I'M Sorry

I'M Sorry
15



Bab 15 Anak Adopsi


Bella sudah ada di Bandara dan ia sedang menunggu seseorang untuk menemaninya terbang ke kota kelahirannya dulu. Ya, ia ingin sekali mengunjungi rumah mereka dulu, ketika kedua orang tuanya masih hidup. Rumah yang penuh kenangan baginya maupun Lucas. Senyuman kecil muncul dari bibir penuh miliknya.


"Apa kau menungguku lama?" Seorang pria terlihat sedang mengatur nafasnya karena ia terlihat sangat kelelahan.


Bella tersenyum, lantas ia berdiri untuk memeluk pria itu. "Arthur kau membuatku lama menunggu, kukira kau tidak akan datang," ucapnya.


Pria bernama Arthur tersenyum lalu membalas pelukkan wanita itu sama eratnya.


"Hei! Aku sudah berjanji mana mungkin aku mengingkarinya, ayo ... sebentar lagi kita berangkat." Arthur melepaskan pelukkannya. Menatap wajah wanita itu lekat. Senyuman yang menawan masih terukir di bibir merah pria itu, dan Bella sangat mengagumi senyuman milik pria itu.


"Apa kau sudah mendapatkan gadis pujaanmu, Arty," Bella mengerjapkan matanya mencoba mengoda teman baiknya.


"Siapa yang kau maksud?" Arthur terlihat salah tingkah dan itu benar-benar sangat jarang ditunjukkannya pada siapa pun.


"Kau pasti mengerti apa yang kumaksud,"Bella tersenyum lalu melangkah mengikuti langkah lebar pria di sampingnya.


"Tinggal tunggu waktu yang tepat saja," balasnya dan ia benar-benar tengah tersenyum lebar.


Bella turut senang dengan keadaan temannya, dan ia mulai teringat dengan Lucas. Andai saja kisah hidupnya seperti orang-orang, ia pasti akan lebih mudah bersatu dengan pria yang dicintainya, namun takdir berkata lain dan ia cukup tahu diari untuk perlahan mundur dari kehidupannya.


Benar dengan yang dikatakan orang-orang, mundur bukanlah kekalahan melainkan kau sedang belajar untuk ikhlas menerima apa yang ditakdirkan Tuhan, walau pun itu sulit, namun ia yakin, ia dapat melewatinya.


***


Lucas pergi ke pos penjagaan, di sana terdapat monitor Cctv. Dengan bersusah payah ia meminta kepada salah satu penjaga itu untuk menunjukkan rekaman Cctv lorong apartennya, dan benar saja ketika rekaman itu di putar, tepatnya jam menunjukkan pukul 4 pagi Bella keluar dari apartem dengan menyeret koper hitamnya.


Perasaan Lucas benar-benar hacur melihat pemandangan itu, apalagi alasan kepergian wanita itu adalah karenanya.


"Bella pasti akan baik-baik saja, dan dia pasti akan segera kembali ke sini," ucap Bibi Mandy yang memang dari tadi berdiri di samping Lucas.


Lucas menggeleng, lalu berlari keluar ruangan pos penjagaan. Ia menuju keluar gedung untuk mencari keberadaan Bella. Sesekali ia berbicara di telepon untuk menanyakan keberadaan Bella pada teman-temannya yang kebetulan dikenalnya. Namun kekecewaan lagi-lagi harus dialaminya, karena teman-teman yang dihubunginya tidak ada satu pun yang tahu keberadaan Bella.


Satu tepukkan membuatnya mau tak mau menolehkan kepalanya ke arah orang itu, dan di sampingnya sudah berdiri Aaron. Ia terlihat sama khawatirnya dengan dirinya.


"Apa kau sudah menemukan Bella di mana?" tanya Aaron.


Lucas menggelengkan kepalanya. Raut wajahnya terlihat kalut dan ia benar-benar cemas dengan keadaan Bella sekarang.


"Aku akan mencarinya, kau tetap di sini karena besok hari pernikahanmu. Surat-surat yang kaubutuhkan sudah lengkap dan sudah kukirim," ucap Aaron dengan tatapan tak terbaca.


"Aku tidak bisa, A. aku harus mencari Bella." Lucas terlihat tidak peduli dengan pernikahannya yang tinggal menghitung jam itu.


"Tapi kau besok akan menikah, dan keluarga calon istrimu sudah ada di sini untuk menemuimu."


"Tetap saja aku tidak bisa ini menyangkut wanita yang kucintai, A, dia menghilang entah nasibnya sekarang seperti apa," Lucas benar-benar frutasi.


"Kau percaya kan padaku? Aku akan mencari Bella sampai ketemu." Aaron masih meyakinkan pria itu.


Lucas menatap wajah Aaron lekat seakan janji yang diberikan oleh pria itu adalah harapan untuknya. Dengan hati kalut ia akhirnya mengangguk dan membiarkan pria itu yang menggantikan tugasnya untuk mencari wanita yang dicintainya.


***


Lucas melangkahkan kakinya memasuki kamarnya, ia duduk di sudut ranjang dengan wajah yang terlihat kusut. Sesekali ia mengusap wajah itu dengan kasar sampai satu tetes air mata keluar dari kedua bola matanya. Ia tak peduli dianggap cengen oleh siapa pun yang akan memergokinya menangis, karena rasa penyesalannya mengalahkan itu semua.


Dari arah ambang pintu, Kimber melihat pemandangan yang mengusik hatinya, ia ingin mundur namun tidak bisa. Sakit memang menikah dengan orang yang tidak dicintainya terlebih lagi pria itu juga tidak mencintainya, wanita itu hanya bisa berharap pernikahan yang tak diingnkan oleh mereka berdua berjalan dengan baik sampai saatnya mereka berpisah.


Kimber duduk di samping Lucas. Dengan mengumpulkan keberanian ia meremas pundak pria itu.


"Aku tahu perasaanmu, kalau kau mau kita batalkan pernikahan itu," ucap Kimber.


Lucas menoleh, dengan perlahan ia menepis tangan Kimber di atas pundaknya. "Pernikahan itu akan tetap terjadi, jangan harap kau bisa lari karena peristiwa ini," balas Lucas dingin.


Perasaan wanita itu benar-benar terluka. "Aku tidak akan lari," tukasnya.


Lucas tersenyum sinis dan itu terlihat aneh di mata Kimber, karena bersamaan dengan senyuman itu air mata pria itu keluar dari pelupuk matanya.


Tangannya tak bisa dikendalikan oleh Kimber, dengan lancangia menghapus genangan air mata pria itu.


Lucas terlihat menegang, namun ia tidak menepis kembali tangan Kimber malah ia menikmati sentuhan jemari halus milik wanita itu.


"Aku mencintainya, dan dia pun sama mencintaiku. Tetapi kenapa takdir tidak menyatukan kami?" Lucas seperti tidak sadar tengah mencurahkan perasaannya kepada Kimber.


Sedangkan Kimber hanya dia, namun dalam hatinya yang paling dalam ia terluka dengan pernyataan itu. Benar-benar terluka harus menikah dengan seseorang yang tidak menginginkannya.


"Dia satu-satunya wanita yang kuinginkan di dunia ini." Tiba-tiba Lucas memeluk tubuh Kimber dengan sangat erat sampai wanita itu sesak nafas.


"Y-ya, aku tahu, t-tapi lepaskan aku. Aku tidak bisa bernafas," ucap Kimber.


***


Bella telah sampai di depan rumannya dulu. Rumah yang masih sama persis ketika ditinggalkan olehnya. Lalu dengan perlahan ia melangkahkan kaki menuju teras rumah itu. Di sampingnya Arthur dengan setia menemaninya.


Pintu itu diketuknya, tak lama setelahnya muncul seorang wanita tua yang telah Bella kenal. Sibill Gritwite, wanita tua yang mengurus rumah ini. Bella menyunggingkan senyuman lalu memeluk wanita tua itu.


"Bibi Sibbil aku merindukanmu, bagaimana kabarmu?" ucap Bella setelah melepaskan pelukkannya.


"Apakah kau Bella? Oh, Tuhan! Kau telah tumbuh dewasa dan cantik, benar yang dikatakan oleh Jessy, kau akan tumbuh menjadi wanita cantik setelah melihatmu untuk pertama kalinya dip anti asuhan itu," ucap wanita itu, bahkan ia tidak sadar perubahan wajah yang ditunjukkan Bella kepadanya.


"Apa maksudmu tentang panti asuhan?" Bella benar-benar penasaran.


"Panti asuhan? Oh, Tuhan! A-aku t-tidak ingat mengatakan itu," wanita tua itu terlihat gugup.


"Jangan membodohiku, Bibi, karena pendengaranku masih berfungsi dengan baik." Bella memincingkan matanya.


"M-maafkan aku, tapi semua itu adalah rahasia." Bibi Sibbil benar-benar mengindari Bella. Wanita itu masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki yang terburu-buru.


Bella tidak segampang itu menyerah, ia dengan sigap mengejar wanita tua itu lalu mencekal pergelangannya. Sedangkan Arthur, pria itu terlihat enggan untuk ikut camper, ia lebih memilih duduk di sova ruang tamu.


"Katakan ada rahasia apa sehingga aku tidak berhak tahu?" tanya Bella.


Wanita tua itu terlihat enggan untuk mengatakan kebenarannya, namun melihat wajah memelas Bella membuatnya luluh juga. Ia membimbing wanita muda itu untuk duduk di kursi meja makan.


"Kau bukan anak kandung keluarga Adnan, Bella. Kau anak adopsi, " ucap Bibi Sibbil sembari mengelus telapak tangan Bella begitu lembut.


Ekspresi wajah Bella tidak dapat diartikan, karena yang dapat ia rasakan adalah senang sekaligus sedih. Senang karena tidak ada lagi penghalang untuknya bersama pria yang dicintainya, sedangkan sedih karena dua orang yang telah dianggapnya sebagai orang tua kandungnya ternyata hanya orang tua angkatnya.


"Terima kasih, Bibi, kau telah memberiku informasi ini."


Bergegas Bella pun berlari menuju Arthuryang tengah duduk melepas rasa lelah.


"Arty, kita pulang sekarang. Kuharap aku tidak terlambat."