
Hidup berumah tangga itu ibarat memasak. Jika memasak menjadi hobby dan kesukaan kita maka sesederhana masakan itu akan terasa enak, walaupun bahan dan bumbunya tidak lengkap, karena memasaknya dengan hati bukan dengan nafsu.
Bedakan bila memasak hanya untuk menyenangkan seseorang agar mendapat pujian, mau selengkap apapun bahan dan bumbunya, mau membuat masakan yang paling terkenal dan paling mahal, tapi tidak ada hati yang bermain disana, maka rasanya pun akan terasa hambar.
Menikah itu bukan perkara cinta atau tidak cinta, tapi bagaimana seorang kepala rumah tangga bisa menjadi Imam dan Nahkoda kapal yang baik, yang selalu sampai pada tujuan akhir, membawa kapalnya dengan baik walaupun badai menerjang.
Menikah itu bukan sesaat, tapi selamanya. Bukan hanya nafkah tapi juga berjuang bersama untuk membagi nafkah itu sesuai porsinya.
Menikah itu bukan perkara cemburu, tapi lebih menghargai dan menghormati pasangannya.
Menikah itu bukan hanya bercinta, tapi bisa membawa perjalan hidup selalu hangat dan romantis.
"Fi, kalau lelah duduk dulu sayang." ucap Rendy dengan lembut.
"Iya Mas, cake tapi Fi semangat menjalankannya." ucap Sofi pelan.
"Yang penting kamar tidur sudah rapih, lainnya besok juga gak papa. Nanti Mas, ambil barang dan koper dulu, kamu mau ikut?" tanya Rendy pelan.
"Gak Mas. Fi dirumah aja ya, siapa tahu ada yang beli, tadi Fi udah share di sosmed." ucap Sofi mantap.
Sofi itu wanita yang mandiri dan selalu yakin dengan hasil kerja kerasnya. Bukan wanita menye menye yang manja tidak pada waktu dan tempatnya.
"Assalamualaikum...." ucap seorang wanita muda mengetuk pintu dan mengucap salam.
"Waalaikumsalam.. ada apa?" ucap Sofi lembut.
"Ini betul Toko Baju Sofia? tadi saya lihat di maps dan saya lihat spanduknya sepertinya saya tidak salah alamat." ucap wanita muda itu tersenyum.
"Betul sekali kakak, mau cari apa, silahkan masuk." ucap Sofi ramah.
"Siapa Fi?" tanya Rendy pelan.
"Ini Mas, mau lihat lihat, koleksi baju." ucap Sofi lembut.
Wanita muda itu sibuk dengan pilihannya, memadu padankan warna dan yang cocok untuk kulit dan tubuhnya.
"Kira kira mau cari baju untuk acara apa? biar saya bantu pilihkan?" tanya Sofi pelan.
"Acara ulang tahun teman, yang tertutup tapi tidak pakai kerudung." ucap wanita itu pelan.
"Ini bagus kakak, tidak norak, terlihat formal dan elegan." ucap Sofi menunjukkan pilihannya.
"Betul Kak ini bagus, ini cocok dan pantas untuk acara nanti malam. Kak, saya ambil yang ini. Terima kasih pilihannya bagus." ucap wanita muda itu dengan senyum bahagia.
"Gak di coba dulu, biar mantap." tanya Sofi pelan.
"Gak usah Kak, ini cukup kok." ucap wanita itu dengan baik.
Sofi pun melipat gaun itu dan memasukkannya dalam paper bag yang sudah disediakan.
"Ini Kakak, semoga bermanfaat." ucap Sofi pelan sambil memberikan barang pesanannya dan menerima pembayarannya.
Kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan pasti akan membuahkan hasil yang sempurna.
Rendy tersenyum bahagia melihat Sofi yang juga tampak bahagia. Hari pertama sudah ada yang membeli gaun cantik.
"Pembeli pertama sayang?" tanya Rendy lembut.
"Iya Mas, Fi seneng banget." ucapnya dengan polos.
"Fi, semua itu ada masanya. Kamu harus yakin dengan Kebesaran Allah SWT. Terus berdoa, memohon ampunan, memohon rejeki dan memohon kelancaran usaha kita." ucap Rendy mengingatkan.
"Iya Mas, jadi ke rumah Umi gak? keburu Maghrib. Aku mau nyapu depan dulu, sekalian kenalan sama tetangga." ucap Sofi pelan.
Rendy pun pergi menuju rumah Umi untuk mengambil koper berisi baju dan beberapa barang yang dibutuhkan untuk rumah barunya.
Sofi pun mulai membiasakan diri menjalankan tugasnya sebagai istri. Mulai dari menyapu halaman, membuang sampah dan mengepel lantai.
Sofi pun mulai menyapa tetangga disekitarnya, dan memperkenalkan diri dengan ramah dan sopan.
Setengah jam kemudian Rendy datang dengan beberapa barang yang dibawanya dari rumah Umi.
"Ini titipan dari Umi." ucap Rendy sambil memasuki rumah.
"Apa ini Mas?" tanya Sofi sambil membuka titipan dari Umi.
Ternyata Umi menitipkan Bolu Pisang kesukaan Sofi.
"Fi, koper sudah di kamar, tapi beresinnya nanti saja ya." ucap Rendy datar.
"Mas, gak sebaiknya kita berkenalan dengan tetangga sebelah kita?" tanya Sofi pelan.
"Nanti malam aja ya sayang, Mas cape, lagi pula sudah mau Maghrib. Mas mau sholat di Mushola dekat sini. Kamu dirumah sendiri gak papa kan sayang?" tanya Rendy pelan.
"Mas, itu sudah kewajiban, jadi gak perlu tanya sama aku." ucap Sofi pelan sambil membuatkan kopi hitam kesukaan suaminya.
"Sayang, ini baru hari pertama, kamu seperti tegang, padahal kita sudah biasa bersama, makan bersama, kenapa kamu jadi cemas?" tanya Rendy pelan.
Sofi menatap mata Rendy lalu tersenyum manis.
"Apa wajahku terlihat cemas?" tanya Sofi pelan.
"Terlihat begitu. Kamu tidak pintar berbohong sayang?" ucap Rendy sambil menyeruput kopi hitamnya.
"Aku cuma takut, tetangga tidak bisa menerima kita dengan baik." ucap Sofi pelan.
"Alasannya apa?" tanya Rendy menyuap satu potongan bolu pisang ke dalam mulutnya.
Sofi cuma mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
"Entahlah Mas." ucap Sofi pelan.
"Jangan berandai andai. Allah SWT akan memberikan yang terbaik untuk hambaNya." ucap Rendy pelan dan menghabiskan kopinya.
Adzan Maghrib pun terdengar, panggilan sholat fardhu pun harus segera dilakukan.
Rendy berwudhu dan menggunakan sarungnya dan membawa sajadah untuk sholat berjamaah di Mushola dekat rumah.
Sedangkan Sofi, melaksanakan sholat Maghrib sendiri di rumah. Setelah sholat Maghrib, Sofi pun memanaskan makanannya untuk makan malam nanti.
Ini baru sehari ternyata tidak mudah menjadi istri. Padahal kalau membaca referensi tugas, hak dan kewajiban istri kepada suami dan keluarga seperti terlihat mudah tapi menerapkan dalam kehidupan berumah tangga itu ternyata sulit, memang membutuhkan keikhlasan dan ketulusan.
Tidak lama, Rendy pun kembali dari Masjid, dan menaruh kembali peralatan sholat yang dipakai ditempatnya. Sofi sudah berada di teras depan rumah sambil meminum susu jahe.
"Sayang?" ucap Rendy dengan lembut.
Sofi pun menoleh dan tersenyum.
"Sini Mas, ini susu jahe coba diminum bisa menghangatkan tubuh kamu." ucap Sofi pelan.
Rendy pun mengambil susu jahe itu dan menyeruputnya sedikit. Rasa pedas, manis dan gurih bercampur menjadi satu.
"Kamu ngapain duduk di depan begini?" tanya Rendy pelan.
"Nunggu nasi goreng lewat, tadi kata ibu sebelah biasanya jam segini ada nasi goreng keliling, Fi mau coba kita makan sepiring berdua. Kamu mau kan Mas?" tanya Sofi lembut.
JAZAKALLAH KHAIRAN