Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 58 BERCOCOK TANAM LAGI



Mungkin ini hukuman bagi istri yang durhaka pada suami. Ditinggalkan, keduanya bersalah. Tidak semestinya juga seorang suami atau kepala rumah tangga pergi atau menghindar bila masalah datang. Bukankah tugas suami itu melindungi istrinya dan menjaga istrinya. Kalau suaminya lari dari masalah yang mau tangung jawab siapa?


Kata kata itu terngiang-ngiang saat Rendy membawa motornya ke rumah Umi. Ditengah perjalanan, Rendy pun berbalik arah dan kembali ke rumah.


Teras rumah yang cantik, penuh dengan bunga-bunga, dan warna cat rumah yang masih bersih menambah kesan elegan.


Rendy menatap tukang nasi goreng yang berhenti tepat di depan rumahnya. Rendy pun mendekati gerobak yang sedang terparkir di sana.


"Bang, nasi goreng dua, satu pedes yang satu jangan pedes sama sekali." ucap Rendy pelan.


Rendy pun langsung memarkirkan motornya di garasi samping rumah dan langsung menutup pintu dan menguncinya.


Rendy mengetuk rumah.


"Assalamualaikum..." ucap Rendy pelan, ketukannya semakin kencang..


"Waalaikumsalam..." ucap Sofi membuka pintu rumah dengan senyum yang ramah.


"Fi, kita makan nasi gorengnya jadi kan? sini kita duduk diteras." ucap Rendy dengan lembut sambil menarik tangan Sofi menuju teras untuk duduk bersantai.


Rendy pun setengah berlari menuju dapur mengambil dua gelas berisi air putih untuk menemani nasi goreng nanti.


Nasi goreng pesanan Rendy pun sudah diantarkan. Mereka saling menatap dan rindu dan ada rasa bersalah diantara mereka.


Rendy menyendokkan nasi goreng dan menyuapkan ke mulut Sofi. Sofi pun menerima dengan senang hati.


"Ini suapan pertama, permintaan maaf ku yang sudah meninggalkan istriku." ucap Rendy pelan.


Sofi pun melakukan hal yang sama, baginya ini moment yang pas untuk meminta maaf.


"Ini suapan pertama untuk suamiku tercinta, maafkan istrimu yang egois ini." ucap Sofi pelan.


Mereka saling berpandangan dengan penuh cinta dan sayang, mereka pun tertawa dengan tingkah mereka tadi yang terlalu kekanak-kanakan. Saling memaafkan adalah hal yang paling baik, terlebih bila mengakui kesalahan itu keberanian yang luar biasa.


"Maafkan aku Sofi, aku tidak pernah tahu menjadi kamu dan berada di posisi kamu. Tapi percayalah, aku ini suamimu, aku akan bertanggung jawab dan menafkahimu dengan baik." ucap Rendy dengan mantap.


"Maafkan aku juga, kesalahan paling besar adalah menunda amanah dari Allah SWT. Dengan menunda amanah, maka sama saja kita menunda rejeki yang diberikan oleh Allah SWT. Aku siap Mas." ucap Sofi pelan sambil menunduk malu.


"Siap apa?" ucap Rendy dengan pura pura polosnya.


"Siap menerima amanah dari Allah SWT." ucap Sofi dengan tenang menjawab.


"Amanah apa Fi?" ucap Rendy sambil menghabiskan nasi goreng di piringnya.


"Anak Mas, keturunan?" ucap Sofi pelan, wajahnya terlihat memerah dan malu.


"Kamu serius Fi?" tanya Rendy kemudian.


"Iya Mas, aku akan berusaha menjadi istri dan ibu yang baik." ucap Sofi mantap.


Rendy pun menghabiskan suapan terakhirnya dan meneguk habis air minum itu.


"Kamu beneran siap?" tanya Rendy kembali.


"Iya , siap. Kamu kenapa sih Mas, kok nanya begitu terus." tanya Sofi sedikit jengkel.


"Kita bercocok tanam setelah ini, ini malam pertama di rumah baru kita." ucap Rendy pelan setengah berbisik di dekat telinga Sofi.


Sontak Sofi merinding kegelian mendengar bisikan bernafsu itu. Hembusan nafas Rendy sukses membuat Sofi merinding di sekujur tubuhnya. Ada rasa gelenyar aneh sewaktu Rendy mengucap akan bercocok tanam setelah ini. Membayangkan bercocok tanam hingga hasil memuaskan bisa memakan waktu yang cukup lama.


Sofi masih terdiam dan mengunyah setelah menerima suapan terkahir dari suaminya.


Malam ini menjadi pelajaran bagi mereka. Menghadapi suatu masalah bukan pergi atau menghindari tapi bicarakan baik-baik hingga menemukan solusi yang tepat. Intinya jangan egois dan memikirkan diri sendiri. Jadilah pasangan yang menguatkan di saat pasangannya terjatuh.


Malam semakin sunyi, waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam. Jalan depan terbilang sepi, hanya ada beberapa kendaran roda dua yang berlalu lalang, dan beberapa tukang dagang yang menjajakan makanannya.


"Masuk ya Fi, tambah dingin nih, Mas butuh kehangatan." ucap Rendy sedikit merayu, agar bercocok tanam kali ini membuahkan hasil.


"Iya Mas, nanti Sofi selimutin, ada banyak di lemari." ucap Sofi menahan tawanya dalam hati.


"Kok selimut sih Fi?" ucap Rendy sambil menutup pintu dan menguncinya.


"Katanya mau yang hangat? Mau kopi?" tanya Sofi pelan.


"Mau nyusu aja, boleh?" ucap Rendy sedikit mesum mengarahkan pandangannya ke dada Sofi.


Sofi yang tersadar pun menutupi dadanya dengan kedua tangannya.


"Mas, ihh kamu mesum banget sih." ucap Sofi setengah berteriak.


"Sama istri lho Fi. Halal, dapat pahala lagi." ucap Rendy mengingatkan kewajiban sang istri.


"Mau kopi gak? katanya mau bergadang?" ucap Sofi sedikit mengejek.


"Wah sinyal bagus nih, boleh lah sayang, campurin susunya di kamar aja ya." ucap Rendy yang langsung pergi meninggalkan Sofi sendiri


Sofi menatap kesal suaminya itu. Sekesal apapun terhadap suami, Sofi tetap berusaha menjadi istri yang baik. Melayani suaminya dengan penuh cinta.


Sofi membawa dua gelas kopi beserta cemilannya. Sepertinya aura kesiapan bercocok tanam pun sudah mulai terlihat.


Rendy yang sudah menunggu sejak tadi, sudah tidak sabar untuk bercocok tanam di lahan yang halal. Lahan yang sudah beberapa kali di aliri air itu ternyata ada kesalahpahaman sehingga benih benih yang sudah tertanam pun hanyut dengan obat pengusir benih.


Malam ini mereka berdua tampak bersemangat, setelah kejadian kesalahpahaman itu, mereka berdua menyadari kesalahannya dan mengungkapkan penyesalannya dengan bercocok tanam yang baik.


Ini yang dinamakan kesalahpahaman membawa nikmat.


Sofi sudah siap dengan lingerie yang belum sempat dipakainya. Rendy sudah tidak sabar dengan segera mematikan lampu hingga gelap gulita. Hanya ada sinar lampu dari rumah tetangga yang masuk ke celah-celah gorden.


Hawa yang panas, akibat pemanasan yang terlalu berlebihan membuat keringat kenikmatan itu sudah mulai bercucuran. Satu per satu perlengkapan bercocok tanam pun dilepaskan tinggal tersisa lahan gambut yang sudah gembur dan basah. Wadah benih yang sudah mengeras siap ditebarkan di seluruh area lahan itu. Mereka berdua terus saja mencangkuli lahan itu dari perlahan hingga tercepat hingga fast speednya tidak berfungsi lagi, mereka sudah tidak terkontrol, teriakan kecil membuat semuanya tenggelam dalam kepuasan hingga wadah itu menyemburkan benih entah berapa jumlahnya. Rasa hangat, nikmat, bercampur mnejadi satu membuat semua beban dan pikiran sejenak terlupakan.


Rendy hanya tersenyum dan terus mengecup pipi dan bibir Sofi bergantian. Wadah benih itu masih ingin terus tinggal di lahan gambut yang sedikit sempit. Semakin ditarik keluar ada cengkeraman dari dalam yang menahannya.


"Fi, kok masih di jepit sih, masih mau lagi?" tanya Rendy mencium kembali bibir Sofi.


"Belum rela Mas untuk ditinggalkan." ucap Sofi yang polos, sudah tidak ada akhlak sama sekali.


"Mau di ulang lagi benar benihnya Fi?" ucap Rendy kemudian yang masih mencium bibir mungil Sofi.


"Ini sudah jam dua, hitung sudah berapa jam kamu bermain main, hemmmm ?" tanya Sofi yang mulai lelah, tapi masih ingin mengulanginya.


"Kalau masih ingin jangan ditahan, katakan aja, aku sudah ahli dalam hal tebar menebar." ucap Rendy sambil tersenyum.


Jepitan dari dalam pun mulai mengendur, dan wadah benih sudah sukses keluar tanpa perlawanan.


Rasa cape dan lelah membuat keduanya pun lelap mendekap satu sama lain. Nikmatilah yang halal, karena cap halal itu benar-benar luar biasa nikmat.


JAZAKALLAH KHAIRAN