Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 52 KEPUTUSAN TERBAIK



SELAMAT MEMBACA


💚💚💚💚💚


Hari ini adalah hari yang membuat Rendy kecewa, kejanggalan di kantornya, sudah tidak dipedulikan lagi. Malam ini Rendy pun bertekad untuk meminta petunjuk yang baik, kalau memang harus mengundurkan diri, maka akan Rendy lakukan. Percuma bekerja, hanya sebagai pajangan, yang suatu saat pasti akan dipindahkan atau dibuang. Lebih baik mengundurkan diri secara baik baik dan lebih terhormat, walupun di pandang lawan kita kalah sebelum berperang.


Ponselnya dari siang hanya di mode diam, banyak telepon dan chat dari Sofi. Sedikitpun tidak dibaca dan tidak diangkat. Hatinya masih belum mood, takutnya akan memperkeruh masalah. Hingga ketukan Hana di depan pintu kamar Rendy pun membuyarkan lamunan Rendy.


"Assalamualaikum... Pak Rendy?" ucap Hana sambil mengetuk pintu kamar Rendy.


"Waalaikumsalam, iya Hana sebentar." jawab Rendy, sambil memakai kaos dan celana panjangnya.


Rendy pun membukakan pintu kamar Rendy, dan keluar menuju ruang TV.


"Maaf Pak Rendy kalau mengganggu, saya baru saja dapat email dari pusat, bahwa dana untuk proyek Ronal harus segera dicairkan. Padahal proyek itu belum ACC Pak, kira kira bagaimana ini?" ucap Hana pelan.


"Rere dimana?" tanya Rendy pelan kepada Hana.


"Pergi dengan Pak Ronal sejak sore." ucap Hana menjelaskan.


"Hana, saya tidak ingin terlibat lebih jauh lagi. Sudah saya putuskan, saya akan mengundurkan diri. Tolong buatkan surat pengunduran diriku malam ini juga kirim ke Pusat agar besok bisa direspon cepat. Pastikan semua pekerjaan saya beres, buatkan laporannya sekarang jangan lupa tetap simpan flashdisk, saya takut data kita disalah gunakan." ucap Rendy pelan.


"Lalu saya bagaimana Pak?" tanya Hana pelan.


"Hana kamu masih Single, berkarirlah dulu. Tapi kalau kamu sudah tidak nyaman, ya keputusan ditanganmu." ucap Rendy pelan.


"Pesankan tiket pesawat untuk pagi hari. Pastikan pekerjaanku beres, biar saya beres semua, kalau bisa makam ini selesaikan. Nanti saya hitung lembur." ucap Rendy mantap.


"Baik Pak Rendy. Saya siapkan dulu. Nanti kalau sudah selesai, bapak tinggal tanda tangan." ucap Hana lembut.


"Terima kasih Hana." ucap Rendy pelan, tubuhnya segera berbalik menuju kamarnya.


"Pak Rendy, tadi Bu Sofi telepon saya, sesuai permintaan bapak, saya bilang bapak sedang sibuk mengurus proyek sepertinya pulang malam." ucap Hana pelan.


"Iya Hana, tidak apa-apa. Jangan beritahu Sofi tentang pengunduran diri saya, dan jangan bilang saya akan ke ibukota besok, termasuk Rere. Besok pagi saya langsung ke bandara, jdi tolong selesaikan malam ini juga Hana." ucap Rendy sedikit keras.


Rendy tidak menyangka secepat ini pergerakan Ronal ingin menjatuhkannya sebelum rahasianya terbongkar. Akan lebih baik, besok kita tidak bertemu dan kita selesaikan semuanya di Pusat.


Hana pun kembali ke kamarnya untuk menyiapkan berkas berkas yang diperlukan oleh Rendy. Malam ini harus beres, biar pagi pagi bisa minta tanda tangan.


Tangannya sangat lihai sambil mencari tiket untuk ke ibukota yang akan dipesannya. Tiket sudah dapat pemberangkatan pagi jam 06.15.


Rendy sudah duduk di tepi ranjangnya. Memasukkan pakaiannya ke koper besar dan barang barang pribadinya. Semua sudah rapi dan beres, dua koper besar siap menuju bandara.


Setelah ini aku ke pusat untuk menyelesaikan pengunduran diriku dan kembali ke rumah, membuka usaha bersama istriku.


Semoga jalan yang aku pilih ini tepat dan baik bagi keluargaku.


Dibukanya chat istrinya, disana menanyakan kabar Rendy, sudah tentu Sofi mengkhawatirkan keadaan suaminya. Sama seperti Rendy, Sofi pun sedang dalam mood yang tidak baik.


Sofi sudah kembali ke rumah Rendy di kota K. Besok pagi semuanya sudah terjadwal dengan baik, akan memulai mencari tempat untuk usahanya bersama Umi.


"Assalamualaikum..." panggil Umi sambil mengetuk pintu kamar menantunya ini.


"Waalaikumsalam Umi, masuk gak dikunci." ucap Sofi pelan, sambil membetulkan posisinya menjadi duduk tegak bersandar pada ranjang.


"Kamu gak makan Nak, Umi lihat kok cemberut aja dari datang tadi. Ada apa sayang? ceritakan sama Umi." tanya Umi lembut.


Sofi pun menghela nafas dengan kasar. Sebenarnya tidak ingin cerita apapun, takut dikira mengadu, tapi mungkin bisa memberikan kelegaan di hatinya.


"Umi, Mas Rendy, sehari ini tidak mengabariku, Sofi sudah telepon Hana sekretaris Mas Rendy, dia bilang Mas Rendy sibuk, dan pulang malam. Umi tahu, disana ada Rere, dia suka banget sama Mas Rendy, takutnya mereka..." ucap Sofi terhenti, membayangkan hal hal yang bisa saja terjadi, mengingat mereka satu mess jadi tidur satu atap. Astaghfirullah.....


"Selingkuh maksud Sofi?" tanya Umi menembak.


Sofi hanya mengganggukkan kepalanya, bibirnya masi tertutup rapat.


"Iya Umi." ucap Sofi lirih.


"Sofi, Rendy itu anak Umi, Umi kenal betul Rendy seperti apa. Rendy itu tidak mudah mendekati perempuan, apalagi jalan berdua. Jauhkan pikiran pikiran burukmu itu terhadap suamimu. Lebih baik doakan suamimu, agar terhindar dari bahaya, agar dilancarkan pekerjaannya. Kalau kamu memikirkan yang baik baik maka hasilnya pun baik, tapi kalau kamu meragukan Allah SWT, maka apa yang kamu pikirkan bisa jadi kenyataan. Hakikatnya, berpikir juga termasuk doa dalam hati. Jadi berhati-hatilah dalam berucap dan membatin." ucap Umi dengan lembut.


Kepala Sofi sudah berada dipangkuan Umi. Nyaman sekali bercerita dengan mertuanya ini.


"Umi, acara kita besok jadi kan?" tanya Sofi dengan sopan.


"Jadi sayang, Umi sudah dapat lokasinya, kalau kamu cocok, kita langsung pembangunan disana. Kamu mau memberi nama apa?" tanya umi pelan sambil membelai rambut Sofi yang hitam dan panjang.


"Saung Kang Rendy. Menyediakan masakan khas Sunda. Gimana Umi?" ucap Sofi pelan.


"Umi setuju sayang, lalu kamu jadi membeli rumah?" tanya Umi pelan.


"Jadi Umi, Sofi sudah ijin sama Mas Rendy, ingin membeli rumah yang sederhana saja Umi, nanti di depannya mau Sofi buat Butik biar Sofi gak jenuh di rumah." ucap Sofi pelan.


"Biayanya besar lho sayang membeli rumah dan membuat butik, belum lagi kamu mau membangun Saung Kang Rendy." ucap Umi pelan.


"Doain saja, uangnya cukup, tadi siang Imah pesangon Sofi sudah turun. Lumayan untuk membuka usaha. Nanti kekurangannya Sofi bicarakan dengan Mas Rendy. Umi dan Abah cukup mendoakan Sofi dan Mas Rendy, semoga semua yang Sofi impikan berjalan dengan lancar." ucap Sofi mantap.


"Aamiin ya rabbal alamin. Doa Umi selalu ada untuk kamu sayang." ucap Umi lembut sambil memeluk Sofi dengan penuh kasih sayang.


"Makasih ya Umi, Sofi sayang banget sana Umi." ucap Sofi pelan.


Abah dan Umi sudah dianggap seperti orang tua kandung Sofi. Sofi sangat menghormati badan menyayangi kedua mertuanya ini, hingga kedekatannya membuat para tetangganya pun iri dengan keharmonisan antara menantu dan mertua itu.


Hari ini mungkin penuh kekecewaan, besok kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Memohonkan yang baik baik, agar Allah SWT juga memberikan yang terbaik untuk hambanya.


-------------------------


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚