Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 57 SEPIRING BERDUA MANA KENYANG FI?



"Kami gak salah Fi?" tanya Rendy pelan.


"Salah apa Mas?" tanya Sofi bingung.


"Sepiring berdua? mana Kenyang Fi?" ucap Rendy pelan.


"Biar romantis Mas." ucap Sofi pelan.


"Romantis sih boleh Fi, tapi kalau Mas lemas karena kurang makan gimana?" ucap Rendy dengan tenang.


"Ya Allah Mas, tinggal bilang aja kurang. Pakai gaya takut mati kelaparan." ucap Sofi terkekeh.


"Romantisnya diganti, jangan sepiring berdua tapi kita suap suapan gimana?" tanya Rendy pelan.


"Malu Mas, nanti dilihat orang." ucap Sofi


"Fi, malu kenapa? kita kan udah halal." ucap Rendy tegas.


"Tetap saja Mas." ucap Sofi memandang jalanan yang mulai terlihat sepi, padahal baru jam tujuh malam.


Cup...... pipi Sofi pun menjadi sasaran empuk.


"Biar gak malu lagi." ucap Rendy sambil terkekeh.


"Mas Rendy.......... kamu tuh bener bener." ucap Sofi menundukkan kepalanya pura pura menangis.


"Fi.... Fi.... tuh nasi gorengnya datang." panggil Rendy sambil menggoyangkan bahu Sofi pelan.


Sofi mendongakkan kepalanya, mengedarkan pandangannya ke jalan mencari nasi goreng yang lewat tapi tidak ada. Wajahnya menoleh ke arah Rendy yang sedang terkekeh.


"Kamu ngajak gelud sama aku Mas?" tanya Sofi dengan wajah di ketus ketusin.


"Gelud di kamar mah, hayuk." ucap Rendy merangkul bahu Sofi, menyandarkan kepala Sofi di bahunya.


"Kamu kok iseng banget Mas." tanya Sofi pelan.


"Kamu yang terlalu serius Fi. Jalani saja, jangan jadikan beban. Kalau kamu terbebani selamanya kamu gak akan merasakan bahagia." ucap Rendy pelan sambil mengusap punggung Sofi dengan lembut.


"Haduh Mas Rendy, mesra terus sama istrinya, bikin iri ibu aja nih." ucap salah seorang ibu yang mengenal Rendy.


"Ibu bisa saja, ini biasa lagi manja, bawaan orok." ucap Rendy sekenanya.


"Mas, aku kan belum hamil." ucap Sofi mengingatkan.


"Aamiinkan saja. Kamu gak mau hamil, Fi?" tanya Rendy kemudian.


"Aku belum siap Mas." jawab Sofi pelan.


"Apa yang kamu takutkan?" tanya Rendy sedikit geram.


Disuruh hamil kok takut, padahal punya suami. Giliran yang gak punya suami cuek aja hamil.


"Ya belum siap aja." ucap Sofi pelan.


"Karena kondisi kita? kamu meragukan aku mencari nafkah?.begitu maksudmu Fi?" tanya Rendy dengan kesal.


Rendy pun masuk ke dalam rumah menuju kamarnya. Sofi hanya terdiam di teras sambil memandang langit yang cerah.


Rendy duduk ditepian ranjang menatap meja rias yang masih kosong dan polos. Tidak ada alat make up disana hanya ada satu tas kecil. Pikirannya tertuju pada tas kecil itu, Rendy jarang melihat Sofi memakai tas kecil ini. Dibukanya tas kecil itu, Rendy menemukan selembar pil KB saya sudah diminum empat butir.


Rendy semakin kesal dan kecewa. Kenapa sih Fi?, gumamnya. Aku ingin memiliki anak, biar rumah tangga kita semakin harmonis. Dibukanya pil itu satu per satu, hingga tumpah semua diatas meja.


Tidak lama Sofi pun masuk ke dalam kamar, netranya langsung tertuju pada pil KB yang sudah berserakan di atas meja riasnya. Sofi menengok ke arah Rendy yang sudah menahan kesal sejak tadi.


Sofi menghampiri Rendy. Lalu memeluknya dan meminta maaf atas kesalahannya.


"Apa maksudmu Fi? Kamu tidak ingin punya keturunan dari aku, Fi?" tanya Rendy dengan sedikit kasar. Dadanya terdengar bergemuruh seperti nafasnya yang sedang memburu.


"Aku hanya tidak ingin menambah beban untukmu Mas." ucap Sofi pelan.


"Alasan kamu Fi!! Kamu pikir pernikahan itu main main!!! Kalau kamu tidak siap jangan beri aku harapan untuk menikahimu." ucap Rendy dengan keras.


Alasan Sofi sungguh tidak masuk akal. Rendy tidak bisa memaafkannya begitu saja.


"Mas, maaf ya. Sofi gak akan ulangi lagi." ucap Sofi dengan terisak.


Sofi benar benar takut dengan amarah Rendy.


"Aku kecewa sama kamu Fi. Sejak kapan kamu minum itu?" tanya Rendy ketus.


"Sejak kita melakukannya. Aku takut Mas, apalagi waktu itu kita berjauhan." ucap Sofi membela diri.


"Kita berjauhan? kamu kan yang gak mau aku ajak ke Bali? aku itu lebih memikirkan perasaan kamu Fi, aku turutin sampai aku resign. Kamu ingin buka usaha, aku turuti, kamu minta rumah aku turuti. AKU KURANG APA!!!???" ucapan Rendy semakin ketus.


Rendy tidak habis pikir, semua dia lakukan demi Sofi. Rendy hanya ingin keturunan, bilangnya tidak siap. Istri macam apa itu?, gumamnya kasar.


"Terus mau kamu apa? biar kamu memaafkan aku Mas?" tanya Sofi dengan mata yang masih basah.


"Aku ingin ke rumah Umi, biarkan aku menenangkan diri disana." ucap Rendy sambil berdiri meninggalkan Sofi.


Sofi hanya terdiam menatap kepergian Rendy dari balik pintu kamarnya.


Kenapa begitu bodohnya aku sampai membeli pil KB. Kalau itu tidak terjadi hal ini tidak akan terjadi.


Sofi melangkahkan kakinya ke arah depan. Mengunci pintu ruang tamu. Lalu kembali lagi ke kamar untuk menelepon seseorang.


Hatinya jadi semakin malas dan tidak berdaya. Sofi mencari nama teman Umi, namanya Bu Haji Mila.


📱Bu Haji Mila


"Assalamualaikum, Bu haji Mila, ini Sofia. Maafkan Sofia, kalau Sofia batalkan dan semua barang-barang besok Sofia kembalikan. Kebetulan Sofia hamil muda, takut tidak bisa mengurus." ucap Sofia dengan memberikan keterangan palsu.


"Waalaikumsalam.. alhamdulillah Neng Sofia. Gak papa Neng. Besok biar di ambil oleh karyawan ibu. Sudah ada yang laku?" tanya Bu Haji Mila dengan lembut.


"Ada, gaun yang warna pastel tanpa kerudung." ucap Sofia kemudian.


"Baiklah, besok pagi barang barangnya ibu ambil. Malam ini juga uang pembayaran Ibu kembalikan, ibu potong yang laku saja. Nanti kalau sudah siap berjualan hubungi ibu saja." ucap Ibu haji Mila pelan.


"Terima kasih Bu haji. Saya tunggu kedatangannya besok." ucap Sofia dengan sopan.


Sofia menutup sambungan teleponnya dengan Bu haji Mila.


Tidak lama notifikasi M-Banking pun masuk, ada dana sekitar xx masuk ke rekening Sofia.


Lebih baik uang ini aku simpan untuk jaga jaga aku hamil. Belum lagi tabungan aku dan deposito aku, besok aku ambil semua, gumam Sofia dalam hati.


Uang pesangon sudah dialokasikan untuk membangun Saung. Sedangkan rumah ini, dibeli dengan menggunakan uang Rendy. Biaya pesta pernikahan besok juga dari tabungan Rendy.


Aku harus percaya dengan Suamiku, aku tidak boleh egois. Dan aku memang harus memberikan keturunan untuk Rendy biar rumah tangga kita semakin lengkap dengan kehadiran buah hati.


*Ampunilah aku ya Allah....


Semoga suamiku pun memaafkan kecerobohan ku....


JAZAKALLAH KHAIRAN*