria itu adalah adik pria itu.
"Kau bisa panggil aku Bella, dan kau siapa?"
Wanita itu terperangah kaget kerena sejak tadi ia belum mengenalkan dirinya sendiri bahkan ia pun belum tahu nama dari pria di hadapannya itu.
"Oh maaf, aku belum mengenalkan diriku pada kalian berdua. Aku Kimber Waesly," ucap lantang Kimber yang membuat kening Bella mengerut karena bingung.
"Jadi kau belum berkenalan dengan Lucas?" tanya Bella sengaja menekan bagian nama kakaknya itu.
"Oh jadi namanya Lucas," lirih Kimber lantas menatap wajah tampan Lucas sembari tersenyum penuh arti.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tegur Lucas karena dia memergoki Kimber sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa.
Sedangkan Bella yang juga ikut memergoki ulah dari Kimber, hatinya seakan mendidih, bahkan ingin sekali mencongkel kedua matanya hingga keluar agar wanita itu tidak bisa lagi menatap kakaknya dengan tatapannya yang sedikit membuatnya muak.
Kimber salah tingkah lalu menundukkan kepalanya.
"Kau kasar sekali, Luc," ucap Bella pura-pura membela Kimber. Namun dari hatinya yang paling kecil, ia sangat senang akan reaksi dari kakaknya itu.
"Tidak apa-apa, Bell. Aku memang salah sebaiknya aku pulang saja." reaksi Kimber lalu berdiri dan berpamitan pada mereka berdua.