
Kecemburuan
Kimber sangat puas melihat ekspresi pria itu. Dia terkikik geli karena tingkahnya sendiri. Ya, dia seperti wanita ****** yang sedang menggoda kekasih orang dan itu memang benar.
"Apa kau sudah mengingatnya, Tampan?" ucapnya pada akhirnya karena wanita itu tidak bisa menahan senyumannya yang sebentar lagi akan berubah menjadi sebuah tawa yang kencang.
Pria itu--Lucas, menatap tajam Kimber dan dia benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah genit wanita itu. Dia mendengus lalu melewatinya.
"Hei! Mau ke mana kau?!" teriak Kimber setelah melihat Lucas pergi meninggalkannya.
Pria itu hanya diam sembari terus melaju menuju sebuah benda persegi panjang di dapurnya, lalu membuka pintu yang menutupinya. Diambilnya satu botol air putih dari dalamnya dan menenggaknya lansung dari tempatnya. Kimber benra-benar tak bisa menahan air liurnya ketika melihat pemandangan itu. Pria itu benar-benar menggoda imannya dan dia bertekat untuk menaklukkannya.
Lucas kembali ke meja makan lalu duduk di salah satu kursi di sana. Menatap apa yang tadi di bawa oleh wanita itu. Satu piring berisi nasi goreng yang menggiurkan, dan Lucas benar-benar ingin mencicipinya atau mungkin menghabiskannya.
"Apa kau yang memasaknya?" tanya Lucas tanpa melihat wajah wanita itu.
Kimber tersenyum lebar, lalu duduk di samping pria itu. "Tentu saja. Memangnya siapa lagi?" ucapnya penuh percaya diri.
Lucas mendengus tidak suka dengan cara wanita itu berbicara, terlalu percaya diri dan sedikit sombang.
"Apa ini benar-benar aman untuk dikonsumsi?" tanya Lucas lagi menimbang untuk memakannya atau tidak.
Kimber memutar bola matanya, lalu mengambil piring itu dari hadapannya. Mengambil satu sendokkan penuh berisi nasi goreng dan mengarahkannya pada mulut pria itu. Lucas menatap wanita itu tak percaya, lalu menggelengkan kepalanya pertanda dia enggan membuka mulutnya.
"Ayolah ... satu suapan saja. Aku janji, jika ini tidak enak kau bisa membuangnya," bujuk Kimber sembari mengerlingkan kedua matanya dan itu terlihat mengerikan di mata Lucas.
Dengan terus memerhatikan wajah wanita itu Lucas berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk menerima suapan dari wanita itu yang notabenenya adalah orang asing.
"Biar aku saj-" ucapan Lucas terhenti karena Kimber telah mengarahkan sendok itu ke dalam mulutnya.
Kimber tertawa kencang melihat ekspresi Lucas yang terlihat akan menangis, namun setelah itu dia pun melihat pria itu mengunyah nasi goreng buatannya.
***
Bella berjalan menuju ke meja kasir untuk membayar belanjaannya. Ya, dia pergi pagi-pagi sekali untuk berbelanja, karena persedian makanan sudah habis. Dengan tergesa- gesa dia menyimpan keranjang belanjaannya di atas meja itu menunggu seorang kasir untuk menghitung jumlah belanjaannya.
Dari arah belakan Bella berdiri seorang pria yang jelas-jelas mengikutinya sejak dia melihat wanita itu memasuki tempatnya kini berpijak. Pria itu tersenyum lalu menepuk pundak wanita di depannya.
Bella merasa terganggu dengan seseorang yang telah berani-beraninya menyentuh pundaknya, dan dia merasa dilecehkan. Bella membalikkan tubuhnya, hamper saja dia akan meluapkan amarahnya, namun setelah gadis itu mengetahui siapa orang telah mengusiknya
"Aaron? Sedang apa kau di sini?" ucap Bella setelah dia tahu orang itu yang tak lain teman kakaknya sendiri.
"Aku? Tentu saja untuk membeli keperluan sehari-hariku, memangnya untuk apalagi?" Aaron mengerlingkan matanya geli melihat reaksi wanita di depannya. "Apa kau akan memasak hari ini, Bell? Boleh aku menumpang sarapan?"
Bella memutar kedua bola matanya, lalu tersenyum lebar ke arah pria itu. "Makanya cari pasangan, A." Bella semakin tersenyum lebar melihat reaksi wajah Aaron yang menurutnya lucu.
"Calonku ada di depan mata, tinggal aku memintanya pada temanku agar dia mau menyerahkannya," ucap Aaron berniat bercanda tapi tidak untuk Bella.
Bella mendadak mengeraskan wajahnya dan dia benar merasa terhina akan ucapan dari pria itu. Ya, dia seolah adalah barang yang dengan mudahnya bisa diberikan pada orang lain setelah orang itu meminta pada pemiliknya.
Aaron melihat perubahan yang ditunjukkan oleh Bella, dan dia sadar akan ucapannya yang keterlaluan. "Maafkan aku, Bell ... aku tidak bermaksud," ucap Aaron.
***
Akhirnya Bella pulang bersama Aaron setelah keduanya membayar belanjaannya masing-masing. Disepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Aaron yang berjalan di belakang Bella hanya bisa memandangi punggung wanita itu. Sedangkan kedua tangannya digunakan untuk menggenggam kantong plastik belanjannya dan juga milik Bella. Sampai keduanya berhenti di depan sebuah pintu, Bella memasukkan kata kunci yang sudah dia hafal di luar kepalanya, lalu membuka pintu itu lebar-lebar agar pria di belakangnya bisa masuk terlebih dahulu.
Keadaan apartemen saat itu sangat sepi, tidak biasanya keadaannya sesepi ini, lalu wanita itu berjalan menuju dapur. Ketika Bella sudah berada di sana, tubuh wanita itu menegang menyaksikan pemandangan yang membuatnya tak menentu--antara marah, kesal, sedih, kecewa yang disatukan dalam satu wadah. Pria yang semalam melamarnya untuk untuk menjadi pendampingnya kini tengah bersama seorang wanita. Wanita yang sama yang dia temui di waktu yang berbeda.
Lucas maupun wanita itu tidak menyadari kedatangan Bella ataupun Aaron. Sampai mata Bella terbelelak melihat apa yang dilakukan oleh Lucas dan wanita yang bernama Kimber, di depan matanya, Kimber menyuapkan nasi goreng ke dalam mulut kekasihnya dan pria itu menerimanya tanpa menolak suapannya.
"Enak'kan?" tanya Kimber meminta pendapat dari Lucas.
Lucas tersenyum karena nasi goreng yang dia makan tidak seburuk yang dia kira, malah terasa pas di lidahnya.
"Lunayan," jawabnya, lalu mengambil sendok itu dari tangan Kimber.
Bella terus melihat adegan yang membuat hatinya sakit, namun dia sekuat tenaga untuk menahan air matanya supaya tidak keluar, lalu melangkah mendekati dua insan itu.
"Hai ... ada tamu ternyata? Wow ... nasi goreng," ucap Bella setelah dia sudah berada di belakang keduanya. Bella sengaja merangkul Lucas dari belakang lalu mengambil sending yang tengah dipegang pria itu. "Aku coba ya?" lanjutnnya sembari menyendokkan satu sendokkan penuh ke dalam mulutnya.
Pantas saja Lucas mau memakan makanan wanita itu karena rasa nasi gorengnya sangat enak dan Bella harus mengakunya. Ya, karena Bella tidak bisa memasak.
"Aku bisa memasakkannya lagi kalau kau mau," ucap Kimber.
Kimber beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah menuju dapur, dia membuka lemari pendingin mengecek bahan yang dia perlukan, tapi dia sama sekali tidak menemukan apa yang dibutuhkan.
"Apa kau mencari ini?" ucap seseorang dari arah belakang.
Tubuh Kimber menegang, lalu membalikkan tubuhnya ke arah belakang. Di sana sudah berdiri seseorang yang sangat dikenalinya. "A-aron sedang apa kau di sini?" cicitnya yang hanya bisa didengar oleh keduanya.
Pria itu tersenyum lebar, lalu memberikan kantong plastik milik Bella ke tangan wanita itu. "Kukira kau akan membutuhkan ini, Kim," Aaron melangkan mendekati Kimber. "Kau bertanya sedangapa aku di sini? Tentu saja sama sepertimu dan kau hebat, Kim, awal yang bagus." Aaron berbalik menjauhi Kimber yang mematung mendengar ucapan darinya.
***
Bella menatap tak suka ke arah Kimber, karena wanita itu selalu ingin dekat dengan Lucas, dan anehnya Lucas tidak merasa terganggu. Karena dia merasa diacuhkan, Bella pun mendekati Aaron yang sejak tadi hanya diam menikmati masakan yang tadi dibuat oleh Kimber.
"A, boleh akun mencobanya?" ucap Bella langsung menyambar piring di hadapan pria itu.
"Lumayan, tapi aku tidak suka pedas dan kenapa milikmu pesan banget? Perasaan makanan kita sama," ucap Bella heran Karena mulutnya benar-benar terbakar setelah memakan makanan pria itu.
Aaron tersenyum simpul, dan Bella bisa melihat bibir pria itu sangat merah dari biasanya.
Tanpa sepengatahuan Aaron maupun Bella, Kimber menatap keduanya yang terlihat dekat dengan sorot mata tak suka. Ya, dia mengaku jika dialah yang menaruh banyak sambal di makanan pria itu. Entahlah, motif dia apa yang jelas dia ingin member pelajaran untuk pria itu.
Sedangkan Lucas, dia seperti orang yang terbakar jenggotnya. Menatap keduanya nyalang lalu berdiri menghampiri Bella. Diseretnya wanita itu ke dalam ruangan lain.
"Apa kau ingin membuatku cemburu, huh?" ucap Lucas menghimpit tubuh Bella.
Bella tersenyum lalu menatap pria itu. "Dan kau juga ingin membuatku cemburu, hem?" ulang Bella menantang.
Lucas semakin menghimpit tubuh Bella di dinding, tangan yang tadi digunakan untuk mencengkeran lengan wanita itu kini telah berada di kedua sisi pingganya.
"Dan ya aku sangat cemburu, Bella! Oh tuhan! Bisa saja aku menghajar temanku itu saat ini juga!" geram Lucas sembari mendaratkan bibirnya di atas bibir ranum Bella.