Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 76 GHIBAHIN MANAGER



Tatang diam mematung mendengar Umi Anisa menyapanya dan masuk ke dalam kamar membawa satu piring irisan buah mangga.


Kedua netra antara Umi Anisa dan Kang Tatang pun beradu saling melempar pertanyaan.


"Apa yang kamu lakukan Tatang?" tanya Umi Anisa pelan, agar tidak menggangu istirahat Sofi.


"Aku.... aku..... hanya merasa bila Sofi adalah adikku." ucap Kang Tatang sedikit gugup dan terbata bata.


Sorot mata Umi Anisa menatap tajam.kw arah Kang Tatang.


"Umi tidak ingin mendengar alasan apapun. Umi sudah mengenal kamu belasan tahun, dan Umi hafal betul sikap dan sifat kamu bila sedang mengagumi seorangpun wanita." ucap Umi menjelaskan dengan pelan.


Sofi mendengar percakapan mereka, karena sudah menahan rasa mual dan muntah. Sofi pun terbangun dan beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi..


"Lupakan Sofi, Tatang. Umi harap kamu bisa menghargai dan menghormati Umi dan Abah." ucap tegas Umi Anisa membuat Tatang pun merasa bersalah karena telah mengagumi adik iparnya sendiri.


Tatang hanya menatap sendu ke ranah Umi Anisa. Hidupnya memang terlalu sibuk untuk urusan duniawi hingga melupakan statusnya yang sudah melajang sangat lama. Sekalinya mengagumi sosok wanita, dia adalah Sofi, adik iparnya sendiri.


Sofi pun masuk ke dalam kamar dan duduk di tepian tempat tidur. Umi duduk di sebelahnya dan menyodorkan satu piring irisan buah mangga itu.


"Untukku Umi?" tanya Sofi dengan sopan.


"Iya sayang. Mau Umi suapin?" tanya Umi pelan.


"Gak perlu Umi, biar Sofi sendiri." ucap Sofi pelan.


Tatang hanya memperhatikan Sofi dan Umi bergantian lalu pergi meninggalkan keduanya tanpa berpamitan.


Sofi yang memang terlihat cuek dan tidak menganggap ada Kang Tatang pun membuat Kang Tatang sedikit kecewa. Bagi Sofi itu perlakuan halus bagi pria pria hidung belang yang mencari kesempatan dalam kesempitan.


"Umi... Sofi mau ke kantor Mas Rendy. Tadi sudah janji mau makan siang bersama, mau sekalian ke dokter." ucap Sofi pelan dengan mengunyah satu per satu irisan mangga manis asem itu di dalam mulutnya.


"Umi antar ke dokternya?" ucap Umi Anisa yang penasaran dengan keadaan menantunya itu.


"Tidak perlu Umi. Biar Sofi sendiri saja, naik taksi online." ucap Sofi pelan. Dengan segera Sofi pun menghabiskan irisan buah mangga itu dan kemudian merapikan pakaian dan hijabnya.


Umi hanya menatap Sofi dengan senyum.


"Sepertinya kamu mengandung Sofi. Aura dari wajah kamu terpancar berbeda." ucap Umi pelan.


"Betulkah Umi. Kalau itu benar, Sofi sangat senang. Buat Sofi keturunan itu mempererat hubungan rumah tangga. Umi.. untuk masalah Bik Karsih dan Tiara lebih bai secepatnya di pindahkan. Sofi gak ingin melihat mereka lagi." ucap Sofi pelan dan sopan, agar tidak menyinggung perasaan mertuanya.


"Itu urusan Umi. Kamu jaga kesehatan kamu, lalu persiapkan diri untuk nanti malam. Malam ini acara resepsi kamu bukan?" tanya Umi pelan.


"Betul Umi. Sofi pergi dulu ya." pamit Sofi kepada Umi fan mengecup punggung tangan Umi dengan sopan.


Taksi online yang sudah dipesan Sofi pun sudah menunggu di depan rumah Umi. Rencana pertama, Sofi akan membeli makanan dari restoran dan akan memakan bersama di kantor Rendy. Keinginan yang sederhana, semoga bisa terwujud tanpa adanya perjanjian dari awal. Kata kata Surprise, bisa menjadi boomerang bagi diri kita sendiri.


Satu kantung plastik berisi makanan yang sudah di incar oleh Sofi sejak tadi pagi. Makanan yang bukan menjadi favoritnya tapi sekarang ingin memakannya.


Langkah Sofi memasuki kantor dimana Rendy bekerja sebagai manager. Satu langkah lagi menuju bagian informasi.


Terdengar sayup-sayup beberapa karyawati sedang berghibah disana, menyebut nama Rendy. Telinga Sofi pun semakin di pertajam, agar bisa mendengar semuanya dengan jelas.


'Pak Rendy itu kayaknya masih Single dech. Kira kira di deketin bisa gak ya.' ucap Karyawati berbaju merah.


'Gw juga ada rencana mau deketin, tapi Bella sudah bilang, berani mendekati Rendy jadi musuhnya. Tahu sendiri Bella, dia itu siangan terberat kita. Siapa yang gak suka dengan Bella?' ucap Karyawati berbaju biru.


"Assalamualaikum... boleh tahu ruangan Pak Rendy dimana?" tanya Sofi pelan.


JAZAKALLAH KHAIRAN