
"Waalaikumsalam... Anda siapa? sudah ada janji dengan Pak Rendy." tanya wanita itu sedikit ketus.
Sofi hanya memandang dengan tatapan kecewa dengan perlakuan karyawati tersebut.
"Sofi?!!!... " panggil Rangga dengan suara yang keras dan lantang dari arah pintu masuk bangunan itu.
Kedua karyawati yang tengah berghibah tadi langsung menatap ke arah Rangga dan Sofi bergantian.
"Pak Rangga..." ucap Sofi dengan sopan.
"Mau ketemu Rendy?" tanya Rangga kemudian.
"Iya Pak." ucap Sofi pelan.
"Ayok... aku antar kamu Sofi." ucap Rangga dengan lembut.
Rangga pun tampak bersemangat dan terpancar wajah bahagia. Mereka berjalan tidak beriringan melainkan Rangga lebih dulu berjalan dan berada di depan sedangkan Sofi mengikuti dari belakang Rangga.
"Itu makan siang?" tanyanya lagi penuh selidik.
"Iya Pak Rangga." ucap Sofi dengan menunduk.
"Jalan itu pandangan lurus bukan lihat ke bawah, nanti nabrak bagaimana?" ucap Rangga pelan.
Rangga pun berhenti tepat di depan pintu lift untuk menunggu pintu lift terbuka dan mengantarkan keduanya ke lantai empat.
Brukkk.....
Sofi pun menabrak punggung Rangga yang sudah terhenti lebih dulu. Pandangannya masih ke bawah hingga tidak fokus dengan yang ada di depannya.
"Awww... " rintih Sofi pelan, kaget dan merasakan sakit di keningnya yang terbentur punggung keras itu.
Rangga pun dengan spontan langsung membalikkan tubuhnya dan mengusap kening Sofi yang terbalut oleh hijab. Sofi pun tersentak panik dan memundurkan satu langkah ke belakang dengan tujuan tidak mau disentuh.
"Maafkan aku Sofi. Aku hanya panik dan kaget mendengar kamu merintih kesakitan." ucap Rangga dengan lembut.
"Sudah tidak apa-apa Pak Rangga. Di sini ada tangga darurat?" tanya Sofi pelan kepada Rangga.
"Memangnya ada apa? Bukankah naik lift lebih mudah dan tidak akan membuatmu merasa lelah." ucap Rangga.
"Baiklah, oke aku mengerti. Sri...." panggil Rangga kepada OB yang tengah menyapu di sepanjang koridor perusahaan.
Sri pun menoleh dan menghampiri ke arah Rangga atau pemilik Perusahaan ini.
"Sri ikut ke lantai empat sebentar saja, sepertinya ada yang harus kamu kerjakan disana." ucap Rangga pelan.
"Ohh baik Pak Rangga." ucap Sri dengan sopan.
Ketiganya sudah berada dalam satu lift dan memencet tombol angka empat dengan cepat.
Hanya ada rasa canggung dan diam seribu bahasa. Walaupun akhirnya lift itu berbunyi tanda sudah berada di lantai empat.
"Ikuti aku Sofi. Biarkan mereka membicarakan kamu, aku tidak perduli." ucap Rangga mengingatkan.
Sofi pun berjalan tepat di belakang Rangga, bagaikan itik yang mengikuti induknya.
"Mau langsung ke ruangannya? Itu ruangan Rendy." ucap nya pelan.
"Aku langsung saja ya Pak Rangga, ke ruangannya Pak Rendy." ucap Sofi dengan penuh semangat.
Rangga hanya mengangguk pelan, dan membuka pintu ruangannya yang cukup besar.
Sofi pun berjalan dengan langkah kaki yang cukup lebar. Kemudian mengetuk pintu itu dengan sopan.
Sekali lagi Sofi masih mengetuk pintu itu dengan cukup keras. Di buka perlahan pintu ruangan itu, terlihat jelas Rendy Suaminya sedang melaksanakan Sholat Dzuhur di ruangan kerjanya.
"Assalamualaikum... " ucap Sofi dengan sopan dan membuka percakapan.
Satu wanita itu pun terlihat sinis dan tajam menatap Sofi. Pakaiannya di teliti dari atas sampi ke bawah.
Rendy pun bersujud cukup lama agar kelak diberikan solusi dan kemudahan dalam menjalankan rumah tangganya.
"Sofi...?" tanya seseorang dengan suara yang keras.
JAZAKALLAH KHAIRAN