
Menikahlah Denganku
Hati Bella berdebar setelah mendengar jawaban dari Lucas. Dia terus menatap ke dalam mata pria itu berharap menemukan keraguan di dalamnya, namun sorot matanya begitu tegas dan memancarkan binar kesungguhan dari apa yang dikatakannya. Bella hanya bisa tersenyum menyamarkan perasaan tersembunyinya dalam hati. Ya, dia tahu mereka saling mencintai tapi apakan orang lain akan menerima hubungan mereka? Yang sejatinya adalah hubungan terlarang karena darah mereka sama? Entahlah. Dia pun bingung dengan hubungan yang tengah dijalaninya.
Lucas menatap wanita di depannya dan dia tahu wanitanya sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Lantas dia menarik tubuh Bella dalam dekapannya.
"Menikahlah denganku," ucap Lucas mantap dengan satu tarikkan napas.
Bella kaget mendengar ucapan dari pria itu dan berusaha melepaskan diri dari belitan hangat tubuh prianya. Wanita itu menengadahkan kepalanya untuk menatap ke dalam bola mata Lucas.
"Apa aku tidak salah dengar, Luc?" tanya Bella memastikan apa yang didengarnya.
Pria itu tersenyum lalu menggelengkan kepala. "Apa aku harus berteriak, agar kau mendengar ucapanku?" tanya Lucas berusaha mencairkan suasana.
Bella melotot galak padanya lalu tersenyum lebar.
"Apa itu mungkin?" tanya Bella sarat dengan keraguan yang kentara dari nada suaranya.
***
Aaron terus saja memaksakan lidahnya untuk memasuki mulut Kimber. Bahkan dia tidak mempedulikan wanita itu yang kini tengah menangis. Yang ada dalam pikirannya hanya satu, menuntaskan hasrat yang tiba-tiba merasukinya. Ya, kini dia sangat berhasrat kepada wanita itu dan menginginkan dirinya untuk memasuki tubuhnya.
Kimber hanya pasrah dengan apa yang tengah dilakukan pria itu, bahkan dia hanya diam ketika tubuhnya mulai digerayangi olehnya.
"Kau membuatku menginginkanmu," geram Aaron di sela ciumannya.
Kimber tidak tahu harus menjawab apa yang dia takutkan saat ini adalah pria yang ada di depannya. Ya, dia takut jika dia akan takhluk pada pria itu. Menyerahkan dirinya sendiri untuk nafsu sesaat mereka, yang mungkin berakibat buruk untuk masa depannya.
"Aku mohon hentikan!" jerit Kimber berusaha melawan pria di depannya.
Seketika tubuh Aaron menegang dan menjauhkannya dari wanita itu. Dia melihat air mata telah mengalir deras dari mata hijaunya dan itu membuatnya merasa sangat bersalah. Tanpa mengatakan apa-apa Aaron meninggalkan kamar wanita itu.
Kimber menatap kepergian pria itu dengan sorot mata terluka. Entah kenapa tiba-tiba dirinya merasa kehilangan akan sosok Aaron.
***
Tangisan Bella pecah, lalu dia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Lucas. Andai saja kata-kata sakral itu diucapkan oleh orang lain, pasti orang itu akan langsung menjawab iya. Namun ini lain dan Bella menyadarinya karena hubungannya dengan Lucas adalah kakak-beradik. Kakak-beradik menikah? Apakah itu benar? Entahlah.
Lucas mengerti apa yang dipikirkan oleh wanitanya dan dia mencoba memberi waktu untuknya.
"Apa kau lapar?" tanya Lucas.
Bella mengerjapka keduan matanya lalu mengangguk sembari tersenyum.
"Kalau begitu kita makan di luar," lanjutnya lalu berdiri dari posisi duduknya, menarik tangan Bella untuk mengikuti apa yang tengan dia lakukan.
***
Lucas dan Bella berjalan menusuri jalanan yang cukup ramai, banyak pegadang kaki lima yang membuka standnya di tepian jalan. Bahkan jalan yang seharusnya digunakan untuk pejalan kaki kini harus penuh sesak oleh tenda-tenda sementara mereka. Lucas yeng selalu awas di samping Bella selalu merangkulkan tengannya pada pinggang ramping wanita itu. Ya, sifat posesivenya muncul ketika wanita itu berada dikeramaian. Dan Bella tahu betul apa yang menyebabkan sikap pria itu menjadi seperti itu. Tak terasa seulas senyuman tersungging dari bibir mungil wanita itu.
"Aku tidak akan lari, kok," ucap Bella setelah lama mereka hanya berdiam diri menikmati keramaian jalan yang mereka lalui.
"Hah? Maksedmu?" tanya Lucas sembari menghentikan laju kakinya. menghadap ke arah wanitanya meninta penjelasan atas apa yang telah dikatakan olehnya.
Bella tersenyum lalu memegang kedua sisi wajah Lucas. sembari tersenyum dia mendaratkan sebuah ciuman tepat di atas bibir pria itu. Lucas membelalakan matanya karena apa yang dilakukan Bella membuatnya terkejut sekaligus senang.
"Aku tidak akan kabur, bukan? Dan aku tidak akan pernah dilirik oleh satu pun pria yang ada di sini, karena mereka tahu aku bersamamu." Bella menjelaskan apa yang dari tadi membuat Lucas tidak mengerti dengan ucapannya.
Lacas tersenyum lalu mendekatkan kembali wajahnya ke arah wanita itu. Kali ini dia mendaratkan bibirnya di atas kening Bella.
"Jadi sekarang kau tidak canggung lagi?" goda pria itu.
"Entahlah ... mungkin karena terlalu sering bersamamu, aku jadi seperti ini. Tidak tahu malu," ucap Bella sembari tertawa keras.
"Tidak tahu malu, ya ...." Lucas mengulang ucapan Bella.
"Kenapa, apa kau keberatan?" tanya Bella.
***
Aaron sangat marah dengan dirinya sendiri. Ya, dia tahu perbuatannya memang salah, tapi ketika dia melihat wanita itu mengemasi pakaiannya, kemarahannya tersulut dan dia benar- benar gelap mata. Sehingga melakukan perbuatan yang belum pernah dia lakukan selama ini. Dia mengepalkan tangannya lalu melampiaskannya pada dinding di depannya. pukulan itu sangat keras membuat kepalan tangannya berdarah.
"Bodoh!" runtuknya keras.