Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 60 PETUAH MERTUA



Satu hari ini mereka hanya saling mendiamkan, bicara seperlunya saja. Rendy melakukan tugasnya sebagai suami begitupun Sofi yang melakukan tugasnya sebagai istri.


Rendy hanya meninggalkan beberapa lembar uang merah, dan menyerahkan kunci motor kepada Sofi, agar Sofi bebas melakukan apapun sesuai keinginannya. Tidak ada larangan, tidak ada komentar apapun. Bebas...


"Ini uang untuk belanja kamu, bila kamu ingin membeli sesuatu atau apa saja sesukamu. Dan ini kunci motornya, silahkan dipakai bila perlu, mau naik grab silahkan. Aku ingin ke Saung, menyelesaikan proyek itu setelah itu silahkan kamu kelola dengan baik." ucap Rendy menjelaskan dengan nada tegas.


"Makasih Mas, mungkin aku ke supermarket depan." ucap Sofi pelan, menerima uang dan kunci motor tersebut.


Sofi berpikir Rendy sudah baik, ternyata tidak. Sebelumnya memang mereka sudah mengenal satu sama lain dengan baik. Tapi mereka memiliki sifat yang sama-sama egois, karena dulu sama-sama sibuk mungkin sifat asli tidak terlihat. Saat ini mereka dua puluh empat jam selalu bersama. Apa yang akan terjadi, bila tidak ada yang mau mengalah dan mau saling mengakui kesalahan.


Sifat pria itu kebanyakan memang egois dan keras, tapi bila wanita bisa mengambil hatinya dan bisa mengakui kesalahannya dan jujur maka pria pun akan menerimanya.


"Aku pergi dulu, jaga diri kamu. Assalamualaikum." ucap Rendy pelan tanpa menatap Sofi dan berjalan pergi menuju garasi.


"Waalaikumsalam.. Mas?" panggil Sofi kemudian.


Langkah Rendy pun terhenti, dan menengok ke arah Sofi setelah namanya dipanggil Sofi.


"Ada apa lagi?" ucap Rendy pelan.


Sofi pun bangkit berdiri dan menghampiri Rendy sambil mengambil tangan kanan Rendy lalu dikecup.


"Belum cium tangan." ucap Sofi sambil mengecupkan bibirnya di punggung tangan suaminya.


Wajahnya mendongak dan menatap netra suaminya yang sedikit terkejut dan tersenyum manis seakan sedang merayu.


Rendy pun tetap menjaga harga dirinya agar tidak terlihat lemah dihadapan istrinya, kemudian berbalik arah dan berjalan lagi menuju garasi.


Sedangkan Sofi yang merasa usahanya gagal pun langsung berlari mengejar Rendy dan mengikuti ke garasi.


Rendy sudah menyalakan mobil dan memanaskan mobil itu sebentar.


"Mas.." ucap Sofi mengetuk kaca mobil itu.


Rendy menoleh dan menurunkan kaca mobilnya. Rendy hanya melirik sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke arah depan.


"Apa?" ucap Rendy dengan singkat, padat dan jelas.


Sofi hanya menggelengkan kepalanya.


"Gak papa Mas. Cuma mau bilang hati hati." ucap Sofi pelan.


Rendy tersenyum tipis penuh kemenangan tapi wajahnya tidak bisa dilihat Sofi.


Rendy hanya ingin mengajarkan Sofi menjadi istri yang bisa menerima kondisi suaminya dalam keadaan apapun. Jika setiap gelombang bisa diatasi, mungkin datangnya tsunami pun bisa diatasi bersama sama.


Rendy membunyikan klakson tanda mobilnya akan segera pergi meninggalkan rumah.


Sofi pun mengeluarkan motor matic itu, dan mengunci garasi. Satu satunya cara agar tidak kesepian adalah berbelanja, tentu sekarang harus belanja hemat, belanja yang bermanfaat.


Satu jam waktu yang cukup untuk berbelanja dan melihat lihat barang barang disekitar area supermarket itu.


Sofi pun kembali ke rumah dan membereskan semua barang barang belanjaannya dengan rapi. Sofi mencoba memulai semuanya dengan baik.


"Assalamualaikum... Sofi.." panggil Umi dari pintu luar.


Sofi pun datang membawa dua gelas minuman dan satu toples cemilan ringan.


"Umi kok gak kasih tahu Sofi dulu mau main. Mas Rendy juga lagi ke Saung katanya." ucap Sofi pelan.


"Kamu betah disini sayang?" tanya Umi sambil meminum minumannya.


"Alhamdulillah betah Umi. Mas Rendy selalu membuat Sofi bahagia." ucap Sofi sedikit berbohong. Padahal saat ini Sofi dan Rendy pun tengah bermasalah.


"Menjadi istri itu harus sabar dan ikhlas. Makanya kalau pagi coba baca bismillah kemudian berdoa dan langsung tersenyum. Insya Allah sepanjang hari kamu akan selalu tersenyum. Tapi kalau pagi kamu sudah cemberut sampai siang dan malam lagi hari itu akan terasa berat untuk bahagia." ucap Umi pelan menasehati menantunya itu.


"Iya Umi, lalu kalau masalah uang gimana?" tanya Sofi kepada mertuanya.


"Maksudnya Umi kok gak paham? Rendy tidak menafkahimu?" tanya Umi pelan.


"Bukan itu Umi, sebenarnya kita lagi marahan Umi." ucap Sofi pelan, matanya berkaca-kaca.


Sofi pun menceritakan permasalahanya kepada Umi. Hanya kepada Umi, Sofi membagikan kesedihan dan kebahagiaannya.


"Boleh Umi menjawab, tapi janji Sofi jangan sedih. Hal ini yang salah tetap kamu Sofi. Laki laki itu paling tidak suka dianggap remeh, apalagi dihina masalah uang, itu sensitif Sofi. Pesen Umi, minta maaf sama suamimu, perbaiki dirimu terus menerus agar bisa menjadi istri yang sesuai dengan keinginan suamimu." ucap Umi pelan dan lembut.


"Sofi yang harus minta maaf Umi? tapi Sofi malu." ucap Sofi pelan.


"Mengakui kesalahan itu lebih baik, dari pada masalah ini berlarut-larut. Kamu mau tidur tanpa pelukan Suami?" tanya Umi menggoda.


"Umi apaan sih. Umi kok sendiri, Abah kemana?" tanya Sofi yang melupakan sosok Abah.


"Lagi ada perlu, makanya Umi kesini, nanti Abah jemput Umi kesini. Umi boleh main kan?" tany Umi pelan.


"Boleh Umi, Sofi lagi masak buat makan malam, Umi mau cobain?" tanya Sofi pelan.


"Boleh sayang, sekalian Umi mau lihat-lihat isi rumah kamu." ucap Umi pelan.


Sofi pun beranjak ke dapur untuk menyelesaikan tugas memasaknya sedangkan Umi berjalan jalan melihat seisi rumah.


"Umi ini sayur lodehnya sudah matang. Cobain dong." ucap Sofi memanggil Uminya.


"Iya sayang sebentar, Umi lagi lihat bunga kamu cantik cantik Sofi." Ucap Umi pelan.


Umi pun langsung menuju meja makan dan mencicipi hasil masakan menantunya itu.


"Enak Umi?" tanya Sofi menyelidik.


"Enak Sofi, masakanmu itu selalu enak, makanya Rendy itu selalu menolak makan dirumah, maunya masakan Sofi." ucap Umi memuji.


"Alhamdulillah, makasih Umi pujiannya. Makasih juga petuah dan nasihatnya, Sofi mau belajar lebih baik lagi." ucap Sofi pelan.


"Sofi, kamu sudah Umi anggap seperti anak Umi sendiri. Umi ingin rumah tangga kalian itu baik dan bahagia. Konflik pasti ada, tapi selesaikan segera. Masalah itu jangan sampai dibawa tidur, maka hukum istri mendiamkan suami sampai pagi akan dilaknat oleh malaikat. Mau seperti itu?" ucap Umi pelan.


"Umi sering kesini, Sofi harus belajar banyak dari Umi. Apalagi, sekarang kita seharian dirumah bersama mungkin akan lebih cepat tahu sifat asli masing masing pasangan." ucap Sofi kepada Umi.


"Ada tiga hal yang harus kamu lakukan, percaya kepada suami, jujur kepada suami dan sering komunikasi dengan suami. Ketiganya dijalankan, Insya Allah, rumah tanggamu langgeng." ucap Umi dengan senyum lebar.


JAZAKALLAH KHAIRAN