
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚
" Niat baik gak selalu diterima dengan baik. Tapi percayalah niat baik selalu menemui akhir yang baik"
Seusai acara makan malam pun, Sofi ikut membantu umi di dapur untuk mencuci piring. Sofi sudah terbiasa hidup mandiri, jadi sudah tidak kaku lagi dengan pekerjaan rumah. Sofi pun pintar membuat masakan, kalau ada waktu Rendy selalu minta dimasakkin Sofi. Rendy rela Berjam jam di kontrakan Sofi cuma menunggu gadis pujaannya selesai tugas bersih bersihnya dan memasarkannya sesuai keinginannya. Benar benar seperti sepasang kekasih, tapi pada kenyataannya tidak.
Sofi membuat cokelat hangat untuk Rendy, Sofi sangat hafal apa yang menjadi keinginan Rendy. Sofi pun pamit dari dapur menuju teras depan.
" Ini diminum cokelat hangatnya, biar rileks", ucap suci datar.
Rendy pun menerima cokelat hangat itu dan menyeruputnya, sruttttttt ahhhh..... Kira kira begitu bunyinya jika seseorang menikmati minumannya.
" Makasih ya sof, kamu emang paling ngerti aku, udah cocok sof, tunggu apa lagi?", Ucap Rendy polos.
Sofi mendegar penuturan Rendy, menatap tajam ke arah mata Rendy.
" Rendy kamu apa apan sih, jangan membuat kecewa orang tuamu, aku gak bisa ren, jamu harusnya tahu posisi aku.', ucap Sofi.
" Kamu kan tadi yang janji sama aku, dua Minggu lagi ke rumahmu mau mengenalkan pada orang tuamu", ucap Rendy dengan tegas.
" Aku gak bisa Rendy, orang tuaku tahu kalo aku lagi dekat dengan Ronal, orang tua Ronal kemarin menemuiku, dan memberikan restu, begitu pula dengan orang tuaku, kita seiman Rendy, walaupun aku gak cinta, setidaknya aku mau berusaha memberikan kesempatan pada Ronal, apapun hasilnya nanti. Aku mau menuruti orang tuaku sementara. Tolong mengerti aku", ucap Sofi memohon.
"Sofi, kita jalani aja seperti ini, dua Minggu lagi aku tetap ketemu orang tuamu denganmu atau tanpamu.", Ucap Rendy kesal dengan meninggalkan Sofi sendirian di amben.
Umi menghampiri Sofi yang terlihat sendiri di amben, mengajak Sofi mengobrol tentang Rendy.
" Nak Sofi... Kok sendirian, Rendy kemana?", Tanya umi halus.
" Ehh umi...... Tadi Rendy ke kamarnya mungkin lelah, Sofi masih ingin disini umi. Umi Rendy kalau dirumah seperti apa?", Tanya Sofi pelan.
" Lho kok tanya umi, kan kalian sudah lama berkenalan, masa belum bisa memahami karakter masing-masing, gimana kalau nikah nanti.", Ucap umi sambil menepuk bahu Sofi.
" Rendy itu anak baik dan Sholeh, bukan berarti umi membanggakan anak umi sendiri ya, tapi itu kenyataan, Rendy itu penurut, banyak wanita yang suka padanya, di kampung ini sudah berapa wanita ditolaknya. Dan dia belum pernah membawa perempuan ke rumah, baru kamu Sofi. Sudah lama dia bercerita tentang kamu Sofi, ini tahu tentang perbedaan kalian, umi mendukung kalian, meski awalnya sulit untuk umi merestui, Rendy selalu meyakinkan umi. Akhirnya Abah dan umi merestui. Rendy siap membawamu kemari dan mengenalkan pada keluarga kamu adalah calon istrinya. Tidak pernah umi melihat Rendy bahagia seperti tadi. Jadi buat umi, cuma kamu yang mengerti Rendy, rayu kedua orang tuamu Sofi, semua pasti ada jalan, kalau Alloh SWT sudah menakdirkan, kamu bisa apa?", Ucap umi tulus.
Sofi pun memeluk umi, Sofi terisak sedih, takut mengecewakan keluarga ini, padahal mereka sudah seantusias ini menerimaku.
" Umi terima kasih sudah bisa menerima aku dengan baik", ucap Sofi polos.
" Iya sayang, calon mantu kesayangan jangan buat Abah, umi dan Rendy kecewa. Sekarang tidur dulu ya, besok kita jalan jalan pagi.",ucap umi sambil mengecup kening Sofi. Sebegitu hangatnya hubungan calon mantu dan mertua ini, benar benar luar biasa.
Sofi pun melangkahkan kakinya menuju kamar, sekilas melirik melihat Rendy sedang menonton TV. Rendy yang melirik Sofi masuk ke dalam rumah pun hanya diam.
" Rendy sayang pinjem charger dong?", Ucap Sofi manja
" Dikamar ambil sendiri", ucap Rendy ketus.
Sofi pun bangkit berdiri, menuju kamar Rendy. Wah....kamarnya bagus, cat tembok berwarna hijau tosca, dan rapi, banyak foto foto, eitsssss tunggu dulu kayak kenal nih fotonya. OMG, fotoku kenapa bertebaran di dinding udah kayak buat ngusir cicak. Gila ya tuh rendy. Sofi pun mencari diatas meja, nah ketemu, nyarger disini aja lah bentar. Ini buku apa ya, diambilnya dibawanya ke kasur dan mulai membaca, dari posisi duduk sampai rebahan nyaman dan santuy, Sofi pun lupa kalo sedang mencharger HP nya. Sofi terlalu asyik dengan bukunya. Buku itu tentang religi. Hidayah untuk seorang pendosa.
Karena terlalu lelah Sofi pun tertidur dikasur Rendy.
Rendy sadar sejak Sofi masuk, dia belum keluar lagi dari kamarnya, lagi ngapain sih Sofi lama banget, kalau masuk dikira ngapain. Udah jam sebelas malam, tapi lihat dulu dech takut kenapa kenapa. Rendy masuk dan dengan sengaja membuka pintunya lebar lebar biar tidak ada salah paham.
Ya Alloh Sofi ditungguin kamu malah tidur. Diambilnya selimut untuk menutup tubuh Sofi. Rendy pun keluar kamar, dan akhirnya tidur di sofa.
Tepat jam 03.00, Rendy terbangun segera mengambil wudhu dan sholat dikamar nya, walaupun ada Sofi. Rendy memulai sholat tahajudnya, dilanjutkan dengan doa dan diakhiri bacaan Qur'an sampai adzan shubuh berkumandang.
Rendy pun keluar kamar dan bergegas ke masjid untuk sholat shubuh berjamaah.
Sofi pun sudah terjaga sejak tadi, setelah mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh Rendy. Ada rasa nyaman dan sejuk yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ibarat seseorang sedang haus hausnya diberi air dingin, Mak nyusssss adem..
Sofi pun masih terbaring bermalas malasan. Menikmati waktu liburan yang singkat. Dan memejamkan matanya kembali.
Tak lama Rendy pun masuk, tanpa menghiraukan Sofi yang masih tertidur. Diletakkannya sajadah dan peci diatas meja. Dilepasnya baju Koko dan mengganti kaos oblong santai, Rendy berniat joging pagi keliling kampung sambil menghirup udara segar.
" Rendy maafkan aku ya, atas sikapku tadi malam, seharusnya aku menjaga perasaan mu. Kamu mau maafin aku?", Ucap Sofi memelas.
Sofi pun turun dari kasur empuk itu dan langsung memeluk Rendy dari belakang.
" Sofi, apa apaan ini jangan peluk aku, aku gak mau orang salah paham melihat kita berduaan di kamar apalagi pelukan. Duduk", perintah Rendy tegas.
Sofi menurut dia kembali duduk di tepi ranjang. Pintu kamar dibuka lebar oleh Rendy, biar tidak terjadi fitnah. Di kontrakan Sofi pun begitu, sampai sampai Rendy akrab dengan tetangga tetangga sebelah Rendy.
" Kamu mau maafin aku rend, dan dua Minggu lagi aku akan mengajakmu ke rumah untuk berkenalan dengan orang tua ku, jamu siap?", Ucap Sofi jujur.
Ada senyum kemenangan dari Rendy, tapi sengaja ia sembunyikan, agar gadisnya tidak mengetahui. Yang terpenting usahaku untuk kenal dan lebih dekat dengan keluarganya terlaksana, selebihnya biar Alloh yang menentukan.
Sofi aku yakin, kamu itu takdirku.
----------++++-------
Terima kasih sudah membaca
💚💚💚💚💚