
Dengan segera Rendy membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah suara bariton tadi yang berdehem sangat keras.
"Rangga...???!?" ucap Rendy pelan. Malu mungkin dikesampingkan tapi, perbuatan itu tidak baik dilakukan oleh siapapun juga, karena menjadi contoh yang kurang baik.
"Sudah ya, lanjutkan nanti setelah resepsi kalian." ucap Rangga dengan tersenyum tipis.
"Makanya cari jodoh bro... " ucap Rendy pelan sambil memukul pelan lengan Rangga.
"Mas Rangga maaf... " ucap Sofi pelan menundukkan kepalanya dan merapikan hijabnya yang terasa sedikit kurang rapi.
Tangan kanan Sofi pun di genggam erat oleh Rendy, untuk segera keluar dari lift tersebut. Keduanya berpapasan dan meninggalkan Rangga yang masih menatap nanar ke dalam lift.
Tanpa sengaja tangan Rangga bersentuhan dengan tangan kiri Sofi saat meninggalkan lift. Tangan yang begitu halus dan lembut.
Aroma vanila yang masih tertinggal di dalam lift membuat Rangga semakin urung iringan tidak jelas.
'Wanita itu, benar benar sudah membuatku terperosok dalam lingkaran dosa.' gumam Rangga yang tampak kesal dengan dirinya sendiri.
Pikirannya kalut memikirkan istri sahabatnya sendiri yang begitu mempesona di hadapannya.
"Arrrrghhhhhh....... kenapa harus kamu!!!!" ucapnya dengan keras dan meninju dinding lift dengan kepalan tangannya dengan sangat keras.
Lift pun terbuka lebar, saat pria itu masih berteriak kesal. Banyak karyawan yang sudah menunggu lift di lantai dasar untuk ikut naik ke lantai atas. Pandangan karyawan itu menatap sedih dan iba. Semenjak perceraian itu, Bosnya ini tidak pernah terlihat bersama wanita lain. Sikapnya pun menjadi keras dan dingin. Saat ini pun wajahnya tampak kusut dan sedikit berantakan.
Sama halnya Sofi yang terdiam duduk di sebelah Rendy yang sedang fokus menyetir mobil. Lirikan kedua matanya bertemu dan tetap terdiam seribu bahasa.
"Gimana rasanya bersentuhan dengan laki laki lain?" ucap Rendy sedikit ketus. Pandangannya tetap lurus menatap jalanan yang masih padat.
Sofi tidak ingin membahas hal yang tidak penting baginya. Wajahnya menoleh ke arah jendela luar dan tetap diam tidak bergeming.
"Fi.... aku tanya sama kamu, bukan sama patung atau manekin." ucap Rendy yang mulai sewot karena merasa dirinya diabaikan.
"Untuk apa membahas hal ini. Kamu itu terlalu cemburu dan posesif Mas." ucap Sofi dengan nada sedikit tinggi. Setiap kali selalu di kaitkan dengan orang lain atau pria lain.
Mereka mau kagum, itu hak mereka. Ini posisi sudah berhijab dan menggunakan niqab saja masih saja ada yang kagum, lalu yang harus disalahkan siapa? ....
"Aku tidak ingin kamu terjebak dengan perasaannya." ucap Rendy ikut tersulut emosi, walaupun masih tetap tenang.
"Hufftttt..... Kita mau ke dokter atau bahas masalah ini." ucap Sofi keras sambil menatap tajam ke arah Rendy.
Keduanya sama-sama tersulut emosi, Keduanya sama sama posesif dan pencemburu yang berlebihan. Terkadang semua masalah kecil pun dibesar-besarkan tidak jelas.
"Aku hanya ingin menjagamu Fi." ucap Rendy menggenggam tangan kanan Sofi dan menciumnya dengan lembut.
"Mas, tolong jangan ragukan cintaku dengan kamu. Semua sudah aku lewati bersama kamu. Apa semua keikhlasanku ini kurang sebagai bukti pengorbanan aku untuk memilikimu." ucap Sofi dengan wajah sendu dan mata yang mulai berkaca-kaca.
"I love u too hubby... " ucap Sofi pelan.
Mobil pun sudah berada di area rumah sakit umum. Mereka berdua menuju bagian pendaftaran untuk mendaftarkan ke poli obgyn atau kandungan.
Satu jam menunggu, akhirnya nama Sofi pun dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan dan memeriksakan diri.
"Assalamualaikum... Dokter Asmah..." ucap Sofi pelan.
"Waalaikumsalam.. Sofi.... " ucap Asmah pelan.
Asmah pun berdiri dan memeluk Sofi dengan erat.
"Kamu apa kabar Asmah?" ucap Sofi pelan.
"Baik Fi... gimana Fathan?" ucap Asmah penuh harap.
"Ekhmmm.... " Rendy pun berdehem dengan sangat keras. Rendy paling tidak suka bila di abaikan. Terlebih mendengar nama Fathan yang merupakan mantan Sofi penguras hasil keringatnya.
Sofi pun menatap ke arah Rendy, tatapannya sangat lembut dan penuh cinta, agar pria ini tidak kecewa kembali.
"Asmah... ini Mas Rendy suamiku." ucap Sofi memperkenalkan Rendy kepada Asmah.
Saling berkenalan dan menatap satu sama lain, Rendy pun dengan segera membuang tatapannya ke arah lain.
"Saya ingin memeriksakan istri saya." ucap Rendy mempercepat proses pemeriksaan.
"Asmah... aku ingin periksa, aku sudah telat datang bulan sekitar satu bulan... akhir akhir ini aku merasa mudah lelah dan pusing, fan sejak pagi aku mual dan muntah.
"Baiklah, ini kita testpack dulu baru kita USG oke. Ini wadah untuk menampung air seni Fi..." ucap Asmah pelan.
"Oke Asmah... aku ke kamar kecil dulu." ucap Sofi pelan.
Sambil menunggu Sofi untuk menampung air seninya. Asmah pun membuka pembicaraan, sejak tadi Asmah merasa kenal dengan Rendy. Pria ini dulu pernah Asmah kagumi karena ketampanannya. Tapi ....
"Kamu Muhammad Rendy? Anak SMA Patriot?" ucap Asmah pelan.
Rendy pun mengangguk dan menatap Asmah yang juga merasa kenal dengan wanita ini. Wanita ini kini sudah berbeda dengan yang dulu Rendy kenal.
"Kamu... ???
JAZAKALLAH KHAIRAN