I'M Sorry

I'M Sorry
20



Bab 20 Wanita Bertopeng


***


Bella terlihat terburu-buru memakan makanannya. Ia sedikit khawatir dengan keadaan Kimber yang hanya ditinggalkannya bersama Aaron. Karena yang Bella tahu keduanya tidak saling mengenal.


"Luc, cepat makannya aku khawatir dengan Kim," Bella terlihat krsal karena melihat tingkah Lucas yang terlihat tenang dan terkesan mengulur waktu.


Lucas tersenyum ke arah Bella. Senyuman secerah mentari ia sunggingkan untuk menggoda kekasihnya.


"Ayolah ... tenanglah, Sayang. Kim bersama Aaron, dia pasti akan menjaganya dengan baik." Lucas mengelus pipi wanita itu dengan sayang.


Kekesalan Bella tidak berkurang sedikit pun, malah semakin memuncak. Bahkan wanita itu langsung berdiri dan meninggalkan Lucas tanpa berkata apa-apa lagi.


***


Bella melangkahkan kaki melewati lorong rumah sakit yang sepi. Rasa kesalnya semakin berkali-kali lipat ketika ia mengetahui orang yang disebut sebagai kekasihnya tidak mengikutinya dari belakang.


Sampai ia mendengar suara langkah seseorang dari belakannya, senyuman sinisnya pun terukir samar di bibir penuh milik Bella.


"Abaikan dia, dan hiraukan," gumamnya.


Bella terus saja melangkah tanpa memedulikan seseorang di belakangnya. Karena ia yakin orang itu tak lain adalah Lucas—kekasihnya sendiri yang berusaha menyusulnya dan meminta permohonan maaf darinya. Namun, dugaan wanita itu salah. Karena yang kini berada di belakannya adalah seseorang yang tak dikenal olehnya.


Seseorang itu semakin mempercepat laju kakinya. Sebuah sapu tangan tengah digenggam dengan erat di tangan kanannya, sampai jaraknya dengan Bella sudah cukup dekat. Seseorang itu membekap jalan pernapasan Bella dengan sapu tangannya. Dalam hitungan detik wanita itu mulai lemas tak sadarkan diri.


"Ini cukup mudah," ucapnya dengan seringai yang menghiasi bibir tebal dan hitamnya.


***


Lucas menyudahi acara makannya, dan pergi menyusul kekasihnya yang terlihat kesal karenanya. Ia tersenyum, memikirkan bagaimana ia akan meminta maaf dengan cara yang tak biasa. Namun, semakin ia melangkahkan kakinya seberapa cepat pun sosok wanita yang dicintainya itu tidak tampak di mana pun. Harusnya ia bisa menyusulnya.


Di tengah perjalanan ia tak sengaja menginjak sesuatu. Lucas merunduk dan mengambil sesuatu itu. Sebuah sapu tangan dengan bau yang membuat kepalanya pusing. Dengan mimik wajah jijik ia langsung membuang benda itu. Lucas melajukan kakinya kembali.


Setibanya ia di depan pintu kamar inap Kimber, Lucas tidak menemukan satu orang pun di sana. Ia melangkah memasuki kamar itu, lalu menuju ruangan satu-satunya yang ada di kamar itu.


Pemandangan yang tak ingin dilihatnya kini tampak nyata di depan matanya. Sepasang manusia dengan posisi yang terlihat sedenga berciuman membuat bibir tipis Lucas merekah lebar.


Aaron ataupun Kimber tidak menyadari kehadiran pria itu, mereka masih larut dengan pikiran mereka masing-masing, sampai suara deheman mengagetkan keduanya.


"Apa aku mengganggu kalian?" Lucas tersenyum menggoda.


Aaron memutar kedua matanya, lalu memapah Kimber untuk kembali ke kamar dan berbaring diranjangnya.


"Di mana Bella?" tanya Kimber.


Lucas mengernyitkan keningnya, lalu menatap wajah wanita itu. "Kukira dia sudah berada di sini."


Aaron dan Kimber saling berpandangan. "Dari tadi Bella belum kembali, kukira kalian bersama," Kimber menatap wajah Lucas.


Lucas tidak percaya bahwa Bella akan pulang tanpa memberitahunya, walaupun ia tahu Bella sedang kesal, namun wanita itu tidak akan semarah itu dan meninggalkannya.


Lucas merogoh saku celanya dan menelepon nomer Bella, namun tidak ada tanggapan dari si pemiliknya.


"Bagaimana apa dia mengangkatnya?" tanya Kimber. Wanita itu kini tampak khawatir.


Aaron menatap Kimber sesaat, lalu menyusul pria itu.


"Aku akan menemanimu,"-Aaron.


***


Bella terbangun dari tidurnya. Ia mulai membuka kedua matanya dengan perlahan. Pemandangan yang pertama dilihatnya adalah sebuah ruangan tak terawat. Dan ia sedang duduk di atas kursi dengan tali yang mengikat tubuh, tangan dan kakinya.


Sayup-sayup ia mendengar dua orang tengah terlibat suatu percakapan, yang satu suara seorang pria dan lawan bicaranya adalah seorang wanita. Bella menajamkan indera pendengarannya, berusaha mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Mendadak kedua matanya terbelalak kaget antara tak percaya dan takut, ketika suara wanita yang didengarnya menyuruh pria itu untuk membunuh dirinya.


Bella sangat ketakutan. Keringat dingin yang sedari tadi menetes hampir mengenai kelopak matanya. tangan Bella sebenarnya sudah gatal ingin menyeka keringat itu, namun apa daya kedua tangannya kini terikat oleh tali dengan sangat kencang.


Seluruh tubuhnya terasa sakit. air matanya pun mulai luruh menetes menggenangi pelupuk matanya. ia ingin bebas, melarikan diri. Bahkan Bella tidak tahu alasan kedua orang itu menyekapnya seperti ini.


Bella terus saja menangis, tak menyadari suara langkah kaki yang mulai mendekatinya.


Seorang wanita bertubuh besar mendekati Bella. Ia sengaja memakai topeng yang menutupi wajahnya. Di balik topeng, wanita itu tersenyum sinis melihat Bella tak berdaya duduk di atas kursi. Ingin sekali wanita itu untuk menunjukkan siapa dirinya, namun bukan saat ini.


Wanita bertopeng itu berdiri tepat di hadapan Bella. Mengamatinya, bahkan ia ingin tertawa ketika ia melihat air mata Bella mengalir deras bagaikan anak sungai di kedua pipinya.


Ia terus mengamati sembari berkacak pinggang, lalu melangkah menjauh meninggalkan Bella seorang diri.


Dari kejauhan Bella bisa mendengar bahwa wanita itu memberi perintah kepada pria yang bersamanya tadi untuk segera mengesekusinya.


***


Lucas terlihat tegang. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemennya. Ketika sampai, apartemen itu kosong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Bahkan Bibi Mandy pun tidak berada di kamarnya.


Aaron memahami apa yang dirasakan oleh pria itu, karena ia tahu bagaimana perasaan kehilangan walaupun ia belum pernah merasakannya, namun ia cukup meraskannya.


"Apa kau sudah menelepon teman-teman Bella?" tanya Aaron.


Lucas sekilas menatap wajah Aaron, lalu merogoh saku celananya.


Sudah semua teman Bella yang di kenal Lucas telah dihubunginya, namun tidak ada yang tahu keberadaan wanita itu. Sampai suara derit pintu menyadarkan keduanya, lalu beranjak ke ruang depan di mana seseorang baru saja masuk ke dalam apartemen.


Bibi Mandy tampak terkejut melihat Lucas dan Aaron di sana. Ia tidak mengira kedua pria itu mampu mengagetkannya. Dengan perlahan wanita paruh baya itu berjalan sembari menenteng kantong plastis yang penuh dengan belanjaannya, lalu tersenyum ke arah keduanya.


"Apa kalian ingin makan siang di sini?" tanya Bibi Mandy, tampak biasa, bahkan ia tidak melihat mimic Lucas yang terlihat tegang.


Aaron tersenyum ke arah wanita paruh baya itu, lalu menyenggol tulang rusuk Lucas yang ada di sebelahnya.


Lucas menoleh ke arah Aaron, lalu mengangguk mengerti isyarat dari pria itu.


"Kami sudah makan, Bibi." Lucas menatap wanita paruh baya itu. "Apa tadi Bella sempat pulang?"


Bibi Mandy menaikkan kedua alisnya, lalu mengernyit bingung. "Bukannya tadi Bella bersamamu untuk mengunjungi Kim?" Bibi Mandy balik bertanya. Membuat Lucas sadar bahwa wanita yang dicintainya tidak pulang ke sini.


Tanpa berpamitan Lucas berjalan keluar dari apartemen mengabaikan Bibi Mandy yang masih mematung kebingungan.


"Eng ... aku akan menjelaskannya nanti," ucap Aaron. Ia pergi setelah mengatakan itu kepada wanita paruh baya itu.


@ &>YAgG