Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 23 JAGA MATA DAN HATI



SELAMAT MEMBACA


💚💚💚💚💚


Pagi ini kembali kepada rutinitas biasa, bangun pukul 03.00 untuk melaksanakan sholat tahajud. Mengajar Sofi membaca Al-Qur'an. Sholat subuh berjamaah. Terakhir bersiap siap untuk perjalanan dinas Rendy.


Sofi sibuk membereskan koper Rendy, mengecek kembali apa yang kurang, apa yang belum dibawa, terasa sudah beres semua. Sofi pun langsung mandi, setelah mandi langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.


Bude kemana ya, kok gak ada. Buat nasi goreng aja, ini bumbunya lengkap, batin Sofi.


Memang sudah sangat lihai, Sofi dalam urusan masak memasak. Mengiris bawang pun dilakukannya dengan cepat tanpa menangis. Setelah berkutat sekitar sepuluh menit, aroma wanginya pun semerbak membuat perut perut ini bergejolak minta diisi.


Selesai, semoga bude dan mas Rendy suka.


Sofi melanjutkan membuat teh panas dan mulai menata meja makannya hingga rapi.


Sofi kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian kantor. Dan bersiap untuk berangkat kerja.


ceklek....


"Mas rendy, bikin aku kaget aja, udh mandi mas?" ucap Sofi lembut.


"Udah sayang, kamu dari mana? kok aku gak dibangunin?" ucap Rendy sambil menatap Sofi sedang memilih pakaiannya.


"Masak mas, bikin sarapan, tadi bude gak ada, hbis ini kita makan ya, aku takut kamu lelah mas, jadi aku biarkan kamu tidur dulu." ucap Sofi datar. Sofi pun sudah tanpa malu mengganti pakaiannya didepan Rendy.


Rendy pun mulai mendekati Sofi dan memeluk dari belakang. Aroma sabun yang masih melekat bercampur aroma nasi goreng bercampur menjadi satu hingga ingin memakan sesuatu. Rendy pun membalikkan badan Sofi yang sudah memakai kemeja.


Cup....


Bibir Sofi yang membuat candu atau memang keinginan nafsu Rendy yang sudah tidak bisa ditahan lagi.


"Aku mencintai mu suci, ingin segera ku halalkan pernikahan ini dengan legalitas secara hukum. Aku sudah tidak sabar ingin memilikimu seutuhnya." ucap Rendy lirih.


"Ayo makan, udah siang, nanti telat." ucap Sofi sambil melepaskan pelukan itu dan mulai memakai roknya. Sofi sengaja mengalihkan pembicaraan ini, Sofi tidak ingin terbuai dan merasa sulit melepaskan Rendy untuk perjalanan dinasnya. Kenyamanannya bersama rendy membuat Sofi tidak ikhlas Rendy pergi, ditambah candu ciumannya yang penuh nafsu. Candu akan pelukan disaat tidur. Semua itu harus hilang sesaat selama satu bulan.


Mereka pun berjalan bersama menuju ruang makan, sudah ada bude disana, dan kita pun mulai makan bersama.


"Sofi, denger denger pintar masak ya? ajarin bude masak udang asam manis ya. Minggu depan bude ada arisan. Dan ini nasi goreng terenak yang pernah bude makan." ucap bude memuji.


"Bude bisa aja, ekhmmm bude saya ajarin masak, tapi bude ajarin Sofi ngaji ya." ucap Sofi mantap.


"Oke bude mau, satu bulan harus bisa khatam bude gencer nanti belajarnya." ucap bude tak kalah mantap.


"Sofi pegang janji bude. Bude, Sofi dan mas rendy pamit dulu ya." ucap Sofi.


"Rendy pamit, titip Sofi ya bude." ucap Rendy.


"Assalamualaikum" serempak sambil mencium tangan bude bergantian.


"Waalaikumsalam." ucap bude.


Dalam perjalanan Sofi pun sengaja mengencangkan musiknya, hari ini Sofi lagi dalam mode betenya.


"Sofi, kamu kenapa? mulai besok kmu bawa mobilku aja ya. Terus jangan keluyuran, dirumah aja, tiap hari kita harus video call. Kamu ngerti sayang?" ucap Rendy pelan sambil mematikan musik didalam mobil tersebut.


"Iya, besok kan juga aku pulang sayang, kamu lupa?" ucap Sofi mengingatkan.


"Aku gak lupa, tiketnya sudah aku beli ada dashboard dan da hadiah kecil buat kamu." ucap Rendy dengan senyum yang manis.


"Makasih sayang, kamu emang yang terbaik dari dulu juga, sambil membuka kotak beludru berisi kalung dengan inisial RS. Aku suka banget, ini bagus banget sayang" ucap Sofi manja, sambil mengecup pipi Rendy.


Cup....


"Suka kok di pipi ini yang depan, mumpung lampu merah nih berani hak?" ucap Rendy menantang.


Cup....Arghh....


"Kesempatan nih! Kebiasaan gigit gigit kan sakit mas..." rengek Sofi manja.


"Mumpung bisa, kapan lagi, kamu kalau gak dimulai diem aja. Kalau udh jadi istri tuh nyium duluan biar suami tuh jadi semangat." ucap Rendy serius.


Penantian hari ini akhirnya terjawab sudah, perjalanan dinas Rendy akan berangkat jam 11 siang, jadwal dimajukan, karena sore harinya akan ada langsung meeting dengan perusahaan luar sebagai penyumbang dana.


Di bandara pun mereka duduk berdua, tanpa memperdulikan tenan yang lain yang berjubah ria tentang kedua pasangan suami istri itu. Di depan umum, Rendy merangkul bahu Sofi, sesekali merapikan anak rambut Sofi, dan berkali kali mencium kening Sofi.


Hana dan Rere pun tidak ketinggalan dengan pemandangan tersebut.


"Hana, ada hubungan apa Pak Rendy dan Sofi?" tanya Rere singkat.


"Mereka pacaran, lupakan pak Rendy, lihat betapa dia sayang dengan Sofi." ucap Hana sedikit memanasi.


"Lihat saja nanti Hana." ucap Rere kecewa mendengar penuturan Hana.


💚💚


"Mas..." ucap Sofi sambil mendongakkan kepalanya.


"Hemmm... kenapa?" ucap Rendy pelan sambil memainkan rambut Sofi.


"Jangan selingkuh ya.... " ucap Sofi polos.


"Astaghfirullah, Sofi kamu ngomong apa? kenapa kamu jadi kayak gini sih, aku cuma sebulan Sofi, tiap Minggu pun aku pulang." ucap Rendy meyakinkan.


"Sabtu aku kan ke Padang, langsung ke Bali boleh?" ucap Sofi.


Rendy pun memandang Sofi heran, tumben ini orang jadi manja begini.


"Boleh, tapi ada syaratnya? bisa gak?" ucap Rendy menantang.


" Apa syaratnya? jangan susah susah ya." rengek Sofi.


"Aku ingin punya anak darimu, jadi besok ke Bali kita honeymoon 5 ronde." ucap Rendy setengah berbisik.


Sofi pun langsung membelalakkan kedua matanya. Sofi mencerna kata demi kata yang diucapkan Rendy. Benar atau mimpi....


"Oke siapa takut, aku mau buktikan aku serius sama kamu Rendy, lagi pula kita sudah halal. Abah dan Umi pun jadi saksi pernikahan kita, apa yang harus aku takutkan, kalau kamu meminta hak mu untuk aku melayanimu diranjang. Tentu sebagai istri yang baik, dengan senang hati aku lakukan." ucap Sofi mantap penuh semangat, duduknya ditegakkan, dan wajahnya didekatkan ke wajah Rendy.


Cup..... Sofi pun mencium bibir Rendy dengan sedikit ******* dan segera diakhiri.


Banyak mata memandang, tapi mau gimana lagi, daripada rindu ini tidak terobati.


"Tuh aku sudah jawab tantangan mu, aku juga bisa memulai duluan. Cuma kadang aku mau mas." ucap Sofi polos.


Rendy pun sontak kaget dengan keberanian Sofi.


Dipegangnya wajah Sofi dengan kedua tangannya.


"Hanya boleh dilakukan sama aku, jangan dengan yang lain, kalau aku sampai tahu, tanggung sendiri akibatnya." ancam Rendy sambil mengecup bibir Sofi tiga kali. Mereka kembali berpelukan.


"Iya sayang cuma denganmu, aku janji" ucap Sofi.


Pengumuman keberangkatan pesawat pun sudah diumumkan. Semua penumpang diharapkan untuk bersiap siap menuju pesawat.


"Hati hati bawa mobilnya, besok salam buat orang tuamu. Hari Sabtu aku tunggu kamu di Bali, jangan bohong." ucap Rendy.


"Iya sayang." ucap Sofi


Rendy pun memeluk erat pinggang sofi tanda kepemilikan, kemudian mencium kening, pipi dan bibir Sofi tanpa malu.


Sofi pun membalas dengan mencium kedua pipi Rendy dan mencium tangan Rendy.


Rere hanya pasrah melihat itu semua, sedekat itu Rendy dan Sofi hingga tidak malu berciuman bibir didepan umum. Ada apa sebenarnya ini? Aku harus mencari tahu kebenarannya, batin Rere.


------------------------------


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚