
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Waktu cepat berlalu, sekarang sudah pukul 08.00 pagi. Tenaga mereka benar benar habis dan terkuras. Rasa lemas dan pegal di sekujur pun tidak terelakkan setelah pergulatan panas itu. Satu ronde saja lelah bagaimana dua, tiga, empat atau lima ronde. Mungkin bisa pengrusakan lingkungan hidup, lembah sejuk akan terkoyak dan rusak walau dibalik itu ada senyuman yang merekah.
Mereka sudah bebersih diri dan mandi, tapi mereka enggan keluar karena masih lelah.
"Mas Rendy, Fi lapar, makan yuk. Sudah jam delapan juga gak enak sama Umi bangun siang. Nanti juga mau balik ke ibu kota kan? kita harus siap siap." ucap Sofi pelan.
Rasa ngilu di area intimnya memang sudah tidak ada mungkin sudah mulai terbiasa ada benda asing yang masuk dan mengoyak otak lembah itu.
"Mas juga lapar Fi, ayok kita makan." ucap Rendy pelan.
Kedua pasangan itu tidak mengetahui, bahwa di luar para orang tua sibuk dengan dugaan dan alibi mereka. Ada yang mendekatkan kuping ke pintu kamar Rendy. Ada yang berharap harap cemas melihat cara jalan Sofi yang tentunya akan sedikit berbeda bila benar lima ronde itu terlaksana karena minum ramuan itu. Ada yang mengamati dengan senyum senyum licik, dan ada yang tidak sabar untuk menggoda anak anak mereka dengan basa basi yang basi banget.
Tidak lama dengan andai andai para orang tua, mereka berempat dikejutkan dengan suara pintu kamar terbuka dan terlihat jelas senyum bahagia terukir di keempat orang tua itu yang menantikan sejak tadi.
Ceklekkk....
Rendy dan Sofi keluar kamar dengan perasaan bahagia, senyum kebahagiaan terukir jelas di sudut bibir keduanya. Mereka tidak sadar ada delapan pasang mata yang sedang menguntit mereka.
"Kamu mau makan apa Mas?" ucap Sofi dengan nada manjanya.
"Apa saja sayang, apapun yang kamu siapkan pasti aku makan." ucap Rendy sambil mencubit pipi Sofi dengan gemas.
Mereka berjalan menuju dapur. Makanan sudah tersedia di meja makan dengan rapi.
"Mas, lihat Umi sudah masak, masa iya Sofi tinggal makan. Kita terlambat sarapan." ucap Sofi pelan.
Belum juga Rendy menjawab keempat orang tua itu datang satu per satu tanpa berdosa. Senyum senyum dan raut wajah yang tidak seperti biasa. Ada apa nih?
"Ayok kita makan, tadi habis jalan jalan pagi. Iya kan?" ucap Umi sambil mengedarkan pandangannya ke Mama Sofi dan para suami.
"Iya Sofi, mama habis menguras tenaga. Ini mama langsung lemas, jadi lapar." ucap mama Sofi sambil mengedipkan salah satu matanya kepada Umi.
Rendy dan Sofi hanya saling berpandangan, mereka merasa orang tuanya jadi sedikit aneh.
"Sofi, gimana tidurmu sayang nyenyak?" tanya mama Sofi menyelidik.
"Mama kenapa? tumben menanyakan tidur Sofi?" ucap Sofi dengan tenang sambil menatap mamanya.
"Tentu saja nyenyak dong Mama... Betul kan Sofi?" tanya Umi pelan ke arah Sofi yang masih mengunyah makanannya.
Rendy menatap wajah Uminya dengan datar. Rendy paham, Umi sedang menggoda Sofi.
"Ramuannya diminum kan sayang?" tanya Mama kembali.
"Diminum kok Ma, sesuai petunjuk Mama. Iya kan Mas? Kamu juga minum kan?" ucap Sofi dengan polos.
Rendy hanya menunduk malu, kenapa hal itu harus dibicarakan di meja makan. Ini pasti jadi salah paham.
"Diminum lho Umi, makanya tidur nyenyak sampai pagi." ucap mama pelan.
"Mama... apaan sih!!" ucap Sofi mulai kesal.
"Fi .." ucap Rendy dengan menggelengkan kepala tanda jangan kasar terhadap orang tua.
Mereka kembali dengan sarapan paginya.
"Rendy.. pertahanan sudah bobol?" tanya Abah pelan.
"Maksud Abah apa?" ucap Rendy sedikit polos, sebenarnya Rendy tahu mereka menanyakan kejadian tadi malam.
"Gawang.... gawang...." ucap Abah sedikit penasaran.
"Beres Abah... sesuai aturan." ucap Rendy pelan.
Semua tertawa lepas, tanpa ada rasa ragu lagi. Semua mata memandang ke arah kedua pasangan halal itu.
Sofi dengan cepat menghabiskan makanannya dengan menunduk. Rasa malu melingkupi hatinya.
"Makannya pelan pelan Fi." celetuk Rendy yang melihat Sofi agak tergesa gesa.
"Iya Mas. Semuanya Sofi ke kamar dulu." ucap Sofi pelan meninggalkan meja makan.
"Duduk dulu Fi." ucap Rendy tegas.
Rendy sangat paham atas ketidaknyamanan Sofi dengan pertanyaan di meja makan tadi.
Sofi pun menurut, ia duduk kembali dan meminum airnya sampai habis.
"Sudah habis Mas." ucap Sofi menunjuk air putih yang juga telah habis diminumnya.
Pikir Sofi Rendy menyuruhnya duduk karena Sofi belum menghabiskan airnya, tapi ternyata bukan itu maksudnya.
"Umi kenapa sih godain Sofi terus. Kasian Sofi jadi gak nyaman." ucap Rendy menatap Umi dengan memohon.
"Maafkan Umi, Sofi. Umi tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Umi dan Mama hanya ingin segera memiliki cucu dari kalian." ucap Umi polos.
"Anak?" ucap Sofi pelan.
"Umi semua itu butuh proses dan anak itu rejeki. Amanah dari Allah SWT, kalau sudah waktunya tentu akan hadir." ucap Rendy pelan.
Sofi masih tetap tertunduk malu.
"Maafkan Mama ya Sofi. Mama hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Tidak ada maksud lain." ucap Mama dengan penuh penyesalan.
"Iya Mama, iya Umi... tidak apa apa. Mungkin Sofi yang terlalu sensitif." ucap Sofi memelas.
"Kita jadi pulang hari ini sayang? gimana persiapannya untuk Minggu depan?" ucap Mama pelan.
"Mas Rendy dan Sofi sudah mengurus lewat WO." ucap Sofi pelan.
"Bapak juga harus segera pulang, mengurus akhir pertunanganmu dengan Ronal." ucap Bapak mantap.
"Umi, Sofi resign dulu, lusa kita cari lokasi untuk buat bisnis baru kita." ucap Sofi mantap.
"Baiklah sayang, Umi tunggu kamu datang." jawab Umi dengan senang.
"Fi, kamu gak nyusul Mas ke Bali? no kok malah mau kesini?" ucap Rendy pelan.
"Mas, buat Sofi bisa mengurus WO disini bersama Candra. Kamu sendiri dulu ya." ucap Sofi sambil memegang tangan Rendy.
"Rendy terlalu sayang padamu Sofi. Dia sulit berjauhan dengan kamu." ucap Abah terkekeh.
"Sekarang kita siap siap untuk kembali ke ibu kota. Umi terima kasih sarapannya." ucap Sofi pelan.
Semua telah bersiap siap kembali ke ibu kota untuk melanjutkan aktivitasnya. Semua mimpi sudah terwujud, dengan mudahnya Allah SWT berkehendak dan memudahkan setiap rencana hambanya.
Tidak ada yang tidak mungkin selama hambanya berusaha dan berdoa.
"Fi, pasti nanti Mas kangen sama kamu." ucap Rendy pelan.
"Kamu harus terbiasa Mas, ini resiko kita. Sofi juga ingin maju lewat bisnis yang Sofi buat." ucap Sofi pelan.
"Kamu bisa buka bisnis disana sayang, buka distro atau cafe?" ucap Rendy pelan.
"Mas, Sofi kurang suka tinggal di Bali, kalau hanya sekedar berlibur Sofi suka." ucap Sofi lembut.
"Temani Mas ya Fi, anggap kita lagi bulan madu. Mas, butuh kamu Fi. Mas kesepian cuma ada Rere dan Hana." ucap Rendy pelan.
"Rere?" ucap Sofi lirih.
Sofi benar benar melupakan sosok Rere yang menyukai suaminya. Mereka tinggal di rumah dinas.
"Kamu serumah sama Rere dan Hana?" ucap Sofi menyelidik.
"Iya dong Fi. Kan rumah dinasnya cuma satu Fi." ucap Rendy pelan.
Ada rasa cemburu yang menyelimuti hati dan pikiran Sofi. Sofi harus bagaimana, mengikuti suaminya atau mengurus usaha barunya pasca resign dari kantornya?... pilihan yang sulit.
-------+++-----------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚