Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 30 TAMATLAH RIWAYATMU



SELAMAT MEMBACA


💚💚💚💚💚


Kehidupan itu bagaikan air mengalir, bila arusnya deras maka kita harus mengimbanginya, bila arusnya kecil pun kita harus tetap waspada.


"Sofi, kamu sadar dengan apa yang kamu katakan!!! Itu sama saja kamu mengajak perang kepada bapakmu sendiri!!! Susah payah bapak mendidik kamu, menyekolahkan kamu sampai sarjana hingga kamu sukses seperti ini tapi apa pembalasan mu terhadap bapak!!! seperti ini??!!" ucap Bapak dengan kasar dan sangat marah. Wajahnya merah, rahangnya pun mengeras menahan nafsu amarahnya.


"Maafkan Sofi Pak, bukan maksud Sofi menjadi anak yang durhaka, atau tidak tahu berterima kasih kepada Bapak tapi ini keinginan Sofi dari hati yang paling dalam. Hati Sofi menjadi tenang dan damai, selama Sofi menjadi muslimah Pak." ucap Sofi terbata bata dan bersujud di kaki sang Bapak.


Mama Sofi hanya menangis melihat anaknya yang sedang dilema, karena dirinya pun dulu pernah ada di posisi Sofi dan itu sulit.


Bapak pun menghela nafas panjang dan mengeluarkannya dengan kasar.


Hati kecil sang Bapak pun kacau, sebenarnya tidak ingin terjadi kesalahpahaman seperti ini, tapi ini menyangkut wibawa seorang Bapak. Jadi ketegasan itu perlu, agar mendidik anaknya untuk bisa menghargai jerih payah orang tua.


"Kamu sudah bertunangan dengan Ronal, Bapak tidak mungkin membatalkan ini semua, Bapak malu dengan keluarganya, mau ditaruh dimana muka bapak?." ucap bapak lirih dan sedikit cemas, mungkin hatinya sedikit mencair melihat anaknya masih bersimpuh di kaki sang Bapak sambil menangis.


"Sofi tidak tahu harus berbuat apa Pak, dari awal Sofi sudah bilang ke Bapak, Sofi tidak mencintai Ronal Bapak, Ronal itu bukan pria baik baik." ucap Sofi pelan dan terisak.


"Apa kamu sudah membuktikannya sendiri sofi? Sampai kamu harus menuduh Ronal yang bukan bukan?" ucap Bapak meninggi kembali.


"Sebelum ini Ronal pernah mendekati Sofi pak, tapi ada yang bilang Ronal sudah punya pacar di tempat dia bekerja. Sofi memang belum yg tahu kebenarannya, tapi biasanya gosip itu ada benarnya." ucap Sofi pelan.


"Tanpa bukti Bapak tidak bisa berbuat apapun, maafkan Bapak Sofi!?" ucap Bapak lantang.


"Tapi Pak, saya akan cari bukti itu untuk Bapak?" ucap Rendy semangat.


"Agar kamu bisa bersama putriku!!! Cari cara yang lebih terhormat agar saya bisa merestui mu, bukan mencari kesalahan orang lain. Kalau kamu orang berpendidikan kamu pasti tahu maksud saya!!" ucap Bapak dengan menatap tajam Rendy.


Rendy dan Sofi pun terkejut mendengar penuturan Bapak, apa itu tandanya bapak memberikan kesempatan kepada kita.


"Apa maksud Bapak?" ucap Sofi pelan.


"Sofi, bapak juga ingin kamu bahagia, bukan berarti bapak mengajarimu hal yang tidak baik. Selagi belum ada tanggal pernikahanmu dengan Ronal, kamu masih bisa memilih dan mencari yang benar benar sesuai dengan pilihanmu. Pesan Bapak jaga perasaan Ronal, jangan sampai Ronal dan keluarganya berfikir Bapak dan kamu menipu mereka. Dan kamu pimpinan baru, saya titip anak saya padamu, jaga Sofi, kehormatan dan harga dirinya sampai dia betul-betul menikah denganmu atau dengan siapapun nantinya. Sofi berhak memilih, kalau ternyata Ronal lebih baik, bapak tidak bisa membantumu anak muda. Kalau sampai Sofi kenapa kenapa maka TAMATLAH RIWAYATMU." ucap Bapak dengan nada sedikit mengejek kepada Rendy.


"Bapak terima kasih, atas kebijakkanmu, Sofi sayang bapak, Sofi tidak akan menyia nyiakan kesempatan yang diberikan Bapak kepada Sofi." ucap Sofi sambil memeluk bapaknya.


Begitu hangat pelukan yang tulus dari putrinya yang selama ini disayanginya. Entah sudah berapa lama aku tidak merasakan pelukan dari putriku sendiri. Memberi kesempatan seperti ini membuat hati anakku melunak kembali. Andai aku mendengarkan keluh kesah anakku, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Andai aku tidak menerima lamaran orang tua Ronal, maka anakku sudah bahagia dengan orang yang dicintainya. Aku seorang bapak yang egois yang lebih mementingkan kesenanganku sendiri daripada kebahagiaan anakku Sofi. Sudah lama tidak melihat senyumnya yang indah yang terukir diwajahnya yang ayu.


"Bapak melamun? itu mas Rendy lagi ngomong kok gak direspon? ucap Sofi lembut.


"Pak, saya janji akan jaga anak bapak. Jadi Minggu depan boleh saya bawa orang tua saya kesini?" ucap Rendy mantap.


"Soal itu sepertinya jangan dulu, lebih baik kalian seperti ini dulu. Kecuali Sofi sedang tidak bertunangan dengan siapapun itu silahkan." ucap bapak dengan bijak.


"Baiklah Pak, saya menghargai bapak, saya akan tunggu hingga waktunya nanti." ucap Rendy mantap dan yakin.


"Sofi apa kamu akan menginap?" tanya bapak pelan.


"Kalau menginap kasihan mas Rendy Pak? mau tidur dimana?" ucap Sofi lembut.


"Naik gunung kali Pak?" ucap sofi datar.


"Iya itu maksud Bapak. Ya sudah antar Rendy ke kamar adikmu, kalian bisa jalan jalan mumpung liburan disini." ucap bapak kepada Sofi.


"Dirumah aja pak, takut ada Ronal nanti jadi masalah." ucap Sofi pelan.


"Tadi pagi Ronal sudah kembali, katanya ada urusan penting. Ronal pamit dengan bapak dan mamamu." ucap bapak kemudian.


"Oh ya, sepertinya tidak ada meeting, trus mau ngapain weekend begini di apartemen nya." ucap Sofi penasaran.


"Bapak pergi dulu ya, ada perlu sebentar." ucap Bapak datar.


Bapak pun telah pergi meninggalkan ruang tamu. Mama sendiri sudah pergi sejak bersitegang tadi. Sedangkan kita berdua, terus mau apa.


"Sofi, kita keluar yuk, ajak aku kemana gitu?" ucap Rendy merajuk.


"Ke gunung mau?" ucap Sofi datar.


"Gunung? kembar?" ucap Rendy mengejek.


"Dasar Viktor!!! Maksudku ke Gardu Pandang, tempat wisata? mau?" ucap Sofi.


"Aku ganti baju dulu, kamarnya yang mana?" ucap Rendy pelan.


Mereka memasuki kamar masing-masing dan membersihkan diri dan bersiap siap untuk pergi ke gardu pandang.


Hari ini bapak sudah memberiku kesempatan, artinya aku harus bisa bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku pilih, termasuk keyakinan ku. Mulai hari ini pun aku memantapkan diri untuk berhijab. Aku ingin menjaga harga diri dan kehormatanku dengan menutup auratku.


"Sofi... sudah belum?" ucap Rendy yang berada diluar kamar Sofi sambil mengetuk ngetuk pintu kamar Sofi.


"Sebentar lagi" ucap Sofi mantap.


Wah ternyata memang nyaman memakai pakaian tertutup seperti ini, agak gerah memang, tapi ya harus dilakukan. Ini pasang kerudungnya sudah bener atau belum sih, malah pengen ketawa sendiri. Tapi bagus kok.


ceklek....


Rendy pun menoleh ke arah pintu, ada pemandangan yang tidak biasa, tanpa sadar pun Rendy tersenyum disudut bibirnya.


Rok panjang dipadukan dengan kemeja panjang dan kerudung dengan warna senada. Benar benar cantik..


***BERSYUKURLAH KAMU YANG TELAH MENDAPATKAN HIDAYAH DARI ALLAH SWT, PERBAIKI NIAT DAN DIRIMU SENDIRI SEBELUM ENGKAU MENGAJAK SESEORANG UNTUK BERHIJRAH.


--------------------------


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚***