
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Kebersamaan seperti ini yang selalu dinantikan. Semoga tetap abadi dan selamanya.
"Bapak dan mama mau makan dulu, atau gimana?" ucap Sofi lembut.
"Terserah kamu Nak, gimana baiknya aja. Mama ngikut aja, ini kan acaramu." ucap mama pelan.
"Kita makan dulu apa gimana mas?" ucap Sofi lembut.
"Kita makan dirumah aja ya, bude sudah nyiapin semuanya." ucap Rendy mantap.
Sepanjang jalan mereka bercerita dengan bahagia, hingga lupa dengan status mereka yang masih belum mempunyai restu halal.
Orang tua Sofi sudah mulai open dengan hubungan mereka. Dan mereka sudah mulai menerima Sofi dengan keyakinan baru yang dianutnya. Mereka sadar perbedaan itu indah, bila saling menghargai dan menghormati.
Tak terasa, tujuan perjalanan mereka pun telah sampai.
"Ayok Ma, Pak kita masuk." ajak Sofi .
"Assalamualaikum.... bude" ucap Rendy sambil mengetuk pintu depan.
"Waalaikumsalam, Rendy, Sofi, ini orang tuanya Sofi? silahkan masuk dulu." ucap bude dengan sopan.
"Iya terima kasih." ucap mama lembut.
Mereka masuk dan berkumpul di ruang tamu, semua barang sudah dibawa Sofi ke kamar tamu untuk menginap kedua orang tuanya dan adiknya.
"Nama saya Dinda, saya budenya rendy. Bagaimana kabarnya bapak dan ibu? bagaimana perjalanannya?" ucap bude lembut.
"Saya Hayu mamanya Sofi, dan ini Lukas papa sofi. Kabar saya dan keluarga baik, dan perjalanannya kesini cukup melelahkan Bu. Sofi sering kesini?" tanya mama menyelidik.
"Sering bahkan sering menginap disini untuk menemani saya, karena Rendy kan sekarang di Bali." ucap bude dengan tenang.
"Maaf, kalau orang tuanya Rendy usahanya apa?" ucap mama penasaran.
"Banyak Bu, punya tambak ikan, sawah dan tanahnya banyak, sampai dijuluki tuan tanah, abahnya Rendy juga mempunya pabrik gilingan beras. kenapa Bu, bertanya seperti itu?" ucap bude Dinda pelan.
"Hanya bertanya Bu, jangan tersinggung ya Bu." ucap mama pelan.
"Kita makan saja dulu kebetulan sudah pada siap semua, ayok kita ke ruang makan. Nanti setelah makan, silahkan kalau mau istirahat." ucap bude Dinda baik.
Sofi dan Rendy pun keluar dari kamar tamu, setelah mereka merapikan tempat untuk istirahat kedua orang tuanya itu. Mereka berdua bergabung dengan bude dan orang tua Sofi untuk makan bersama.
"Wah, ini menunya enak sekali. Bu Dinda yang masak semuanya?" ucap mama memuji.
"Pesen Bu Hayu, di restoran favorit keluarga kita. Betul kan Rendy?" ucap bude Dinda sambil menoleh ke arah Rendy.
"Iya Bu Hayu, ini semua kita pesan, bude terlalu repot untuk memasak makanan sebanyak ini, iya kan sayang tadi kamu yang pesan?" ucap Rendy kepada Sofi yang sedang menyiapkan makanannya ke dalam mulutnya.
Sofi hanya tersenyum dan mengangguk. Ini memang bude yang pesen tapi Sofi uang merekomendasikan restoran favoritnya dengan Rendy.
"Ini enak sekali Bu Dinda, benar benar restoran bintang lima." ucap mama memuji.
Acara makan pun hanya ada ketenangan dan kebisuan. Tidak ada cerita atau obrolan, sunyi sekali.
"Mama kalau mau istirahat, silahkan. Besok perjalanan lumayan jauh, kita berangkat setelah shubuh. Kalau mama mau nonton TV silahkan." ucap Sofi mengakhiri makannya.
"Iya Sofi, mama mengerti. Mama duluan ke kamar ya. Mari Bu Dinda, Nak Rendy. Ayok pak, Krisna kita istirahat dulu." ucap mama lembut.
"Bude, mas Rendy, Sofi ke kamar dulu ya." ucap Sofi lembut.
"Iya Sofi, bude mau ngobrol sedikit dengan Rendy ya." ucap bude Dinda lembut.
"Rendy, kamu benar, keluarga Sofi memang matre. Tadi juga tanya tanya ke bude. Tapi Sofi itu anak baik, kamu jangan ragu Rendy. Biar bagaimanapun juga Sofi itu sudah SAH menjadi istri kamu." ucap bude pelan.
"Bude, Sofi biar tidur dikamar Rendy, nanti Rendy tidur diruang TV aja. Takut kangen bisa pindah bude." ucap Rendy terkekeh.
"Jujur saja sama keluarganya Sofi, bude rasa mereka akan menerima kamu dengan baik." ucap bude meyakinkan.
"Tadi siang, Sofi bilng mau resign, dan buka usaha dengan umi. Dia juga nyuruh Rendy resign. Bude kan tahu sendiri setengah saham perusahaan Alkit milik Abah. Dan setengahnya lagi milik sahabat abah, Pak Lukman." ucap Rendy menjelaskan.
"Lalu solusi kamu apa? apa yang membuat Sofi tidak betah dikantor?" ucap bude menyelidik.
"Sebenarnya ada tunangan Sofi disana. Kemudian menurut info Direktur Jae pun menyukai Sofi. Rendy ingin Sofi di mutasi ke Bali." ucap Rendy datar.
"Bicarakan baik baik dengan Sofi, ini rumah tangga kalian. Bude tidak mau ikut campur." ucap bude pelan.
"Iya bude, Rendy menyusul Sofi dulu ya. " ucap Rendy sambil berlalu menuju kamarnya.
"Assalamualaikum, sayang.." ucap Rendy pelan sambil mengetuk pintu.
ceklek....
Kebiasaan pintu gak dikunci, kamar gelap begini, batin Rendy sambil menutup pintu kamar dan menguncinya. Sambil berjalan mengendap ngendap seperti maling. Lalu naik ke atas ranjang.
"Waalaikumsalam... udah kayak maling aja kamu mas?" ucap Sofi lirih.
"Kamu belum tidur fi? iya biar kamu gak keganggu, tapi malah aku yang kaget. Iya suamimu ini maling, tapi maling cinta." ucap Rendy yang sedikit kaget mendengar suara Sofi.
"Aku nungguin kamu mas, lama banget ngobrolnya sama bude. Ngomongin apa sih mas." ucap Sofi penasaran.
Mereka tidur berhadap hadapan, dan mulai serius dengan pembicaraan mereka.
"Besok juga kamu akan tahu sayang, sekarang kamu tidur ya." ucap Rendy pelan sambil mengelus elus pipi Sofi dengan lembut.
"Apa kamu tidak menginginkannya mas? aku siap kok." ucap Sofi datar.
"Kamu ngomong apa, aku kan sudah janji pada kamu, kalau sudah tiba saatnya pasti aku akan meminta hakku." ucap Rendy pelan dan mendekatkan wajahnya ke wajah Sofi.
Kini kening mereka pun bertautan, tangan Rendy pun sudah sukses memeluk pinggang Sofi.
"Bukankah kita sudah SAH? apa lagi yang kamu tunggu?" ucap Sofi mengiba.
"Aku sudah janji dengan bapakmu untuk menjaga kamu Sofi, tolong jangan paksa aku untuk khilaf." ucap Rendy mengelus elus punggung Sofi.
"Aku takut dilaknat Allah SWT, karena tidak memberikan hak kepada suamiku sendiri." ucap Sofi memelas.
"Kamu kenapa Sofi? kamu tidak seperti biasanya? ada apa?" ucap Rendy lembut.
"Aku takut dengan Ronal, mas Rendy" ucap Sofi pelan.
"Ada aku sayang, aku selalu menemanimu." ucap Rendy lirih dan mencium bibir Sofi singkat.
Mereka saling bertatapan, ada perasaan aneh, tapi dilema. Tatapan mereka semakin sendu dan berharap.
"Aku mencintaimu Sofi, biarkan kita seperti ini dulu, maafkan aku sedikit khilaf." ucap Rendy dengan mencium bibir Sofi.
Kali ini sedikit khilaf ciuman itu pun semakin dalam dan semakin panas. Ada *******, ada hisapan dan ada gigitan kecil yang mampu membangkitkan gairah mereka. Bibir mereka seakan menginginkan terus dan tidak ingin terlepas. Pelukan keduanya pun semakin erat, tangan nakal Rendy pun sudah mulai menjelajahi area terlarang, namun dilanggar. Hingga ciuman itu berakhir dileher, mendengar desahan Sofi pun membuat Rendy tersadar, ini akan menjadi lebih jauh.
Rendy pun menyudahi ciumannya, membuat Sofi kaget dan menunjukkan wajah kecewa. Pakaiannya sudah terangkat keatas akibat tangan jahil Rendy. Rasanya itu seperti sudah di puncak kemudian di hempaskan ke jurang. Sungguh tidak nyaman sekali.
--------------------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚