
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Kesucian Syahadat
Dahsyatnya SHOLAWAT
Angkringan Cinta
Kopi Paste
Ketabahan Aisyah
Amanah Terindah
Kalam Hikmah
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
Hanya terdengar suara rintihan nikmat karena puas dan rindu menjadi satu. Cukuplah hanya mereka yang tahu dan yang bisa menikmati. Tak perlu berbagi jika hanya membuat dosa bagi yang lain.
Itulah kehidupan memang seperti roda uang berputar terus menerus. Semakin dikayuh maka putarannya pun semakin cepat dan semakin kuat. Tapi bila mengayuh dengan santai maka putarannya pun santai dan terlihat tenang.
Sama seperti orang yang mendapatkan hidayah dan kemudian berhijrah. Ada orang yang sudah niat untuk menjadi baik namun Allah SWT belum meridhoi masih ada ujian dan cobaan untuk orang tersebut yang membuat orang tersebut pun staf berhenti mencari kebaikan, pasrah dengan keadaan. Seharusnya jadikan ujian dan cobaan itu sesuatu yang harus bisa dilewati dengan iman yang kokoh sehingga level kehidupan dan keimanan kita pun akan naik satu level diatasnya.
Berhijrah itu mudah, apalagi berhijrah yang selalu diumbar karena menginginkan suatu pujian bukan niat dari hati dan bukan karena Allah SWT yang menjadi tujuan hidupnya. Hanya ingin sebuah pengakuan dalam masyarakat, hanya ingin terlihat baik dan berpura-pura baik. Yang seperti inilah Allah SWT akan memberikan ujian dan cobaan, sampai dimana kamu kuat, sampai dimana kamu bertahan, sampai dimana kamu sabar, sampai dimana kamu ikhlas.
Rumah tangga pun seperti itu, bukan hanya enak saja yang kita rasakan. Pahit dalam berkeluarga pun harus kita rasakan, anggap saja itu obat untuk kesembuhan hati kita agar senantiasa bersih dan dijauhkan dari kesombongan dan keirian.
Begitupun kisah Rendy dan Sofi ini menjadikan kita semangat untuk menjadikan keluarga kita lebih sakinah, mawadah dan warahmah. Meningkatkan keromantisan dan kehangatan dalam keluarga.
Tiga Bulan Kemudian ...
Setelah kejadian buruk menimpa keluarga kecil Rendy dan Sofi. Kini mereka pun sedang berbahagia menunggu kelahiran sang buah hati.
Cinta mereka semakin kuat dan utuh. Begitu juga dengan iman mereka yang semakin dipupuk hingga kokoh.
Saat ini Rendy dan Sofi sudah kembali ke rumahnya di kota K. Kehidupannya kini lebih baik. Keluarga Sofi pun diboyong ke rumah Sofi yang sederhana itu. Tentu itu semua permintaan Rendy yang menginginkan kebersamaan.
Saat ini keluarga Sofi pun sudah menjadi muslim. Mereka sekeluarga bertekad berhijrah dan hidup bersama Sofi di kota K untuk memperdalam ilmu agama Islam. Semua hartanya dijual dan sebagian disedekahkan dan sebagian ditabung untuk masa tua nanti.
Acara syukuran tujuh bulanan Sofi sudah dilakukan di villa. Sekalian penentuan tanggal pernikahan untuk Kang Tatang dan Asmah. Kisah cinta mereka yang sedikit rumit di masa SMA dulu. Kamu sudah jodoh tidak akan pernah kemana, ke ujung dunia pun pasti akan dipertemukan kembali.
Tidurnya pun harus dalam keadaan miring dan sesekali terasa mulas dan perutnya seperti kencang. Tendangan kedua anaknya pun semakin kuat dan terlihat pada perut Sofi yang terlihat menonjol dibagikan yang ditendang.
Sungguh besar kuasa Allah SWT memberikan dua anak sekaligus. Jenis kelaminnya memang dirahasiakan agar menjadi kejutan bagi Rendy dan Sofi.
Malam itu semua keluarga berkumpul di taman samping rumah. Rendy yang duduk di sebelah Sofi. Ada Umi, Abah, Mama dan Bapak. Lalu Kedua adik Sofi dan Rendy yang tampak akrab membakar sosis di pemanggangan. Kang Tatang dan Asmah yang sibuk menyiapkan makan malam untuk keluarga ini.
Malam ini adalah syukuran Anniversary satu tahun pernikahan Rendy dan Sofi. Mereka mengadakan acara makan malam bersama di rumah karena Sofi sudah tidak sanggup berpergian jauh atau berjalan yang cukup lama.
Tubuhnya mudah lemas dan lelah. Walaupun kondisi kandungan Sofi bagus dan bisa melahirkan secara normal.
Rendy dan Sofi selalu memanjatkan doa terbaik untuk kelancaran persalinan dan keselamatan bagi ibu dan kedua anaknya. Semoga selamat dan dilahirkan dengan kesempurnaan tanpa ada kurang satu apapun.
"Fi ... Aku ambilkan makan mau?" tanya Rendy lembut.
"Iya Mas. Tapi duduk di sofa ya. Fi mau senderan, pinggang Fi sakit." ucap Sofi terlihat lemas dan lesu.
"Kamu kok pucat Fi? Kamu sakit?" tanya Rendy pelan sambil memapah Sofi ke sofa empuk di ruang keluarga.
"Sejak tadi mulas Mas. Makin sering, perut rasanya kayak diremas-remas." ucapnya lirih dan meringis menahan sakit.
"Jangan-jangan kamu mau lahiran Fi." ucap Rendy panik dan cemas.
Rendy pun memanggil Asmah dengan keras. Asmah pun langsung menghampiri Sofi dan memeriksa keadaan sahabatnya itu.
"Fi ... kita ke bidan ya. Ini kayaknya mau lahiran. Rendy siapkan semua keperluan istrimu." ucap Asmah menitah.
Seketika semua berubah riuh mendengar Sofi akan melahirkan. Semua panik, semua cemas menanti anak, keponakan dan cucu pertama mereka. Segala keperluan dan kebutuhan Sofi pun dibawa. Satu tas pakaian bayi yang sudah dipersiapkan Sofi bila hari persalinan itu datang, tinggal dibawa. Satu tas pakaian berisi pakaian ganti Sofi dan kain panjang untuk persalinan.
Mereka membawa Sofi ke bidan langganan Sofi biasa memeriksakan kandungannya. Praktek Rumah bidan itu sudah ada sejak lama, diperuntukkan untuk persalinan normal saja.
Sofi sudah berada di ruang persalinan. Kedua kakinya sudah ditekuk diatas kasur. Bidan pun memeriksa jalur lahir sudah pembukaan berapa. Jalur lahir itu sudah licin karena lendir dan darah yang sudah keluar namun pembukaannya belum lengkap, masih harus menunggu walaupun kepala bayi sudah berada di bawah.
"Tarik nafas ya Bu, keluarkan pelan lewat mulut. Jangan mengejan dulu tinggal sedikit lagi pembukaannya lengkap. Apa mau jalan-jalan dulu biar pembukaannya cepat terbuka." ucap Bidan itu lembut mengusap kepala Sofi dan perut Sofi secara bersamaan.
Sofi pun menggelengkan kepalanya. Rasanya sudah lemas dan tidak berdaya ditambah rasa sakit di sekitar perut bawah dan mulas yang semakin terasa menyesal ke ulu hati.
"Saya tinggal dulu. Mungkin setengah jam lagi saya cek. Nikmati Bu yang ikhlas." ucap Bidan itu pelan dan tersenyum.
Nikmat melahirkan dan proses akan melahirkan itu sungguh luar biasa. Bahkan nikmatnya tidak ada duanya. Rasa sakit hilang menanti kelahiran bayi yang sudah ditunggu selama sembilan bulan.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
Ditunggu ya ...
Terima Kasih ....