
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Kesucian Syahadat
Dahsyatnya SHOLAWAT
Angkringan Cinta
Kopi Paste
Ketabahan Aisyah
Amanah Terindah
Kalam Hikmah
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
Pagi ini semua terasa terburu buru dan panik. Rendy dan Sofi pun akan bersiap menuju pesantren dimana kedua anak kembarnya menimba ilmu agama.
Setelah shubuh, Pak Kiyai Mansyur sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al Ikhlas pun menelepon Rendy dan Sofi untuk memberitahukan kepada orang tua atas nama murid yang bernama Bulan.
Menurut Pak Kiyai Mansyur, Bulan dengan sengaja cabut untuk kabur melarikan diri dari Ponpes saat dibangunkan ketika akan sholat shubuh berjamaah.
Bulan berpura-pura sedang mendapatkan tamu bulanan untuk menghindari sholat shubuh berjamaah karena tidurnya terganggu.
Mendengar ucapan dan informasi dari Pak Kiyai Mansyur, Rendy dan Sofi hanya bisa mengelus dada atas perbuatan anak perempuannya.
"Anak itu kenapa sulit sekali Fi." ucap Rendy dengan gusar dan cemas.
Sofi yang duduk disebelah Rendy pun hanya bisa mengelus pelan lengan Rendy yang masih kokoh dan kekar.
"Itulah Mas kalau tadinya terlalu dimanjakan jadi gak bisa mandiri." ucap Sofi pelan.
Memang benar, Bulan itu lebih banyak yang menyayangi dari pada Bintang, alasannya karena Bulan perempuan jadi perlu dijaga dan dituruti kemauannya. Tapi cara mendidik anak seperti itu adalah cara yang salah. Seharusnya anak itu mulai dilepas sejak dini, dan diberi tanggung jawab sesuai dengan tingkat umurnya.
Misalnya saja, umur tiga atau empat tahun biasanya usia anak sedang menirukan kedua orangtuanya, maka dari itu ajarkan secara visual hal hal yang baik, seperti, ikut beribadah sholat dan berwudhu.
Mereka akan terus mencontoh kedua orangtuanya hingga dewasa nanti. Sebaik-baiknya ilmu yang didapat tentu pengaruh keluarga dan lingkungan sekitar memiliki dampak terbesar untuk pertumbuhan anak.
"Aku telah gagal mendidik anak perempuanmu satu-satunya Fi." ucap Rendy dengan panik.
"Sudah Mas, kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Bulan." ucap Sofi pelan, hatinya sudah pasrah kepada anaknya itu.
"Kamu tahu kan Fi, keinginanku itu apa?!" ucap Rendy geram.
"Mas Rendy, kita tidak bisa memaksakan kehendak kita terhadap Bulan. Dia itu masih tiga belas tahun. Mungkin hidayah belum turun kepadanya." ucap Sofi menengahi.
Rendy mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dengan kasar. Hidupnya baru saja akan tenang dan nyaman, namun anak perempuannya sudah membuat ulah lagi.
"Kamu harus percaya, Bulan itu anak baik dan penurut, hanya saja Bulan masih mencari jati dirinya. Bulan tidak ingin dibandingkan dengan Bintang." ucap Sofi lembut.
"Baiklah, kali ini aku akan menuruti kamu Sayang. Aku tahu Bulan itu lebih dekat dengan kamu, tentu saja kamu akan tahu segala hal tentang Bulan." ucap Rendy menimpali.
"Kamu itu terlalu sibuk sayang, hingga waktumu habis untuk memperluas usahamu dan kegiatan majelis yang kamu ikuti." ucap Sofi lembut sambil menjawil pipi suaminya dengan penuh kasih sayang.
Perjalanan menuju kota G dimana Bulan dan Bintang sedang menimba ilmu agama itu pun berjalan dengan lancar tanpa hambatan.
Sesekali Sofi dan Rendy melihat pemandangan indah dari kaca jendela mobil. Perjalanan jauh seperti itu, Rendy pun membawa supir. Lebih tepatnya Rendy ingin menikmati perjalanan duduk di belakang bersama istri tercintanya.
Mobil pun sudah masuk ke halaman Pondok Pesantren Al Ikhlas di Kota G setelah menempuh empat jam perjalanan. Sofi dan Rendy pun turun dari mobilnya dan masuk ke dalam Ponpes untuk menemui Pak Kyai Mansyur pengasuh ponpes ini.
Seorang Asisten Pak Kyai Mansyur pun menyambut kedatangan Rendy dan Sofi dan mereka diantar langsung ke pendopo milik Pak Kiyai Mansyur.
Rendy duduk bersila menghadap ke depan, sedangkan Sofi duduk diatas amben yang ada di pinggiran teras pendopo itu.
Istri Pak Kiyai Mansyur pun keluar dari dalam pendopo sambil membawa minuman dan beberapa makanan khas Kota G.
Sofi pun berdiri dan menyalami Bu Siti, istri Kyai Mansyur.
Rendy pun hanya menundukkan kepala dan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.
Tidak lama kemudian, Pak Kiyai Mansyur pun keluar dan menemui Rendy serta Sofi.
"Gimana kabarnya Kyai?!" tanya Rendy pelan.
"Baik Pak Rendy. Langsung saja kita membicarakan intinya, mengenai anakmu, Bulan Az-Zahra. Dia anak yang baik, tapi wataknya keras dan tidak mau diatur." ucap Kiyai Mansyur pelan.
"Saya harus bagaimana Kiyai?! Saya juga sudah pasrah dengan kelakuan putri saya. Saya hanya ingin Bulan itu menjadi anak sholehah." ucap Rendy pelan dan tegas.
"Ada satu muridku, keluarganya adalah donatur tetap di Ponpes ini. Dia ingin menjalani ta'aruf dengan santri disini, dan dia memilih Bulan sebagai perempuan yang akan diajak ta'aruf. Kira-kira bagaimana?! Keputusan ada pada kalian Pak Rendy dan Bu Sofi." ucap Kyai Mansyur dengan mantap.
"Boleh saya mengenalnya Kiyai?!" tanya Rendy pelan.
"Oh ....tentu saja Pak Rendy. Kita akan pertemukan kalian dengan pria itu dan keluarganya." ucap Kiyai Mansyur pelan.
"Tapi Pak Kiyai ... Bulan itu baru berusia jalan empat belas tahun, apa tidak terlalu muda untuk ta'aruf." ucap Rendy pelan. Sejujurnya Rendy belum paham tentang ta'aruf, karena ini mungkin jalan terbaik untuk Bulan.
"Pria ini usianya baru delapan belas tahun. Dan siap membimbing Bulan dan menunggu Bulan sampai menggapai cita-citanya." ucap Kiyai Mansyur pelan.
"Baiklah ... Saya ingin bertemu dengan keluarganya dan berbicara tentang hal ini. Lalu dimana Bulan sekarang?!" tanya Rendy pelan.
"Bintang sedang mengajak Bulan untuk berkeliling area Ponpes ini. Situasi disini berbeda dengan di rumahnya. Bintang dengan cepat beradaptasi, tapi Bulan bukan wanita yang mudah menerima sesuatu hal dengan cepat." ucap Kiyai Mansyur pelan.
"Maka dari itu, saya membawa Bulan kesini, agar dapat belajar lebih baik lagi tentang ilmu agama Islam." ucap Rendy pelan.
Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tidak ada orang tua yang menjatuhkan anaknya ke jurang yang dalam.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
Ditunggu ya ...
Terima Kasih ....