Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 66 GELAGAT MODUS



Hari ini benar-benar hari terburuk sekaligus hari yang membahagiakan. Rendy sampai tidak habis pikir dengan Rangga sahabatnya yang begitu memuja lewat tatapannya.


"Rangga, yuk balik, gue pamit sama Abah, Umi dan Bini gue dulu. Loe tunggu sini aja." ucap Rendy bertitah.


Sengaja Rangga di suruh menunggu agar tidak bertemu Sofi. Bisa runyam rumah tangga gue, batin Rendy dalam hati sambil membuang napas kasar.


"Gue ikut ya Rendy, gue juga mau pamitan." tanya Rangga modus.


"Udah loe tunggu sini aja. Mereka di dapur, ntar gue pamitkan sekalian." ucap Rendy datar.


Rendy langsung berdiri dan meninggalkan Rangga. Untung sahabat, kalau bukan mungkin sudah di ajak gelud, batin Rendy dalam hati.


Langkah kaki Rendy pun menuju dapur Saung, semua sedang berkumpul disana, Ada Abah, Umi, Sofi, karyawan dan Kang Tatang.


"Assalamualaikum.... Kang Tatang, Masya Allah.... jarang pulang, lebaran wungkul." ucap Rendy yang begitu takjub dengan kehadiran Kang Tatang.


Rendy dan Kang Tatang memang cukup dekat, mereka saling membantu dan berbagi, terlebih Kang Tatang itu sosok yang cerdas dan pintar. Sudah tentu banyak ilmu yang diturunkan kepada adik laki-lakinya itu. Sedangkan Fatima masih terlalu kecil, sehingga tidak begitu dekat dengan Kang Tatang.


"Waalaikumsalam... duh si Kasep.. tambah kasep, mana istri?" tanya Kang Tatang pelan sambil celingukan mencari sosok istri Rendy. Karena biasanya istri akan selalu berada di dekat Suaminya.


Rendy pun menatap Sofi dan menarik tangannya.


"Ini istri Rendy Kang? geulis?" tanya Rendy pelan ke arah Kang Tatang.


Bagaikan tersambar petir di siang bolong, gadis yang menjadi impiannya ternyata istri adiknya. Perjaka tua itu hanya bisa tersenyum tipis mendengar pengakuan Rendy.


Rendy hanya menatap mata Kang Rendy yang menatap kosong ke arahnya.


"Kenapa Kan Tatang? Kok bengong?" tanya Rendy menyelidik.


"Tidak apa Kasep. Akang biasa kan begini, suka takjub dengan ide brilian mu membuka usaha kuliner dengan tema Saung yang nyaman. Akang sudah mengelilingi Saung ini, dan ini benar-benar bagus sekali. Ada pemandangan yang indah, dan menu masakannya pun ciri khas sekali." ucap Kang Tatang pelan dan mantap, mengalihkan pembicaraan tadi.


"Makasih Kang Tatang. Silahkan dilanjutkan. Sofi ayok kita pulang, Mas tidak mau kamu kelelahan." ucap Rendy dengan tenang.


Sofi hanya mengangguk pasrah mengikuti perkataan Suaminya.


"Lho, kan Sofi mau belajar Rendy." tanya Abah pelan.


"Abah biarkan Kang Tatang mengelola dulu, sesuaikan dengan kondisi yang ada. Lagi pula dua hari lagi, kita mau mengadakan resepsi pernikahan, takutnya Sofi kelelahan. Biarkan Rendy sepulang kerja kesini untuk belajar bersama Kang Tatang." ucap Rendy dengan mantap.


Gelagat pria Single, paling gak bisa lihat yang bening, gumam Rendy dalam hati dengan kesal.


"Baiklah kalau itu alasannya, Abah mengerti. Biarkan satu minggu ini Abah yang akan belajar dengan Tatang, nanti biar Abah yang menjelaskan kepada Sofi." ucap Abah pelan menengahi.


Abah Ahmad cukup hafal dengan karakter Rendy yang cemburuan. Karena hal ini bukan hanya ini saja terjadi. Sifat cemburu yang diturunkan dari Abah Ahmad kepada Rendy membuat Abah pun menyadari keegoisannya.


"Ayok Fi, pulang." Titah Rendy dengan tegas.


"Abah, Umi, Sofi pulang dulu ya. Sofi mau istirahat." ucap Sofi dengan sopan dan mencium punggung tangan kedua mertuanya secara bergantian.


Rendy pun langsung menggandeng tangan Sofi dengan erat. Menunjukkan kepada semua orang, bahwa Sofi adalah istrinya dan Miliknya seorang.


Banyak mata memandang takjub, Pemilik Saung Kang Rendy berjalan mesra, menunjukkan suatu keharmonisan hubungan dengan pasangan.


"Kan Rendy Kasep, Istrinya juga geulis.... kita mah cuma remahan biskuit, jangan mimpi untuk di tengok." ucap Salah seorang tamu undangan yang mengagumi pasangan tersebut.


Rendy dan Sofi sudah masuk ke dalam mobil, kunci motor diserahkan kepada satpam untuk inventaris di Saung Kang Rendy.


Dengan sigap Rendy mengambil ponsel di saku celananya dan menelepon Rangga.


"Assalamualaikum, Ngga gue antar bini gue balik rumah dulu ya. Gue langsung ke kantor setelah itu." ucap Rendy pelan.


"Waalaikumsalam, iya udah gak papa, gue suruh supir jemput gue, secara gue tadi nebeng loe Rendy." ucap Rangga sedikit kesal.


Rendy pun tidak menggubrisnya dan langsung mematikan ponselnya setelah mendapatkan jawaban yang diinginkan.


Hatinya masih dikelilingi rasa cemburu yang berlebih. Hari ini sudah terlihat jelas orang yang kagum kepada Sofi, lalu besok, besoknya lagi, gumam Rendy dalam hati dengan kesal.


Raut wajahnya terlihat cemas dan kesal. Wajah cantik istrinya, masih bisa dinikmati laki laki lain. Dan itu membuat hati Rendy pun semakin mendidih.


Sofi hanya sekilas melihat kekesalannya, dari matanya yang menatap tajam dan berwarna merah. Keringat yang mengucur terus, tanda Rendy sedang menahan amarahnya.


Situasi yang sulit bukan? memiliki suami yang pencemburu dan posesif.


"Mas, kamu kenapa? Sofi lihat seperti gak tenang?" tanya Sofi pelan, memandang lembut ke arah Rendy yang sedang menatap fokus pada jalanan.


Rendy melirik sekilas ke arah Sofi, dan tersenyum tipis.


"Besok lagi kalau ke Saung jangan dandan, pakai baju gamis yang longgar. Aku gak suka kamu jadi pusat perhatian." ucap Rendy jujur mengungkapkan kekesalannya.


Sofi pun tersenyum dan terkekeh. Lalu diambilnya tangan Rendy diatas perseneling, di bawa ke arah pipi Sofi, dan dikecup punggung tangan itu dengan tulus.


"Mas Rendy, kamu masih meragukan cintaku?" tanya Sofi lembut, sambil menautkan tangan dengan tangan Rendy menjadi satu.


"Aku hanya takut, kamu ikut berpaling bila ada yang memberimu perhatian yang lebih dari aku." ucap Rendy jujur.


"Menurut kamu, selama ini aku mudah tergoda? bahkan dengan Ronal pun tidak kan?" ucap Sofi pelan, menatap sendu wajah suaminya.


"Aku tidak menunggumu selama dua puluh empat jam Fi. Kita punya kesibukan yang berbeda, semua bisa saja terjadi." ucap Rendy dengan gusar.


"Kalau kami selalu berpikir negatif terus, maka itu yang akan terjadi. Berpikir yang positif dan yang baik, agar hubungan kita menjadi sakinah mawadah warahmah." ucap Suci menjelaskan dengan lembut.


Hatinya sudah tertambat pada satu cinta yaitu Rendy, walaupun memiliki perasaan kagum dengan pria lain bukan berarti mencintai, hanya sebatas simpatik.


Kebaikan dan kesabaran Rendy, bagi Sofi sudah teruji, membantunya dari nol hingga saat ini bukanlah hal yang mudah. Persahabatan yang diakhiri dengan rasa cinta satu sama lain membuat mereka berdua menjadi saling mengenal luar dalam tanpa canggung. Tapi karakter atau sifat itu dimiliki berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada.


Rendy yang dikenal, ramah, baik hati, penyabar, tulus dan setia. Ternyata berkarakter, tegas, mandiri, posesif dan pencemburu akut.


Sedangkan Sofi yang dikenal baik, mandiri dan penyayang, ternyata manja dan rapuh.


Tapi mereka berdua mencoba menyatukan kehidupan mereka dengan sifat mereka yang apa adanya. Semakin memahami sifat dan karakter masing-masing maka mereka akan semakin mengenal satu sama lain dengan baik.


JAZAKALLAH KHAIRAN