Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 55 MEMULAI DARI NOL ITU BERAT



Hari pertama bagi Rendy setelah resign bekerja. Mungkin awal akan terasa aneh dan kaku. Terbiasa dengan kejaran waktu, tapi sekarang waktu luang semakin banyak. Bukan banyak waktu luang, hanya saja, belum ada kegiatan yang terorganisir dengan baik.


Benar pepatah mengatakan, awali dengan Bismillahirrahmanirrahim dan akhiri dengan Alhamdulillah...


Terlihat sederhana tapi bermakna besar.


"Mas Rendy, masih betah diatas sajadah?" tanya Sofi pelan.


"Betah Fi, sajadah itu tempat ternyaman. Mas itu lebih merasa bahagia. Mungkin awal agak aneh, tapi lama-kelamaan pasti terbiasa. Sama seperti orang berhijrah, awalnya berat tapi lama-lama juga terbiasa." ucap Rendy.


"Iya Mas, kapan kita pindah?" tanya Sofi pelan.


"Kan rumahnya belum ada isinya Fi?" ucap Rendy pelan.


"Mas, kapan kita mandiri, jalani saja. Uang kita memang menipis, semua sudah kita habiskan untuk modal dan membeli rumah. Kita harus berusaha Mas. Tadinya aku mau renovasi rumah, tapi lebih baik uangnya untuk modal." ucap Sofi pelan.


"Kamu niat banget sih Fi, memulai hidup dari nol. Kamu siap? kita mandiri tanpa bantuan materi dari Abah dan Umi?" ucap Rendy sambil melipat sajadahnya.


"Aku siap Mas, asal selalu bersama kamu, aku siap. Acara resepsi pernikahan kita, lebih baik dirumah baru kita saja Mas. Gimana?" ucap Sofi pelan.


"Orang tuamu Fi? mereka pasti kecewa, sudahlah Fi, untuk pesta itu kita kan sudah setuju dari awal. Dananya pun sudah kita siapkan." ucap Rendy meyakinkan.


"Mas, hari ini kamu cek pembangunan Saung. Sofi mau membereskan rumah baru. Sementara jualannya di rumah dulu aja." ucap Sofi pelan.


"Aku selalu mendukung kamu Fi. Apapun itu, semoga usaha ini menjadi berkah untuk kehidupan kita." ucap Rendy pelan.


Keputusan mereka untuk pindah pun sebenarnya kurang disetujui oleh Abah dan Umi. Tapi karena niat untuk membangun rumah tangga secara mandiri. Abah dan Umi pun mengizinkan mereka menjalani kehidupannya sendiri. Toh, memang mereka sudah menikah, jadi lebih baik bila mereka mulai berusaha sendiri dan belajar menyelesaikan masalahnya sendiri.


"Kamu yakin sayang, mau ninggalin Umi?" tanya Umi lembut kepada menantunya.


"Umi rumah kita hanya beda blok saja. Sofi ingin belajar jadi istri yang baik dan bisa mengurus rumah tangga. Mas Rendy juga lagi cari peluang lain Umi. Biarkan Mas Rendy berusaha sendiri, nikmatnya pun akan terasa berbeda kan Umi?" jawab Sofi lembut.


"Iya sayang, terus butikmu bagaimana?" tanya Umi yang sempat kecewa, Sofi tidak jadi merenovasi rumah barunya.


"Umi, ruang tamu Sofi belum ada Sofa, jadi mau Fi pake untuk toko dadakan, sebagian Fi jual secara online. Untuk Saung, juga buat Saung dan tambak ikannya dulu, kalau sudah berjalan baru renovasi bagian lain. Sebagian uangnya mau ditabung Umi." ucap Sofi pelan.


"Umi punya simpanan sayang, kalau mau dipakai gak papa, Umi ikhlas." ucap Umi pelan.


"Tidak Umi, biarkan kami berusaha sendiri. Aku ingin merasakan hidup setelah menikah itu seperti apa." ucap Sofi pelan.


"Ayo Fi, kita berangkat sekarang. Umi, kita berangkat dulu, dalam untuk Abah bila pulang." ucap Rendy pelan.


"Iya sayang." ucap Umi pelan.


Sesuai dengan jadwal yang sudah mereka susun. Sofi turun di rumah barunya, untuk membersihkan rumah dan merapikan barang-barang untuk toko bajunya.


"Mas, jangan lupa, kasurnya suruh kirim hari ini. Gak usah pakai ranjang, cukup kasur busa aja." ucap Sofi pelan.


"Iya, Mas, mau cek Saung sebentar, lalu hari mau membuka lowongan kerja untuk di Saung." ucap Rendy pelan.


Tugasnya sangat banyak, tapi harus telaten mengerjakan satu per satu aga semua terselesaikan dengan baik dan rapi. Sofi memulai merapikan baju baju yang akan di jualnya. Memajang beberapa contoh baju di gantungan besi panjang. Satu per satu di-posting di media sosialnya.


Sofia pun menuju dapur. Dapurnya pun masih kosong, hanya ada kulkas, meja makan, kompor dan beberapa peralatan masak dan peralatan makan. Kemarin Sofi sempat belanja beberapa peralatan masak bersama Umi. Selain merapikan, Sofi juga luwes dalam hal membersihkan rumah.


Sofi mencoba merapikan piring piring dan gelas pada rak kecil. Gas yang sudah terpasang pada kompor. Menyalakan air kamar mandi untuk mengisi bak yang kosong. Merapikan peralatan mandi.


"Assalamualaikum...Fi, kamu dimana?" ucap Rendy pelan.


"Waalaikumsalam... Mas Rendy, Fi di dapur." ucap Sofi pelan, tangannya kotor masih membersihkan wastafel dengan sabun cuci.


"Ini Mas belanjain bahan makanan, kita kan belum belanja sayang." ucap Rendy melihat keadaan sekeliling yang masih kosong.


"Sini, Fi masakin sayang, kamu lapar kan? kemarin Fi cuma belanja bumbu dapur saja. Fi pikir gak secepat ini pindah." ucap Sofi pelan.


Tangannya mulai terampil untuk memasak, dan merapikan belanjaan ke dalam kulkas dan lemari makanan. Sofi pun mulai memasak. Tangannya sibuk mengambil bumbu bumbu yang dibutuhkan, ladaku, garam, vetsin, penyedap rasa, dan terkahir gula sedikit, gumamnya pelan.


"Fi, kita belum ada mesin cuci?" tanya Rendy pelan.


Sofi langsung membalikkan badannya, kenapa mesin cuci bisa tidak masuk dalam daftar listnya, begitu juga dengan setrikaan, gumam Sofi pelan.


"Lupa Mas, gimana donk?" ucap Sofi pelan.


"Paling besok Fi, furniture lain sudah mau datang, terpaksa nanti kita cuci pakai tangan dulu, biar romantis." ucap Rendy pelan.


Sofi pun menunangkan SOP bakso ke dalam mangkuk besar dan menyiapkan di meja makan.


"Fi, kamu gak buat nasi?" ucap Rendy pelan.


"Astaghfirullah Mas, aku lupa, aku buat nasi dulu." ucap Sofi pelan.


Rendy hanya tertawa pelan. Melihat kegugupan Sofi.


"Jangan dijadikan beban Fi, kalau memang belum sanggup gak papa Fi, kita kan baru belajar berumah tangga Fi." ucap Rendy lembut memeluk Sofi dari belakang.


Samar terdengar suara isakan.


"Fi? kamu nangis?" tanya Rendy membalikkan badan Sofi menghadap ke arahnya.


Kedua tangan Rendy memegang wajah Sofi. Wajahnya telah sembab.


"Maafkan aku Mas, aku gagal menjadi istri, menyediakan makan aja aku gagal Mas." ucap Sofi terisak.


"Sayang, kita baru belajar, mungkin kamu lelah membersihkan rumah ini, hingga kamu lupa, aku memaklumi sayang, kamu belum terbiasa. Aku tidak apa apa, aku tidak marah dan aku sama sekali tidak kecewa. Kita harus saling mengerti satu sama lain. Sekarang bukan lagi tentang aku dan kamu, tapi kita." ucap Rendy pelan dengan mengecup bibir Sofi dengan lembut.


"Makasih Mas, udah mau mengerti Sofi. Tetap bimbing Sofi menjadi istri yang baik dan Sholehah." ucap Sofi lembut.


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚💚