
14. Bella Menghilang
Entah apa yang harus dirasakan oleh Lucas setelah mendengar persetujuan dari wanita itu. Ia bingung harus bersikap seperti apa, senang atau sebaliknya. Karena menurutnya kedua-duanya bagaikan buah si kamalaka, jika kau memilih salah satunya kau akan celaka begitu pun jika kau tidak memilih keduanya kau pun tetap akan celaka pula, sulit memang, namun mengingat perkataan Bibinya membuatnya ia sadar, apa yang tengah dilakukannya adalah untuk kebaikkan semuanya. Dan itu cukup ampah menjadi mantra di dalam hatinya ketika ia ragu atau ingin mundur dari ini semua.
Kimber masih menatapnya, ia seolah menunggu respon dari pria itu, menanggapi persetujuannya, namun sampai detik ini pun bibir tipis milik Lucas masih bungkam, sedangkan kedua bola matanya tampak sayu menatap ke bawah di mana lampu-lampu terlihat indah di malam hari.
"Apa kau tidak akan mengatakan sesuatu?" Kimber sedikit bosan kerena keheningan menyelubungi mereka, dengan menekan rasa malunya ia mencoba memecah kesunyian.
Lucas menolehkan kepalanya ke arah Kimber, masih dengan tatapan sayu ia melangkah beberapa langkah, lantas menjulurkan tangan ke hadapan Kimber. "Selamat sebentar lagi kau akan menjadi istriku."
Kimber membelalakkan matanya, ia tidak menyangka jika respon Lucas akan seperti itu. Sebenarnya apa yang ingin diharapkannya jika pernikahan itu bukanlah sungguhan. Dan seharusnya Kimber lebih mengetahuinya sejak awal, bukannya mengharapkan yang tidak-tidak seperti halnya yang terjadi pada pasangan normal yang akan bahagia jika pasangannya menyetujui lamarannya. Tak terasa rasa sakit mulai ia rasakan, dan itu cukup membuatnya bungkam kembali.
Kimber masih diam di tempatnya. Ia hanya menatap uluran tangan Lucas yang sejak beberapa detik tadi ada di hadapannya.
"Apa kau tak ingin menjabat tanganku?" tanya Lucas. Ia masih terus menatap wajahku dengan mata sayunya. Entahlah, mata itu terlihat rapuh.
Pada akhirnya Kimber mau tak mau menyambut uluran tangan Lucas dengan berat hati, dan luca di hatinya bertambah dua kali lipat dari sebelumnya.
***
Bella menyelinap masuk ke kamar Lucas, ketika ia tahu pria itu telah kembali. Ia menemukan Lucas tengah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Dengan perlahan ia pun berbaring di samping ranjang yang kosong, membuat pria itu terkesiap kaget karena tidak tahu jika Bella sudah berada di sampingnya.
Senyuman jahil tersungging dari bibir ranum milik Bella, dan Lucas ingin ******* bibir yang telah menjadi candunya.
"Apa kau ingin membuatku mati karena kaget, huh," ucap Lucas. Ia menghadap ke arah Bella.
Lagi-lagi tawa renyah meluncur dari bibir wanita itu, membuat Lucas tak mampu untuk tidak mengecup singkat bibir Bella. Seketika tawa renyah itu hilang tak berbekas menyisakan deru napas keduanya yang saling besahutan seolah tengan melakukan aktivitas berat.
"Aku merindukannya," Lucas menggeran, entah untuk apa, namun wanita itu dapan mengartikannya.
"Maka milikku aku sekarang," Bella mendekatkan bibirnya kembali ke arah Lucas, namun sebelum itu terjadi pria itu dengan halus menolak keinginannya.
"Aku tidak bisa. Maafkan aku," ucap Lucas. Ia tampak kacau melihat air mata meluncur dari mata wanita yang dicintainya.
"Apa kau tidak menginginkanku lagi? Mencintaiku?" Bella terisak sepeti orang bodoh, dan yang lebih bodohnya ia masih berada di atas ranjang itu ketika Lucas turun menjahuinya.
"Maafkan aku, tapi besok aku akan menikah dan aku tidak akan mengkhianati Kimber." Lucas meringis mendengar kebohongannya sendiri.
Bella benar-benar tak mengerti dengan perubahan drastic pria yang dicintainya. Baru saja kemarin mereka masih mengumbar kemesraannya dan kini ia sama sekali tidak mengenal sosok pria di depannya.
"Apa kau benar-benar menginginkannya?" Bella bertanya, lalu mendekati pria itu.
"Ya, aku menginginkannya." Lucas mengucapkannya begitu datar.
"Kau bohong, karena kau tidak mencintainya," sangkal Bella yang kini menghambur ke dalam pelukkan pria itu.
Lucas ingin sekali mendekapnya erat, namun sesuatu di dalam kepalanya melarang keras, "Aku tidak bohong, karena aku akan menikahinya. Kalau soal cinta, aku yakin cinta akan dengan seiringnya." Lucas benar-benar seperti bukan dirinya lagi.
***
Air mata Bella masih menggenang di pelupuk matanya, namun ia enggan untuk menagisi nasibnya lebih dari ini. Tekatnya sudah bulat, dan hari ini juga ia akan meninggalkan apartemn ini lebih tepatnya kota ini. Ya, ia ingin lari dari kepahitan yang kini tengah dirasakannya.
Tengan tangan yang mesih begat ia mengambil benda persegi panjang dari atas tempat tidurnya, mendeal nomer yang sudah ada di memori handphonenya, "Aku membutuhkan tiket itu," ucapnya, air matanya tetap keluar walau ia berulang kali menghapusnya.
"...."
"Ya, aku segera ke Bandara." Bella menutup teleponnya lalu bergegas mengambil kopernya dari dalam lemari.
Bella memasukkan pakaian yang benar-benar ia butuhkan dan sebagian besarnya ia tinggalkan di lemari itu. Dengan isakan yang lolos dari bibirnya ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamarnya, karena ia tahu kamar itu akan kosong setelah ditinggalkan olehnya.
Ia mencincing kopernya karena tidak mau jika ia menarik koper itu suara roda yang bergesekan dengan lantai membangunkan seisi apartemnya. Ya, ia tahu Lucas maupun Bibi Mandy pasti telah tidur pulas, toh sekarang pukul 3 pagi, dan lagi-lagi tangisan pilunya tak dapat dicegahnya kembali. Ia membekap melutnya sendiri untuk meredam suara tangisan itu.
"Selamat tinggal," ucapnya ketika ia sudah berhasil keluar dari aparteman itu.
***
Pagi yang terasa lebih dingin dari hari sebelumnya, membuat semua orang enggan untuk keluar dari rasa hangat selimut tebal yang mereka gunakan. Begitu pula dengan Lucas, pria itu tampak malas untuk memulai aktivitanny. Ya, hari libur telah usaidan dia harus kembali ke Kampus. Lebih tepatnya untuk meminta cuti karena besok hari pernikahannya. Dengan malas ia pun merangkak turun dari ranjangnya menuju kamar mandi, memulai aktivitas paginya terlebih dahulu sebelum ia berangkat ke tempat tujuannya.
Setelah ia selesai dengan aktivitasnya, ia pun turun ke bawah tepatnya ke dapur. Di sana Bibi Mandy terlihat sedang menyiapkan sarapan. Tiga gelas berisi susu dan tiga piring berisi panchake dengan sirup maple.
Lucas tersenyum ketika wanita paruh baya itu berbalik menatapnya, lalu menyuruhnya untuk duduk.
"Di mana Bella?" tanya wanita itu ketida dirinya tidak menemulkannya di mana pun.
"Kurasa dia masih tidur, Bibi," Lucas menjawabnya karena ia tahu kebiasaan buruk wanita yang dicintainya.
"Tapi dia tidak ada di kamar, Bibi baru saja ke sana," Bibi Mandy memandang wajah Lucas khawatir.
Lucas mengerutkan keningnya lalu beranjak untuk mengecek Bella di kamarnya, bukan ia tidak percaya dengan perkataan Bibinya, namun ia hanya penasaran saja jika tidak melihatnya dengan kepalanya sendiri.
Setibanya Lucas di kamar itu, ia mengernyitkan keningnya melihat tempat tidur Bella. Itu tampak seperti tidak pernah ditiduri oleh seseorang. Lalu melangkah lebih dalam ke dalam kamar mandi, di sana pun kosong sampai pikiran buruk mulai menggelayut merasukinya dengan terburu ia membuka lemari pakaian Bella, namun di sana pakainnya tampak masih ada. Lagi-lagi perasaan yang tak enak mulai membuatnya kalut ketika ia menemukan koper yang seharusnya ada kini sudak tak di tempatnya. Wajah Lucah memucat, dengan langkah lebar ia keluar dari kamar itu menuju dapur.
Di sana Bibi Mandy tampak sedang menikmati sarapannya, sampai ia melihat ekspresi Lucas membuatnya berhenti memasukkan potongan kecil panchake ke mulutnya.
"Kau menemukannya?" Bibi Mandy bertanya.
Lucas menggeleng lalu berlari ke arah luar di ikuti wanita paruh baya itu.
"Bella sebenarnya kau ke mana?" ucap Lucas dalam hati.
Kimber akan mengajak keluarganya ke tempat Lucas, namun langkahnya terhenti ketika ia melihat wajah pria itu tampak pucat dan cemas. Di belakang pria itu ada Bibi Mandy, ia berhenti untuk menatapnya, namun setelah itu Bibi Mandy mengekor di belakang Lucas kembali.
"Sebenarnya ada apa?" pikir Kimber dalam hati.