Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 61 SAMA SAMA EGOIS



Kedatangan Abah untuk menjemput Umi pun membuat rumah semakin ramai. Tapi Rendy belum kunjung datang juga, padahal sudah hampir Maghrib. Abah dan Umi sudah mencicipi masakan menantunya itu, dan mengajak bicara tentang rumah tangga.


"Sofi, Umi dan Abah pulang dulu ya. Sudah mau Maghrib. Kamu dirumah sendiri gak papa kan sayang?" tanya Umi pelan.


"Gak papa Umi, paling sebentar lagi Mas Rendy pulang." ucap Sofi menenangkan mertuanya.


"Ingat pesan Umi, komunikasi, buat anak terus ya." ucap Umi meledek menantunya.


"Umi bicara apa sih?" ucap Sofi pelan, sambil mengantarkan Umi dan Abah sampai ke depan rumah.


Kepulangan Umi dan Abah membuat rumah menjadi sepi. Sebisa mungkin Sofi mencari pekerjaan rumah yang belum Sofi selesaikan sejak pagi.


Adzan Maghrib pun sudah berkumandang. Sofi melaksanakan sholat Maghrib sendiri. Dalam kesendirian baru terasa arti penting seorang suami atau pasangan dalam kesehariannya.


Mas Rendy, kamu dimana sih? seharian ini gak ada kabar, gumam Sofi pelan.


Sofi pun menonton TV sambil menunggu kedatangan Rendy. Tidak lama terdengar suara Ponsel Sofi berbunyi nyaring.


📱IKA Calling


"Assalamualaikum, Fi..." ucap Ika pelan.


"Waalaikumsalam... iya Ka, ada apa?" tanya Sofi pelan.


"Kangen kali Fi, gimana udah hamil Lo Fi?" tanya Ika spontan.


"Kirain ada apa Ika, gue kaget banget. Gue belum hamil say. Gue pengen kerja lagi Ka." ucap Sofi pelan.


"Kenapa Loe, melow tumben. Kerja apa?" tanya Ika pelan.


"Apa aja, admin juga gak papa. Tapi di kota ini aja. Ternyata jenuh Ka, ngerjain kerjaan rumah tangga." ucap Sofi pelan.


"Loe berarti belum siap nikah Fi. Loe juga buru buru nikah. Loe kita nikah enak. Enak gituannya doang, selebihnya bikin nyesek." ucap Ika mengompori.


"Maksud loe bikin nyesek apaan?" tanya Sofi dengan nada penasaran.


"Yaelah Fi masa iya gue jabarin satu per satu. Nikah itu mikir ekonomi, rumah, orang tua, mertua, saudara. Gitu lah pokoknya." Ucap Ika yang cuek dan masa bodoh.


"Mertua gue baik kagak nyinyir. Ekonomi gue cukuplah Ka." ucap Sofi menjelaskan.


"Terus loe mau kerja ngapain Fi? udah enak jadi nyonya besar. Ada gosip baru nih, Hana resign juga, terus Rere jadian sama Ronal, kabar terakhir nih Rere hamil." ucap Ika pelan setengah berbisik.


"ApaKa? Rere hamil?" ucap Sofi setengah berteriak.


"Iya Fi, hamil. Ronal diminta tanggung jawab. Hidup loe beruntung tuh gak dapet buaya kayak Ronal." ucap Ika dengan semangat dan berapi api.


"Mantan loe Ka kelakuan." ucap Sofi terkekeh.


"Mantan tunangan loe juga." ucap Ika terkekeh.


"Kantor sepi gak?" tanya Sofi pelan.


"Sepi banget, Pak Jae nanyain loe Mulu, ada rasa kayaknya." ucap Ika.


"Tua bangaka... hahaha.." ucap Sofi mengejek.


"Dompet Rebel Fi." ucap Ika pelan.


"Yaelah menjatuhkan harga diri demi isi dompet?" ucap Sofi tegas.


"Insyaf gue juga Fi. Mau jadi bener kayak loe." ucap Ika pelan.


"Jodoh loe juga nanti dateng Ka. Ka udah dulu ya, udah adzan gue mau sholat isya dulu. " ucap Sofi pelan.


"Iya Fi, assalamualaikum.." ucap Ika kemudian.


"Waalaikumsalam Ka." ucap Sofi pelan.


Sofi pun menutup sambungan teleponnya dan berwudhu untuk melaksanakan Sholat Isya.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Rendy pun belum menunjukkan batang hidungnya, memberikan informasi melalui chat pun tidak.


Makanan untuk makan malam pun sudah Sofi siapkan sejak sore. Kopi hitam dan cemilan ringan baru saja di siapkan di meja ruang TV.


Malam ini, niat Sofi untuk meminta maaf kepada Sang Suami sudah bulat. Sofi akan berusaha menjadi istri yang terbaik, kesalahan yang dilakukan akan dijadikan pelajaran berharga untuk membina rumah tangga yang Sakinah Mawadah Warahmah.


Ditempat lain, Rendy sedang berkumpul dengan teman-teman SMA nya dahulu. Ada Rangga, Nanda dan Adit.


Mereka berempat hanya sekedar makan malam dan nongkrong di cafe seperti kebiasaannya dahulu. Berbincang dengan teman lama itu membuat lupa diri dan lupa waktu, ada istri yang setia menunggu para suaminya.


Nanda seorang Fuckboy, hidupnya bebas dan tidak mau terikat. Hanya bergonta ganti pasangan saja.


Adit hampir sama dengan Rendy, alim, baik dan setia. Adit sudah menikah dua tahun yang lalu hingga kini belum memiliki anak. Istrinya bernama Wulan.


Kehidupan mereka secara finansial baik, Rangga seorang pengusaha percetakan, Nanda, pemilik Vape store yang sedang booming dan Adit seorang Kabag personalia di suatu Perusahaan Asuransi ternama.


Ketiga sahabat Rendy sudah mendengar kabar pernikahan Rendy dan Sofi, hanya saja mereka belum mengenal Sofi dengan baik.


"Gimana menikah? enak Rendy?" tanya Nanda datar dengan menampilkan senyum mengejeknya.


"Kalau gak enak, gak mungkin dijalanin kan." ucap Rendy dengan tenang. Kelakuan sahabatnya itu sejak duku memang begitu, selalu kepo dan mengejek bila ada yang kesusahan, tapi ujung-ujungnya mereka memberikan solusi dan membantu bukan sekedar teman yang cuek dan masa bodoh.


"Terus dari tadi, gue lihat tuh muka ditekuk Mulu?" tanya Rangga pelan ke arah Rendy.


"Biasa aja Rangga, gue lelah mengurus saung sehari ini. Besok Saung itu akan dibuka, loe pada datang ya, jam delapan jangan telat. Ini usaha bini gue, gue tetep mau cari kerja di tempat loe Rangga, masih ada lowongan kan?" tanya Rendy kemudian.


"Ada tenang, loe datang aja, apalagi loe pernah jadi pimpinan, gue kasih jabatan yang bagus juga buat loe." ucap Rangga mantap.


"Tempat gue juga buka lowongan Rendy, untuk Kabag Pemasaran, itu kan profesi loe, kalau mau lamaran loe siniin, gue yang review anak barunya." ucap Adit pelan.


"Serius Dit? Oke besok gue kirim lamaran juga ke kantor loe ya." ucap Rendy dengan senang.


"Loe lagi ada masalah sama bini loe?" tanya Nanda pelan.


"Cuma masalah kecil, salah paham aja. Kita sama-sama keras kepala dan egois. Agak sulit memang, bini gue tadinya wanita karir, sekarang dia resign dan hanya menjadi ibu rumah tangga. Gue rasa dia belum terbiasa dengan rutinitas dia. Bini gue biasa hidup enak, sedangkan saat ini dia nganggur, gue juga nganggur jadi mudah tersulut emosi." ucap Rendy menjelaskan.


"Cewe emang gitu, maunya di mengerti, tapi gak bisa mengerti keadaan kita." ucap Rangga menimpali.


"Loe kenapa gak kawin Nanda?" tanya Rendy kemudian.


Secara umur sudah memadai, finansial pun sudah mapan.


"Gue belum siap Rendy, walaupun gue badung, gue juga pengen pernikahan itu hanya dilakukan sekali seumur hidup. Jadi gue sekarang sedang dalam tahap memilih." ucap Nanda tenang.


"Loe gak kawin lagi Rangga, buat nyariin mamah baru buat Faiz?" tanya Rendy pelan.


"Faiz diurus nyokap gue. Ibunya ninggalin dia gitu aja, saat gue sedang terpuruk. Cewe mah semua matre, gak ada yang beres." ucap Rangga dengan kesal.


"Wulan bini gue gak gitu, secara dia anak ustadz. Wulan nerima gue apa adanya, dari gue cuma karyawan biasa." ucap Afit membela istrinya.


"Sofi itu baik, mungkin karena dia belum siap aja dengan pernikahan ini. Tapi gue berusaha untuk selalu membimbing dia. Dia mualaf bro." ucap Rendy pelan.


"Serius loe Rendy? bini loe mualaf? wah pajak Surga di depan mata, lebih lagi dia taat sama loe. Sempurna sudah, Surga Firdaus tiketnya." ucap Adit pelam. menjelaskan.


"Alhamdulillah, takdir gue, Dit." ucap Rendy pelan.


Obrolan singkat dan ringan tapi memberikan pelajaran berharga satu sama lain. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


"Gue pulang dulu ya bro. Kasihan bini gue sendirian di rumah." ucap Rendy berpamitan lebih dulu.


"Hati hati bro..." ucap Nanda.


"Gue juga mau balik, bikin proyek lahan gambut belum selesai." ucap Adit sambil terkekeh.


"Yang punya bini pulang cepet. Pada gak dapet jatah loe pade." ucap rangga mengejek.


Mereka berpisah karena waktu. Mungkin besok mereka bisa berkumpul lagi untuk melepas penat mereka.


Rendy pun sudah sampai di rumah. Rumah itu sudah nampak sepi dan sunyi. Mobil pun sudah berada dalam garasi rumahnya. Rendy masuk ke dalam rumah dengan kunci ganda yang ia miliki.


Rendy berjalan menuju ruang TV, sudah ada kopi hitam kesukaannya yang mulai dingin. Sofi masih setia menunggu Rendy hingga tertidur di sofa.


Maafkan Mas, mungkin memang kita belum bisa menerima satu sama lain dengan baik walaupun kita saling mencintai dan menyayangi, nyatanya menerapkan dalam rumah tangga itu tidak semudah mengucapkannya, gumam Rendy lirih.


Rendy pun menyeruput kopi hitam itu, agar tidak menjadi sia sia apa yang telah dibuatkan oleh istrinya.


Fi, jauh dari lubuk hati yang paling dalam, Mas sangat mencintai dan menyayangi kamu. Mungkin cara Mas salah dan berbeda untuk lebih mendewasakan kamu. Mas lebih diam, dan mendiamkan, Mas berharap kamu bisa berpikir jernih tentang kesalahan yang kamu perbuat. Maafkan Mas, ucap Rendy sambil mengecup kening Sofi dengan lembut.


Rendy pun mengangkat tubuh Sofi untuk dipindahkan ke tempat tidur.


Selamat tidur dan mimpi indah aayang., gumam Rendy mengecup pelan bibir Sofi.


Senyum manisnya terulas di sudut bibir Rendy, melihat kepolosan istrinya yang sedang terlelap dalam tidurnya.


JAZAKALLAH KHAIRAN