
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚💚💚
"Tidak semudah itu Sofi. Aku sudah membayar mahal untuk dirimu kepada keluargamu!!! Jangan buat aku marah Sofi!!" ucap Ronal dengan tangan sudah mengepal.
"Berapa Ronal!!! aku kembalikan semua uangmu!!!" ucap Sofi dengan keras.
Tangan Sofi pun dipegang erat hingga kulitnya membekas kemerahan. Dan ditariknya Sofi menuju pantry. Didorong nya tubuh Sofi ke dinding. Wajah Ronal yang biasa terlihat tampan, klo ini terlihat beringas dan kejam.
"Kamu tidak perlu repot-repot untuk membayar semuanya nona cantik. Cukup menikah denganku saja, semuanya lunas." ucap ucap Ronal licik.
Ronal pun merapatkan tubuhnya ke tubuh Sofi yang sudah berada di ujung tembok.
"Aku teriak Ronal, aku tidak main main!!" ucap Sofi kasar.
"Teriak saja sesuka hatimu Sofi sayang, lihatlah ini lantai enam. Disini hanya ada pantry dan gudang administrasi. Tidak akan ada yang tahu. Aku ingin memberi pelajaran sedikit padamu sebelum aku ingin bermain main denganmu." ucap Ronal memandang tajam mata Sofi.
"Maumu apa? kita ini teman Ronal." ucap Sofi ketus.
"Ada dua pilihanmu? lepas jilbabmu dan kita menikah? atau aku paksa kamu untuk hal yang lain?" ucap Ronal terkekeh.
"Pilihan pertamamu jelas tidak mungkin aku lakukan Pilihan kedua, apa maksudmu?" ucap Sofi setengah berteriak.
"Aku mencintaimu Sofi. Apapun yang sudah ku miliki tidak akan ku lepas, kecuali aku yang melepaskannya." ucap Ronal datar.
"Apa yang kamu lakukan pada Ika? Apa?" ucap Sofi membentak.
"Dia yang menyerahkan mahkotanya padaku, lalu aku bisa apa? hanya orang bodoh yang mendiamkannya!! Aku melakukan apa yang memang seharusnya terjadi. Dia sudah mengadu padamu. Lalu kamu menyalahkan ku sebagai laki laki, bukan dia sebagai perempuan murahan yang dengan mudah tidur dengan pria lain." ucap Ronal tertawa senang.
"Apa katamu? Dia sahabatku, aku tentu tahu Ika seperti apa?" ucap Sofi keras.
"Jangan menilai orang dari casingnya. Bukankah di agama barumu itu juga diajarkan? tidak boleh berduaan dengan yang bukan mahramnya? Aku tahu Sofi !!!! aturan itu untuk dilanggar." ucap Ronal tersenyum.
"Astaghfirullah... pergi kamu Ronal." ucap Sofi dengan ketus.
Dengan kekuatan ekstra, Sofi pun bisa mendorong Ronal yang sudah mendekat pada tubuhnya. Sofi pun berlari kencang menuju ruangannya. Jantungnya berdegup kencang, mendengar Ronal mengatakan "Aku tahu, aturan itu untuk dilanggar". Apa maksud Ronal mengatakan itu?, batin Sofi.
"Masya Allah, dari mana Sofi, tadi dicariin, tuh Rendy nelepon terus. Katanya jangan lupa jemput." ucap Ika pelan.
"Ika, Ronal nekat tadi di pantry, gue takut. Gue cabut ya. Loe selesain tugas gue ya. Ijinin gue ke Pak Jae. Makasih Ika sayang" ucap Sofi.
Sofi berlari cepat ke arah parkiran, dan segera menaiki mobilnya. Tanpa diduga, Ronal pun masuk duduk disamping Sofi.
"Mau apa kamu Ronal?? turun!!! Kalau loe gak mau turun, gue yang turun dan teriak." ucap Sofi lantang dan mengancam.
"Selamat bersenang-senang dengan Rendy. Satu hal yang perlu loe ingat. Gue bisa ngehancurin Rendy dan hubungannya sama loe lewat jarak jauh." ucap Ronal sambil keluar mobil dan membanting pintu mobil dengan kencang.
Sofi pun langsung menyalakan mobilnya dan melaju sangat kencang menuju bandara. Dua jam berkutat dengan setir mobil dan jalanan yang padat, ditambah emosi yang meletup letup. Sampailah juga dibandara dengan selamat, walupun hati tidak bersemangat.
Sofi pun melangkahkan kakinya ke sebuah cafe dan memesan kopi. Diliriknya jam yang melingkar manis dipergelangan tangannya, untuk melihat waktu saat ini. Masih Tiga puluh menit lagi Rendy sampai bandara, gumam Sofi.
dreeettt dreeeert....
📱My Husband...
"Assalamualaikum sayang kamu dimana?" ucap Rendy lembut.
"Waalaikumsalam, aku di cafe xx Deket ruang tunggu mas Rendy." ucap Sofi lembut.
"Hai sayang, kok suami datang malah cemberut sih." ucap Rendy pelan sambil mencubit gemas pipi Sofi dan mencium pipi Sofi dengan lembut dan Sofi pun mencium punggung tangan Rendy.
Sofi pun bergelayut manja. Mungkin dengan memeluk Rendy, perasaannya hari ini bisa lebih tenang.
"Hai mas, aku gak cemberut cuma sedikit lelah aja. Mas, aku resign, kamu juga resign, kita buka usaha aja dirumah. Buka pemancingan atau cafe. Gimana? aku juga gak terlalu suka kehidupan di Bali." ucap Sofi panjang lebar.
"Tumben nih kamu mau bicarakan masalah ini. Ada apa sayang, aku jadi curiga?" ucap Rendy menyelidik.
"Kita bahas nanti dirumah ya sayang. Kamu mau pesan apa?" ucap Sofi menawarkan daftar menu pada Rendy.
"Kita makan ditempat biasa, danau buatan? mau?" ucap Rendy.
"Boleh, keluargaku udah berangkat mas, katanya jam duaan juga sampai. Kita nanti langsung jemput mereka. Bawa dihotel aja." ucap Sofi.
"Di rumah bude aja fi, ada kamar kosong kok. Kenapa harus di hotel sih." ucap Rendy datar.
"Aku dimana?gak mungkin kan tidur sama kamu? orang tuaku bisa curiga." ucap Sofi pelan.
"Kamu sama bude, kalau malam pindah ya, aku kangen sayang." ucap Rendy dengan memelas.
"Iya sayang, aku juga kangen banget sama kamu." ucap Sofi dengan nada manja.
Sofi dan Rendy pergi meninggalkan cafe xx menuju restoran favorite mereka berdua. Di sana ada danau buatan yang indah, dan benar benar memanjakan mata.
"Hari ini aku belum dapet ciuman mesra dari istri ya." ucap Rendy penuh semangat.
"Nanti dirumah, banyak orang jangan membuat orang itu berprasangka buruk, walaupun kenyataannya kita sudah halal. Harus bisa menempatkan diri." ucap Sofi menggurui.
'Wah hebat nih, istri mas udah bisa berdakwah." ucap Rendy terkekeh.
"Gak sia sia kan ijin suami untuk ikut kajian, hasilnya nyata. Aku banyak belajar mas, apalagi kalau membahas tugas istri dan membina hubungan baik dalam berumah tangga." ucap Sofi pelan.
"Aku suka dengan niatmu dan semangatmu. Ntar mas cek, baca Al-Qur'an nya gimana?" ucap Rendy tegas.
"Siapa takut, aku siap ditest sama kamu. Aku gak main main berhijrah mas. Aku belajar dengan bude. Mas Rere gimana?" ucap Sofi pelan.
"Masih cemburu? belum percaya sama aku?" ucap Rendy menghela nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. Wanita itu ribet. Jujur menangis, gak jujur malah ajur, batin Rendy.
"Istri wajib kan menanyakan teman wanita, atau karyawan suaminya? apa aku salah?" ucap Sofi pelan dan menatap sendu kedua bola mata Rendy.
"Percaya sama aku Sofi, cuma kamu yang aku cinta, gak ada yang lain. Jadi gak perlu menanyakan yang lain. Paham sayang?" ucap Rendy pelan.
***Cantik wajah hanya dapat menyentuh mata, cantik akhlak pasti menyentuh hati.
Tidak setiap mata dapat melihat kecantikan wajah. Tapi setiap hati dapat merasakan kecantikan akhlak.
-------------+++++++++++------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, DAN KOMENTNYA
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚***