I'M Sorry

I'M Sorry
19



Bab 19 Kim, Menikahlah Denganku


Satu bulan berada di rumah sakit membuat Kimber bosan, namun dengan kehadiran Bella dan Lucas rasa bosan itu berangsur-angsur hilang. Ia cukup terhibur dengan keberadaan mereka.


Kimber tersenyum tatkala ia menangkap pemandangan di depannya, Lucas terlihat selalu ingin berada di dekat Bella. Bahkan pria itu tak segan mengumbar kemesraan di depannya, membuatnya merasa malu karena sempat hadir untuk mengganggu kebahagian mereka.


Lucas melihatnya. Ia mendekat ke arah Kimber. Menggenggam tangan yang terlihat mungil di genggaman tangannya. "Aku tahu apa yang kau pikirkan. Tapi, percayalah ... aku maupun Bella tidak mengingat kejadian yang sudah lalu," Lucas tersenyum tulus.


Bella mendekat, lalu duduk di samping Kimber. "Malah aku berhutang nyawa padamu, jika tidak ada kau ... aku pasti sudah ...," ia tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya, karena terlalu takut untuk membayangkan apa yang mungkin terjadi.


"Ssstt ... jika tidak ada aku, kau maupun Lucas pasti akan lebih baik-baik saja," ucap Kimber. Ia tersenyum, merasa nyaman berada di tengah-tengah pasangan yang sedang dimabuk asmara itu.


Bella tersenyum. Sedangkan Lucas melepaskan genggaman tangannya setelah pria itu melihat lirikkan maut yang ditunjukkan oleh kekasihnya.


"Apa kau masih cemburu kepada Kim, huh?!" Lucas sengaja mengeraskan suarannya. Ia ingin menggoda wanita itu, dan itu cukup berhasil.


Bella mendengus, lalu berdiri berjalan kea rah Lucas. Tangan lentiknya berhasil mendarat di pinggang Lucas. Membuat pria itu menjerit seketika karena kesakitan.


"Ini penganiyayaan namanya. Ck ... cukup Bell, ampun ...," Lucas berusaha berlari menjauhi Bella. Sampai ia tersandung oleh kakinya sendiri dan terjatuh tepat di hadapan seseorang yang baru saja memasuki kamar inap Kimber.


Bella menjerit, pun Kimber. Mereka berdua kaget sekaligus geli melihat tingkah pria yang terkenal dingin, namun akhir-akhir ini sikap dinginnya perlahan menghangat.


Seseorang di depan Lucas mengulurkan tangannya, mencoba memberi bantuan untuknya. "Terima kasih," ucapnya, setelah ia berdiri dan menatap orang yang telah membantunya.


Seseorang itu tak lain adalah Aaron—sahabatnya.


"Apa kau sedang menangkap katak, Luc?" Aaron bertanya. Sudut bibirnya berkedut, tampak sedang menahan sesuatu.


Lucas menyingai, "Bukan katak, melainkan menghindari singa betina yang sedang mengamuk."


Seketika tawa Aaron pecah dan melirik wanita yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Bella tampak berkacak pinggang. Wanita itu sepertinya tidak terima jika dirinya disamakan dengan seekor singa.


"Jika aku singa, maka kau rusanya, Luc!" balas Bella tampak kesal.


Aaron maupun Lucas tertawa keras, sedangkan Bella—wanita itu semakin kesal dengan tingkah kedua pria di depannya.


Kimber hanya diam. Sesekali ia mencuri pandang ke arah seseorang yang baru datang ke kamarnya. Wajahnya merona tatkala ia melihat senyuman lebar terukir di bibir pria itu. Sampai tatapannya beradu dengannya, membuatnya salah tingkah.


Lagi-lagi Lucas melihatnya. Melihat bagaimana wajah merona bak kepiting rebus tampak jelas melekat di wajah Kimber. Pria itu berjalan ke arah kekasihnya, menyentuh telapak tangannya. Namun, Bella menepis uluran tangan itu dan memilih melangkah mendekati Aaron.


Aaron terlalu focus melihat wanita yang tengah duduk di atas ranjangnya. Ia tidak menyadari bahwa Bella sudah berada di hadapannya. Bahkan wanita itu beberapa kali memanggil-manggil namanya.


"Aaron! Hei! Kau mendengarku?" beberapa kali Bella memanggil nama pria itu, namun tak dihiraukan.


"Harus dengan cara ini," ucap Lucas, yang sudah mendekat ke arah Bella. Pria itu menjulurkan telapak tangannya. Satu tamparan yang cukup keras mendarat di pipi kira Aaron. Membuat Bella terbelalak kaget. Sedangkan Aaron tersentak seperti baru saja bangun dari tidur panjangnya.


Tawa keras milik Lucas pecah seketika. "Kau ini. Jika ma uterus bermimpi sebaiknya tidur di rumah, jangan berjalan sambil bermimpi, bahaya tahu," ucapnya. Ia melirik pria itu yang sedang tersenyum ***** ke arahnya.


"Apa yang kau lakukan?" protes Bella.


"Tentu. Aku akan menjaga Kim sebaik mungkin. Kalau perlu dengan nyawaku sendiri," ucap Aaron sembari mengerlingkan matanya.


Bella tersenyum, lalu berpamitan dan berjanji akan segera kembali.


***


Aaron menyerahkan sebuket besar mawar merah kepada Kimber, membuat wajah wanita itu semakin merona.


Kimber menerimanya dan mencium aroma bunga itu, harum seperti yang dibayangkan. Namun, mendadak ia mual. Perutnya seperti sedang diaduk-aduk, sehingga ia tak tahan untuk mengeluarkan isi di dalamnya. Ia meletakkan bunga itu di atas nakas, lalu membungkam mulutnya erat.


Aaron bingung melihat reaksi wanita itu, yang tiba-tiba meletakkan bunga pemberiannya. Pun ia semakin bingung bercampur khawatir ketika tiba-tiba Kimber terlihat sedang menahan sesuatu di dalam mulutnya.


"Kau kenapa?" tanya Aaron khawatir.


Kimber menatap pria itu, "Aku ingin muntah. Bisa tolong bawa aku ke kamar mandi? Aku sudah tidak tahan lagi."


Dengan sigap Aaron menggendong wanita itu. Sebenarnya Kimber bisa jalan sendiri, namun Aaron sudah lebih dulu menggendongnya.


Cairan bening keluar dari mulut wanita itu. Tak sampai di situ, rasa mual itu bertambah berkali-kali lipat ketika ia mencium pewangi ruangan yang berada di sana. Membuat Aaron semakin cemas, namun tidak tahu harus berbuat apa.


Kimber merasa ada yang aneh dengan dirinya. Beberapa hari ini perutnya terus-menerus merasa mual, apalagi ketika di pagi hari rasa mual itu bertambah berkali-kali lipat, namun hari ini lebih aneh lagi. karena tidak biasanya ia mual hanya karena membaui sesuatu yang menurutnya normal.


"Sudah berapa lama kau muntah seperti ini?" tanya Aaron, yang kini mulai memijat-mijat tengkuk wanita itu.


"H-hampir seminggu,"jawabnya singkat. Karena ia masih ingin mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya.


"Dokter mengetahuinya?" Aaron menatap wajah Kimber dari pantulan cermin di depannya.


Kepala wanita itu menggeleng. "Aku tidak ingin Dokter tahu, atau dia akan lebih lama menahanku di sini," ucapnya.


Aaron sebenarnya ingin marah, namun ia tidak bisa karena toh yang menahannya adalah dirinya. Ya, ia ingin lebih lama barsama dengan wanita itu dengan alasan menahan Kimber di rumah sakit ini untuk pasca pemulihan.


"Kau itu aneh. Bagaimana jika ada apa-apa denganmu," protes Aaron.


Kimber menegakkan wajahnya. Ia menatap bayangan seseorang di dalam cermin itu, "Aku ingin pulang. Aku bosan berada di sini," uangkapnya.


Aaron tersenyum, "Maka pulang bersamaku."


Wanita itu menggelengkan kepanya. Ia memang keras kepala, namun ini semua demi kebaikkannya dan orang-orang disekitarnya pula.


"Aku tidak bisa, A," gumam Kimber lirih. Nada suaranya sarat dengan kesedihan. Membaut pria di belakangnya tak tahan dan membalikkannya dengan paksa menghadap ke arahnya.


"Kim, aku mencintaimu, menikahlah denganku," ucap Aaron. Kedua tangannya menggenggam kedua pundak wanita itu erat, namun tidak menyakitkan.


Mata Kimber terbelalak tak percaya mendengar perkataan dari pria itu. Ia merasa konyol dengan cara Aaron melamarnya. Tentu ia akan beranggapan seperti itu, karena pria itu telah melamarnya ketika ia baru saja muntah di hadapannya. Bahkan ia belum berkumur atau membilas mulutnya, sampai sesuatu yang lebih gila dilakukan oleh pria itu—menciumnya, lebih tepatnya ******* bibirnya dengan keras. Sehingga ia tidak bisa berdiri tegak lagi. geleyar aneh mulai menjalari tubuhnya dan lebih anehnya lagi rasa mual yang tadi sempat dirasakannya mendadak hilang tak berbekas.


"Kim, menikahlah denganku," ucap Aaron lagi, ketika ciumannya telah ia lepaskan, dan menyatukan kedua kening mereka. Tatapannya begitu sayu, pun dengan Kimber.