Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 50 PASCA PERNIKAHAN



SELAMAT MEMBACA


💚💚💚💚💚


Mencintai itu fitrah, dicintai itu anugerah, bila saling mencintai itu menjadi berkah. Maka segeralah menikah bila sudah siap lahir batin untuk SAH.


Membina rumah tangga bukan perkara antara aku dan kamu saja. Tapi ada orang tua, saudara kandung dan keluarga besar yang perlu kita jaga tali silaturahminya dan perasaannya.


Setiap orang tentu menginginkan rumah tangga yang adem ayem tanpa masalah. Tidak kekurangan, harmonis, tidak ada pelakor, punya anak yang manis dan nurut, punya mertua yang baik dan to idak nyinyir. Memiliki suami mapan, kaya, dan pengusaha. Memiliki istri yang cantik, sholehah, pintar masak, mandiri, bisa urus rumah, bisa bantu dikantor juga. Hufffftt SEMPURNA...


Pertanyaannya bisa gak sih kayak begitu? dan jawabannya tentu BISA BANGET. Tapi sebelum pengen dapet yang begitu lebih baik kita mengkaji diri kita terlebih dahulu. Kelebihan kita apa? kekurangan kita apa?.


Kadang manusia itu egois menginginkan kesempurnaan, padahal dirinya sendiri belum sempurna.


Pernikahan itu bukan sekedar kita menikah, malam pertama dan honeymoon kemana. Tapi lebih pada bagaimana mempertahankan suatu rumah tangga agar tetap utuh, saling mendukung, saling memotivasi dan saling jujur serta tulus.


Fungsi pasangan hidup itu untuk melengkapi ketidaksempurnaan kita agar menjadi satu kesatuan dan sempurna.


Semua yang indah indah itu hanya ada di dalam dongeng, sedangkan kita hidup di kehidupan yang nyata.


Bagaimana bisa menerima kekurangan pasangan kita. Menerima kejujuran pasangan kita walau menyakitkan. Dan selalu berpikir jernih, karena PERCERAIAN itu bukan solusi tapi musibah untuk kita.


Jalani rumah tangga dengan sebaik baiknya. Kata mengalah bukan berarti kalah, tapi mencoba menyelami sifat dan sikap pasangan kita, yang kita belum tahu.


Selama pacaran kita akan mengenal pasangan yang baik baik saja. Padahal sebenarnya mereka sedang menggunakan topeng untuk menutupi kekurangannya.


Rendy dan soft sedang berada di fase senang, belum ada kerikil kerikil kecil atau bahkan duri duri yang tertancap.


Maka kenalilah pasanganmu dengan baik, kenali keluarga besarnya, dari sana kamu akan mengenal pasanganmu dengan baik.


Hari ini hari terakhir berada di kota K. Kota kecil yang selalu membuat nyaman. Ada rasa enggan untuk kembali ke ibukota. Menjalani rutinitas yang sudah jelas membuat jenuh.


Perjalanan menuju ibukota cukup lama dan melelahkan. Orang tua Sofi langsung kembali ke Kota M menggunakan kereta api. Sedangkan Rendy menginap di kontrakan Sofi.


Sekitar sini hari Rendy pun berangkat menuju bandara. Pesawat akan terbang sekitar pukul 03.00 pagi.


"Kamu yakin gak ikut sama Mas ke Bali Fi?" tanya Rendy pelan.


Entah ini pertanyaan sama yang dilontarkan sudah ke berapa kali. Jawaban Sofi tetap sama yaitu TIDAK.


"Mas, biar aku urus resignku dulu. Biar gak ada masalah nantinya. Setelah itu aku ke rumah Umi ya. Aku bawa mobil sendiri boleh?" tanya Sofi pelan.


"Kenapa sih kamu keras kepala Fi. Kamu ke Bali aja, nanti aku Jumat cuti. Kita bisa pulang untuk persiapan resepsi pernikahan kita." ucap Rendy.


"Kenapa kamu gak Hijrah aja sih Mas, kamu resign juga. Kita usaha aja dirumah, sepertinya lebih nyaman. Coba bayangin tiap Minggu kita dikejar kejar waktu, belum lagi date line. Rejeki sudah ada yang atur Mas." ucap Sofi memberikan pendapatnya.


"Yakin alasanmu untuk hijrah saja, Fi? bukan untuk sesuatu yang mengganjal dihatimu?" ucap Rendy menggoda.


"Maksud kamu Rere? Ya Allah Mas, ya iyalah aku pasti cemburu sama Rere. Puas kamu?" ucap Sofi dengan nada jengkel.


"Kamu maunya gimana? kasih Mas waktu beberapa bulan sampai proyek Mas selesai" ucap Rendy meyakinkan.


Sofi menunjukkan antusiasme terhadap tujuannya ini.


"Mas, belum bisa Fi. Kalau Fi mau buka Mas dukung. Mas takut gak bisa ngebahagiain kamu suatu saat nanti, takutnya dengan Mas resign, ini menjadi boomerang bagi Mas sendiri Fi." ucap Rendy lembut.


"Mas, dari awal Fi gak nuntut apa apa dari kamu termasuk harta. Harta bisa Fi cari Mas. Tapi kenyamanan yang Fi dapat dari suami itu yang lebih penting Mas. Percuma kita menjalani pernikahan tidak punya tujuan yang sama." ucap Sofi pelan.


"Mas, pikirkan ya. Sudah waktunya Mas berangkat. Kamu pulang hati hati ya sayang. Mas selalu merindukan senyuman ini." ucap Rendy pelan.


Berat rasanya meninggalkan pergi, walaupun untuk bekerja.


"Iya, kamu juga hati hati. Jangan selingkuh, walaupun kata orang selingkuh itu indah tapi ingat dosa besar, neraka menunggumu." ucap Sofi sedikit ketus.


Sofi mencium punggung tangan Rendy, kemudian dibalas dengan kecupan di kening, pipi dan bibir Sofi dengan tulus.


Sofi tidak ingin berbalik dan terus melihat punggung suaminya yang semakin menjauh. Ada perasaan tidak rela, tapi karena tugas dan kewajiban suami mereka harus berjauhan. Demi apa? demi uang. Tidak ada yang salah, tapi dengan adanya jarak, bukan tidak mungkin ada orang yang bisa memanfaatkan kesempatan emas ini, kecuali iman mereka benar-benar kuat, rasa percaya dan saling terbuka saat berkomunikasi pun harus sering dilakukan.


Sofi kembali ke parkiran menuju mobilnya. Pikirannya entah kemana. Kata orang menikah itu enak, tapi kenyataanya kita semakin banyak tugas dan tanggung jawab. Mobil pun sudah dinyalakan dan berjalan dengan kecepatan sedang.


Sama halnya dengan Rendy, ungkapan hati seorang Istri yang menginginkan selalu ada kebersamaan bukan egois dalam menggapai tujuannya sendiri. Mungkin dulu saat Single, apapun yang kita inginkan tidak perlu memikirkan siapapun karena kita tidak punya komitmen. Tapi sekarang, semuanya harus dibicarakan baik baik, kalaupun keputusan sudah diambil, sebisa mungkin kita legowo menerimanya.


Hari ini Sofi berangkat ke kantor dengan pakaian gamis panjang. Sesuai keputusan dari Pusat, permohonan resignnya diterima, jadi Sofi harus ke kantor untuk menandatangani berkas berkas yang diperlukan.


Sofi menemui Ika, dan meminta berkas yang dititipkan oleh Pak Jae, karena PK Jae harus rapat mendadak di Pusat.


"Sofi, ini berkasnya, kamu tanda tangani semuanya. Aku pasti kehilangan kamu Sofi." ucap Ika dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Ika, tetap Istiqomah ya. Oh iya, nanti siang ada yang kirim kotak makan siang, bagikan untuk seluruh karyawan. Sore ini juga aku balik ke kota K Ika. Aku mau buka usaha disana. Aku mau fokus sama keluarga kecilku." ucap Sofi pelan.


Hidayah Hijrahnya benar benar sudah mendarah daging, seolah olah Sofi ingin melakukan apapun yang memang sudah di ridhoi suaminya. Dengan begitu usahanya pun pasti berjalan lancar dan penuh keberkahan.


"Sofi, ini uang pesangon kamu, tanda tangan ya. Uangnya nanti siang langsung ditransfer ke rekening kamu." ucap Ika pelan.


"Makasih Ika. Aku gak bisa lama lama. Aku mau langsung balik ke kota K." ucap Sofi pelan.


"Iya Sofi, hati hati ya. Oh iya Sofi, kamu tahu Ronal kan dapet promosi jadi wakilnya Rendy." ucap Ika pelan.


"Kok bisa sih?" ucap Sofi sedikit was was.


"Aku juga gak tahu. Katanya proyek yang kedua, Ronal sudah kenal dengan investornya, nilai proyek ini lebih besar." ucap Ika menjelaskan.


"Semoga saja, mereka akur Ika. Aku pulang ya Ika, selamat tinggal." ucap Sofi sambil memeluk Ika yang mulai terisak.


------------------------


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚