
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Mereka berdua terdiam, dan mengerjapkan kedua matanya untuk memastikan apa yang mereka lihat itu sebuah kebenaran. Fakta yang terungkap dengan sendirinya tanpa harus mencari bukti yang kuat untuk memutuskan pertunangan ini.
Dan bunyi desahan itu? sudah pasti pemilik keduanya. Sofi dan Rendy datang tepat waktu, Allah SWT telah menunjukkan suatu kebenaran dari pria yang telah mendzolimi keluarga Sofi.
"Mas Rendy, itu benar Ronal. Kamu gak salah lihat. Dia memang Ronal." ucap Sofi terbata bata. Sofi benar benar shock melihat kedua pria itu keluar dari ruangan secara bersamaan dan terlihat mesra.
Kedua pria itu melihat ke arah sofa penunggu khusus tamu. Salah satunya tersenyum kepada kami, dan yang satunya melengos dengan tatapan kejam seakan akan ingin membunuh karena kartu ASnya telah diketahui.
"Rendy hai, kemana aja? ini calon istrinya. Wah cocok, serasi. Betul kan Rey?" ucap Candra kepada Ronal sambil mengedipkan satu matanya. Suaranya yang gemulai seperti perempuan membuat lelaki yang seharusnya tulen itu terlihat manja dan sedikit kaku.
"Hai Candra, berubah sekarang ya. Kenalkan ini Sofi, istri saya. Kami sudah menikah beberapa Minggu yang lalu dan Minggu depan kami ingin membuat pesta pernikahan yang sederhana tapi romantis. Bisa bantu?" ucap Rendy pelan.
"Pasti donk, kamu tenang saja Rendy. Kamu itu sahabatku uang paling baik. Kenalkan ini Rey. Rey... ini Rendy dan ini istrinya." ucap Candra mantap.
Kedua mata itu bertatap tajam, seolah bendera peperangan telah dikibarkan dan pertarungan akan segera dimulai. Sofi hanya melirik Rendy dan mengusap lengannya agar emosinya tidak tersulut.
"Aku kenal dengan Ronal, Candra." ucap Sofi memecah keheningan kedua pria yang saling membenci.
"Bener Sofi, dunia sempit sekali ya." ucap Candra dengan gaya gemulainya.
"Namanya memang Ronal, aku biasa panggil Rey, panggilan sayangku untuknya. Iya kan Rey?" ucap Candra pelan dengan menatap wajah Ronal yang sudah merah padam.
"Aku pulang dulu honey. Aku lelah ingin rebahan." ucap Ronal pelan.
"Hati hati beb, kalau aku sudah selesai aku menyusulmu ke hotel. Masih ada waktu sebelum kamu pergi ke ibukota." ucap Candra dengan manja.
Sebenarnya Ronal malu menyebut honey, tapi Candra bisa murka kalau tidak dirayu seperti itu. ATM berjalan nya pun bisa tersendat hanya gara gara rasa malu. Ronal pun menuruni anak tangga dengan cepat. Hari ini adalah hari sial baginya. Harus bertemu Sofi dan Rendy pada waktu yang tidak tepat. Lebih sialnya lagi Sofi akan menikah dengan Rendy, rencana ku bisa gagal untuk menjual Sofi kepada pria hidung belang. Pikirannya menjadi kalut. Niat buruknya pun terbalaskan dengan terungkapnya kejadian memalukan ini.
"Sofi kamu pilih pilih dulu dengan Candra, aku ingin ke bawah sebentar, hp ku tertinggal di mobil" ucap Rendy pelan.
Rendy langsung berlari menuruni anak tangga untuk mengejar Ronal. Ini kesempatan yang baik untuk memutuskan pertunangan antara Sofi dengan Ronal.
"TUNGGU RONAL!!! AKU TIDAK PERLU PENJELASANMU LAGI. SUDAH JELAS, KAMU DAN SOFI RESMI BERPISAH. KAMI AKAN MENIKAH, KEDUA ORANG TUA SOFI PUN TELAH MENYETUJUI. JADI JANGAN KAMU GANGGU LAGI SOFI!! CAMKAN KATA KATAKU!!!" ucap Rendy tegas dan kencang.
"Sofi sudah ku bayar mahal, maka dia juga harus ku jual mahal." ucap Ronal tak kalah keras.
"Jadi ini niat busukmu untuk menikahi Sofi? untuk menjualnya? kamu seorang mucikari handal Ronal, suatu saat pekerjaan nistamu ini tercium oleh polisi. Bila kamu berani menyentuh Sofi, maka aku yang akan memukulmu dan melaporkanmu pada polisi." ucap Rendy tegas.
Rendy pun berbalik badan dan masuk ke dalam gedung itu. Rasanya sudah malas dan moodnya pun sudah turun untuk membahas apapun.
"Kok lama mas Rendy? aku sudah pilih, aku ingin pesta pernikahan outdoor. Pekarangan rumah Umi kan luas, jadi kita buat disana Mas?" ucap Sofi pelan.
Sofi melihat perubahan Rendy yang jelas terlihat marah. Sofi hanya diam dan tidak melanjutkan pertanyaannya, takut bila Rendy sedang tidak fokus.
"Candra, kita buat sesuai konsep aku tadi, survei dulu ke rumah. Buat sebagus dan seapik mungkin. Nanti untuk DP aku transfer ke rekening kamu. Aku sudah simpan nomor HP kamu. Nanti kita lanjutkan di telepon. Jangan lupa nuansa hijau ya." ucap Sofi yang masih bersemangat menyiapkan pesta pernikahannya dengan Rendy.
"Ayok Mas kita pulang." ucap Sofi pelan sambil menarik tangan Rendy agar mau bangkit berdiri.
Rendy pun berdiri dan berjalan di sisi Sofi. Mereka terdiam hingga berada di dalam mobil. Tidak ada pembicaraan ataupun celotehan lucu dari bibir Rendy. Biasanya pria itu paling pandai merubah suasana menjadi ceria.
Mobil pun melaju dengan kecepatan pelan dan membelah jalan kota kecil itu. Lampu yang terlihat terang hingga membuat bayangan pada benda yang melewatinya.
"Mas Rendy kita mau kemana?" ucap Sofi sambil memeluk Rendy dari samping. Semoga usaha merayunya, Rendy bisa tersenyum lagi.
Cup...
Pipi kiri Rendy pun basah dicium oleh Sofi. Tangan Sofi berada di paha Rendy, dan mengelusnya dengan pelan. Kepalanya disandarkan dilengan kekar Rendy.
"Mau makan apa?" ucap Rendy pelan dan singkat.
"Asal berdua denganmu sayang, apa saja akan ku makan" ucap Sofi asal.
Rendy hanya menghela nafasnya dengan kasar. Tadi hatinya memang kesal, tapi melihat Sofi semangat mempersiapkan pesta pernikahan dengan dirinya, Rendy pun bisa menghilangkan rasa kesal itu. Moodnya pun belum stabil. Tapi ciuman pipi itu benar benar membuat mood Rendy kembali baik, ditambah elusan di paha sebenarnya membuat Rendy sedikit terangsang dan bergairah.
"Nasi goreng seafood? mau?" ucap Rendy menawarkan makanan Sofi.
"Boleh sayang." ucap Sofi lembut dan tersenyum.
Sofi merasa Rendy sudah kembali seperti biasa. Hari ini banyak pelajaran berharga yang Sofi petik dari kejadian tadi.
Uang itu membuatkan segalanya. Bahkan uang bisa membunuh saudara sendiri. Janganlah kita itu dengan rejeki atau kekayaan seseorang karena itu semua tidak abadi. Dan pertanggungjawaban di akhirat sangat berat.
Mobil pun sudah sampai tujuan di pedagang nasi goreng seafood kesukaan Sofi.
"Masih mau melamun, apa mau turun?" ucap Rendy lembut sambil menaikkan rem tangannya ke atas.
"Mau makan dong Mas." ucap Sofi lembut.
Mereka turun dari mobil menuju lesehan nasi goreng seafood tersebut. Tempat yang nyaman walaupun diatas tikar anyaman yang sederhana.
"Kamu kelihatan senang Fi?" ucap Rendy pelan.
"Karena hari ini aku mempersiapkan pesta pernikahan dengan pilihanku sendiri. Aku merasa puas. Akhirnya perjalanan cinta kita telah direstui Mas?" ucap Sofi dengan pelan.
Tidak lama pesanan nasi goreng seafood pun datang bersama teh manis panas. Kenikmatan yang tidak ada duanya. Begitu sederhana sebenarnya menikmati hidup. Cukup terima takdir dengan ikhlas, Allah SWT tidak akan pernah meninggalkanmu dalam keadaan apapun.
------------------------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚