
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Hari pertama Rendy mulai bekerja lagi. Senin pagi yang sudah pasti super sibuk, selalu ada briefing pagi dan rapat mendadak dengan investor. Ditambah masih lelah sisa sisa pembobolan gawang kemarin. Perjalanan cukup melelahkan dan ini setiap Minggu akan terus dialkukan selama Sofi tidak ingin tinggal di Bali.
"Selamat Pagi Hana, apa jadwalku hari ini?" ucap Rendy pelan.
"Pagi Hana. Rapat nanti siang sudah dijadwal? pesankan tempat makan siang sekaligus untuk rapat intern saya dan investor. Nilai proyek ini besar, jadi jangan sampai gagal, paham!!" ucap Ronal dengan ketus dan menatap tajam ke arah Rendy.
"Maaf Pak Ronal, untuk tugas itu, Rere yang bertanggungjawab, dia asisten pribadi Bapak. Tadi dari pusat sudah mengirimkan email tentang pengangkatan Rere sebagai sekretaris Bapak." ucap Hana menjelaskan.
"Oke, suruh Rere ke ruangan saya." ucap Ronal ketus.
"Iya Pak Ronal." ucap Hana pelan.
Hana langsung menyambar ponselnya dan segera mungkin menelepon Rere.
Rere pun berlari-lari kecil menuju koridor kantor dan tepat di depan ruangan wakil direktur Rere pun segera masuk.
"Hana tolong jelaskan semuanya, ada apa ini sebenarnya?" tanya Rendy dengan kesal.
"Maaf Pak, Jumat sore, saya dapat email dari Pusat. Pak Jae mempromosikan Ronal untuk proyek baru, katanya Ronal sudah mengenal baik dengan investor itu. Lalu bagian pusat mengangkat Rere sebagai sekretaris Pak Ronal dengan alasan Rere sudah lama masa kerjanya jadi bisa membantu Pak Ronal dengan baik." ucap Hana pelan menjelaskan dengan detail.
"Tapi aku pimpinan disini, kenapa tidak ada yang memberitahuku." ucap Rendy keras.
"Saya pikir Bapak sudah mendapat tembusannya. Hari ini bapak tidak ada jadwal. Proyek yang bapak jalankan sudah mulai tahap pembangunan, jadi bapak cukup meninjau kembali saja dan mengecek sesuai anggaran atau tidak." ucap Hana mengingatkan.
"Sepertinya ada yang tidak beres disini. Saya ke ruangan dulu Hana, tolong buatkan saya kopi hitam." ucap Rendy datar.
Rendy benar benar tidak habis pikir, apa gunanya dia sebagi pimpinan bila tidak ada yang meminta pendapat darinya.
Benar kata Sofi, hijrah untuk mendapatkan keberkahan, meski awalnya sulit lama lama pasti terbiasa.
Dunia akan mengejar kita bila kita taat kepada Allah SWT. Akhirat harus menjadi yang utama dan prioritas.
Apa ini teguran untukku karena aku lebih mementingkan duniaku, pekerjaanku karena aku takut rejekiku berkurang di saat aku tidak bekerja.
Ya Allah, tunjukkan kebesaranMu, kalau memang ridhoMu aku meninggalkan pekerjaan ini, maka akan aku tinggalkan.
Keputusanku sudah bulat, dan aku bertekad berjuang bersama hijrah bersama istriku.
Rasa kesalnya dengan perusahaan yang tidak menghargai Rendy sebagai pimpinan pun telah membuat Rendy kecewa besar. Keputusan cepat pun langsung diambil oleh Rendy tanpa memikirkan sebab akibatnya.
Lebih baik aku sholat dulu, minta petunjuk yang terbaik. Aku coba dulu seminggu ini bagaimana, gumam Rendy lirih.
Rendy pun beranjak dari kursinya menuju mushola kantor. Hatinya dipenuhi rasa kecewa dan kesal yang teramat sangat.
Rendy adalah karyawan lama telah bekerja hampir sepuluh tahun. Sepak terjangnya dari staf biasa kemudian menjadi manager dan akhirnya dipercaya sebagai pimpinan untuk memimpin kantor cabang di Bali.
Tapi kesenangannya pun tidak berlangsung lama, banyak orang banyak menginginkan posisinya dan Rendy dengan mudahnya mendapatkan promosi itu. Sekarang harapannya pun pupus, ada orang lain yang secara halus ingin menggeser posisinya.
Rendy pun mengambil wudhu dan melaksanakan sholat Dhuha dilanjutkan sholat hajat. Hatinya begitu tenang telah melakukan sholat Sunnah, dilanjutkan membaca Al Qur'an dan berdzikir.
Pikirannya kembali jernih, mengambil keputusan untuk resign adalah keputusan utama dan pertama.
Rendy kembali ke ruangannya, disana sudah ada Hana sedang merapikan berkasnya.
"Pak Rendy, ini kopinya. Dan ini beberapa berkas yang harus ditandatangani." ucap Hana pelan.
"Sepertinya Pak Rendy, saya juga merasa ada yang aneh. Tapi saya belum tahu Pak Rendy. Mungkin nanti saya akan cari tahu ada apa ini sebenarnya lewat Rere." ucap Hana mantap.
Rendy pun menanda tangani berkas yang disodorkan oleh Hana. Hana pun membawa berkas itu dan keluar ruangan Rendy.
Rere datang menghampiri Hana untuk mengambil berkas yang telah ditandatangani Rendy.
"Ini Rere. Sebenarnya ada apa sih Re? kok kayaknya semuanya mendadak." tanya Hana menyelidik.
"Setahu aku sih, Pak Ronal menginginkan posisi Pak Rendy, makanya dia mengajukan proposal untuk proyek baru. Dan proposalnya diterima makanya Pusat memberikan kesempatan kepada Ronal untuk bersaing dengan Rendy." ucap Rere mantap.
"Jangan fitnah Re." ucap Hana pelan.
"Beneran Hana, buat apa aku berbohong." ucap Rere pelan.
"Kasihan Pak Rendy ya. Dia baik dengan karyawan." ucap Hana pelan.
"Namanya juga persaingan Hana. Ayok kita pesan tempat buat rapat nanti siang, kerjaanmu sudah selesai kan Hana?" tanya Rere pelan.
"Iya sudah, ayok Re" ucap Hana pelan.
Persiapan rapat siang nanti bertepatan dengan jam makan siang bersama investor. Reservasi tempat dan jenis pesanan makanan pun sudah di pesan oleh Rere dan Hana.
Hana pun kembali ke kantor sedangkan Rere tetap menunggu sampai waktu rapat tiba.
"Assalamualaikum, Pak Rendy?" ucap Hana dengan sopan.
"Waalaikumsalam, Hana. Masuk, ada apa?" ucap Rendy pelan.
Hana pun masuk ke dalam ruangan Rendy dan duduk di depan Rendy. Hana pun menjelaskan apa yang ia dengar dari Rere.
Ada perasaan sedih dan kesal. Untuk apa bertahan bila memang aku hanya ditunggu untuk mengundurkan diri dari jabatanku.
"Pak Rendy yang sabar ya. Saya juga kurang tahu untuk kebenarannya, tapi kita harus waspada Pak Rendy." ucap Hana pelan seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Rendy.
"Kita waspada dan cari tahu kebenarannya. Pelajari tiap berkas yang masuk, jangan sampai kita kecolongan Hana." ucap Rendy mantap.
"Iya Pak Rendy, saya akan lebih teliti lagi dan mendekati Rere untuk mendapatkan informasi." ucap Hana pelan.
"Makasih ya Hana, kamu memang sekretaris ku yang terbaik." ucap Rendy memuji.
"Iya Pak Rendy, terima kasih." ucap Hana pelan.
Hana pun keluar ruangan Rendy dan melanjutkan pekerjaannya.
Rendy pun berdiri dari kursinya, menatap jendela besar menuju arah jalan besar. Hatinya gundah gulana memikirkan masalah kantor yang tiba tiba saja muncul. Ujian ini cukup berat, yang membuat berat karena kurang yakin akan kebesaran Allah SWT. Setiap kehidupan pun ada tingkatannya, setiap naik tingkat maka ujian pun semakin berat. Allah SWT akan menguji kesabaran kita, ketulusan kita dan keikhlasan kita.
BERHARAPLAH HANYA KEPADA ALLAH SWT, BUKAN KEPADA SESAMA MANUSIA.
--+++-----
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚