Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 54 JANGAN PEDULIKAN APA KATA ORANG TENTANG KITA



SELAMAT MEMBACA


💚💚💚💚💚


Sofi dan Umi memasuki rumah menuju kamar masing-masing.


"Umi, Sofi istirahat dulu, nanti setelah ashar, Sofi ikut Umi ke tambak ikan dibelakang." ucap Sofi pelan.


"Iya Fi, Umi juga mau rebahan sebentar, badan Umi pegel." ucap Umi pelan sambil membuka pintu kamarnya.


Mereka masuk ke dalam kamar masing-masing. Sofi bahkan tidak sadar ada suaminya yang sedang tertidur nyenyak di kasur empuknya.


Rendy yang sejak tadi sudah terbangun karena suara berisik antara istri dan Uminya yang baru saja datang dari bepergiannya.


Sofi pun melenggang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti baju. Langkahnya terhenti melihat ada seseorang yang tidur di kasurnya tanpa ijin.


Seperti tahu dengan keterkejutan Sofi , Rendy pun membalikkan badannya dan mengagetkan Sofi yang masih mematung di dekat meja.


"Hayoo... ini aku sayang, suamimu? Kamu gak amnesia kan sayang?" ucap Rendy pelan.


Rendy pun bangun dan mendudukkan dirinya bersandar pada ranjangnya.


"Mas, ini beneran kamu? kamu pulang Mas?" tanya Sofi pelan.


"Kenapa Fi, kamu gak suka?" tanya Rendy pelan.


"Bukan begitu Mas, pekerjaanmu bagaimana?" ucap Sofi duduk di tepi ranjang.


"Maafkan Mas ya Fi, Mas resign, ada Ronal disana membuat Mas tidak nyaman." ucap Rendy pelan sambil memegang tangan Sofi lembut.


"Tapi kamu kan, pimpinan cabang Mas, ini karir yang kami impikan." tanya Sofi pelan.


"Lalu? apa kita bahagia dengan karir saja. Kalau tidak nyaman, aku harus pura pura bahagia?" ucap Rendy menegaskan.


"Kamu tidak membicarakan hal ini sama aku? kenapa?" tanya Sofi semakin kecewa dengan keputusan Rendy.


"Bukankah ini keinginanmu juga Fi? kemarin kamu yang menginginkan ini semua, sekarang aku turuti kamu malah menyalahkan ku. Kamu itu maninya gimana Fi?" tanya Rendy dengan tenang.


Emosi Rendy masih stabil, dulu Rendy sering sekali berdebat dengan Sofi, jadi Rendy sudah hafal betul dengan karakter Sofi yang suka memberondong pertanyaan agar lawan kalah.


Sofi hanya menghela nafas dengan panjang, perlahan dikeluarkan.


"Aku hanya kaget Mas. Memang aku lebih senang kamu berada disini, jika kamu ingin bekerja cari disini saja, biar kita selalu bersama." ucap Sofi pelan.


"Yakin hanya itu alasanmu?"tanya Rendy menyelidik.


"Lalu kamu menginginkan aku menjawab apa?" tanya Sofi pelan.


Sofi kurang paham dengan godaan-godaan Rendy yang sedikit fulgar.


"Ya bilang gak bisa jauh dari aku dan tubuhku." ucap Rendy sekenanya.


"Dasar suami mesum!!!" teriak Sofi sambil melempar bantal ke arah Rendy.


"Hahah.. Sofi.. kamu itu lucu, makanya aku sering kangen sama kelakuan kamu yang apa adanya ini." ucap Rendy pelan.


"Kamu itu paling pintar merayu." ucap Sofi pelan.


"Fi, kamu bahagia kan menikah sama Mas?" tanya Rendy pelan.


"Kamu kenapa Mas? kok pertanyaannya begitu." tanya Sofi pelan.


"Ya, Mas takut kamu gak bahagia sayang." ucap Rendy mengecup punggung tangan Sofi dengan lembut.


"Mas, ini hidup kita, kita berdua yang menjalani. Jangan pedulikan orang lain." ucap Sofi pelan.


*SAWANG SINAWANG


Aku melihat hidup orang lain begitu nikmat, Ternyata ia hanya menutupi kekurangannya tanpa berkeluh kesah.


Aku melihat hidup teman2ku tak ada duka dan kepedihan, Ternyata ia hanya pandai menutupi dengan mensyukuri.


Aku melihat hidup saudaraku tenang tanpa ujian, Ternyata ia begitu menikmati badai ujian dlm kehidupannya.


Aku melihat hidup sahabatku begitu sempurna,Ternyata ia hanya berbahagia "menjadi apa adanya".


Ternyata ia selalu tunduk pada Allah untuk bergantung.


Maka aku merasa tidak perlu iri hati dengan rejeki orang lain. Mungkin aku tak tahu dimana rejekiku. Tapi rejekiku tahu dimana diriku.


Dari lautan biru, bumi dan gunung, Tuhan telah memerintahkannya menuju kepadaku.


Tuhan yang Maha pengasih menjamin rejekiku, sejak 9 bulan 10 hari aku dalam kandungan ibuku.


Amatlah keliru bila berkeyakinan rejeki dimaknai dari hasil bekerja.. Karena bekerja adalah ibadah, sedang rejeki itu urusan-Nya.


Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijamin-Nya, adalah kekeliruan berganda.


Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan ditinggal mati.


Mereka lupa bahwa hakekat rejeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang telah dinikmatinya.


Rejeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, sang Pencipta menaruh berkat sekehendak-Nya.


Ikhtiar itu perbuatan.


Rejeki itu kejutan.


Dan yang tidak boleh dilupakan, tiap hakekat rejeki akan ditanya kelak.


"Darimana dan digunakan untuk apa" Karena rejeki hanyalah "Hak Pakai", bukan "Hak Milik*".


💚💚💚💚💚


NASEHATI DIRIKU


(Insya Allah jangan bosan meski nasehat ini di ulang ulang, karena manusia tempatnya lupa dan salah 🙏 Syarif Al-Jufri)


Yang sedikit itu...


ISTRI


Yang tunduk patuh pd suami, senantiasa berseri saat dipandang, yang ridho terdiam saat suami marah, tidak merasa lebih apalagi meninggikan suara, tercantik di hadapan suami, terharum saat menemani suami beristirahat, tak menuntut keduniaan yang tak mampu diberikan suaminya, yang sadar bahwa ridho-Nya ada pada ridho suaminya.


SUAMI


Yang mengerti bahwa istrinya bkn pembantu, yang sadar tak melulu ingin dilayani, yang malu jika menyuruh ini itu karena tahu istrinya sudah repot seharian urusan anak dan rumah, yang tak berharap keadaan rumah lapang saat pulang karena sadar itulah resiko hadirnya amanah amanah yang masih kecil, yg sadar dan rela mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena rasa sayangnya terhadap istrinya yang kelelahan.


ANAK LELAKI


Yang tahu bahwa ibunya yang paling berhak atas dirinya, yang mengutamakan dan memperhatikan urusan ibunya, yang lbh mencintai ibunya dibanding mencintai istri dan anaknya, yang sadar bahwa surganya ada pada keridhoan ibunya.


ORANG TUA/MERTUA


Yang sadar bahwa anak perempuannya jika menikah sudah bukan lagi miliknya, yang selalu menasehati untuk mentaati suaminya selama suaminya tak menyuruhnya pada perkara munkar, yang sadar bahwa keridhoan Allah SWT bagi anaknya telah berpindah pada ridho suaminya


IBU


Yang meskipun tahu surga berada di bawah telapak kakinya, tapi tidak pernah sekalipun menyinggung hal tersebut saat anaknya ada kelalaian terhadapnya, yang selalu sadar bahwa mungkin segala kekurangan pada anaknya adalah hasil didikannya yang salah selama ini, yang sadar bahwa jika dirinya salah berucap maka malaikat akan mengijabah do'anya, karena itu dia akan berhati hati dalam menjaga lisannya dari berkata buruk pada anaknya.


ANAK


Yang senantiasa mendoakan orangtuanya dalam keheningan sepertiga malam terakhir, meskipun sudah capek seharian dalam kesibukannya, rumah tangganya, pekerjaannya.


ORANG-ORANG


Yang saling memberi nasehat dalam kebenaran dan kesabaran, saling memaklumi jika hal hal diatas lupa dilakukan, tetapi kita bisa saling memaafkan dengan begitu Insya Allah, Allah SWT dengan kemurahanNya memaafkan segala kesalahan kita.


Semoga yang sedikit ini kan menjadi banyak hingga dunia ini dipenuhi manusia manusia yang peduli, penuh cinta dan kesadaran.


Wallahu a'lam insya alloh bermanfaat...❤


--------------------------


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚