Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 47 SALAH RAMUAN



SELAMAT MEMBACA


💚💚💚💚💚


Kedua ramuan itu telah habis diminum Sofi dan Rendy pun kembali ke tempat tidurnya. Mereka berdua hanya terdiam dan saling pandang dan akhirnya tertawa bersama.


Ini benar-benar konyol.


"Kok ketawa sih Mas, emang ada yang lucu?" ucap Sofi pelan. Sofi memiringkan tubuhnya menghadap Rendy.


"Aku lihat kamu ketawa jadi ketawa Fi. Kamu ngetawain apa sih Fi?" ucap Rendy lirih sambil memiringkan tubuhnya menghadap Sofi.


Mereka saling berhadapan dan bertatapan. Tapi mereka enggan memulai apa yang seharusnya dimulai. Ramuan yang telah beberapa menit lalu diminumnya pun sudah menimbulkan reaksi aneh. Seperti panas tapi bukan kepanasan, seperti gerah tapi bukan karena hawa. Darah mereka seperti berjalan memuncak. Rendy seperti menahan sesuatu yang bergejolak dari dalam tubuhnya.


"Kamu kenapa Mas, kok kayak gelisah dan gak nyaman gitu?" ucap Sofi lirih sambil mengelus pipi Rendy.


Rendy menikmati elusan dari jari jari manis Sofi pun merasa merinding tapi bulunya tidak ada yang berdiri.


"Fi, ada yang aneh gak sih habis minum ramuan itu. Kok aku berasa panas gitu." ucap Rendy lirih. Rendy pun mengambil gulingnya untuk dipeluk.


"Kamu sudah gak butuh istri Mas? kok meluk guling gitu. Sampai erat banget." ucap Sofi.


"Ini beneran Fi, Mas itu kayak gak tahan." ucap Rendy gelisah sendiri.


Sofi pun mendekati Rendy, mengambil guling tersebut dan membuangnya. Wajahnya didekatkan, tangannya pun mulai meraba wajah Rendy yang mulus.


"Fi, jangan begini, Mas gak tahan kalau kamu mengelus elus Mas. Mas jadi terangs*Ng." ucap Rendy yang sudah terlihat kacau.


"Kamu gak bergerak, cuma diem aja?bukankah kamu ingin menjadi pemain bola yang handal?" ucap Sofi yang sudah tidak sabar bergulat dengan Rendy.


Rasa panas mendidih dalam tubuh mereka membuat mereka sudah mengalami tingkat puncak yang harus diselesaikan agar bola benar benar bisa digiring dengan pas dan tepat sasaran.


"Fi..." ucap Rendy gusar. Keringat dingin sudah membasahi wajahnya karena sesuatu yang ditahan.


"Hemm" Jawab Sofi manja.


Rendy sudah kehilangan akal sehatnya, ia pun mulai mencium bibir Sofi dengan lembut. Ramuan itu sukses memporak-porandakan hatinya. Mungkin memang sudah waktunya. Sofi yang semula diam pun mulai mengikuti alur ciuman Rendy. Ciuman yang halal, sudah pasti disertai hasrat dan nafsu, karena pertahanan mereka sudah runtuh karena sebuah ramuan.


Tangan Rendy pun mulai sedikit nakal mencari kenyamanan dan kehangatan dibalik pakaian Sofi. Suara leguhan dari bibir Sofi pun membuat Rendy semakin bersemangat dan bernafsu.


"Akhhh... Mas.." ucap Sofi lirih. Sofi hanya bisa mengerang nikmat karena sentuhan tangan jahil Rendy.


"Kenapa Fi?" ucap Rendy lirih hanya menatap sekilas mata Sofi, dan mulai mencium kembali. Ada perasaan tidak rela untuk berhenti sesaat.


Hanya berciuman saja membuat mereka sudah bernafsu, bagaimana merasakan yang lain.


"Buka ya Fi, aku ingin memandangnya, kamu gak perlu takut Fi." ucap Rendy pelan.


"Hemm... Kok dilepas si Mas?" ucap Sofi polos.


"Iya buka dulu bajunya. Biar aku bebas mengekspresikan." ucap Rendy pelan sambil mengecup pipi Sofi dengan lembut.


"Tapi aku lemas Mas? Aku tidur dulu ya." ucap Sofi tanpa merasa bersalah.


"Fi... kok tidur sih, ini bolanya sudah siap." ucap Rendy pelan.


"Besok ya Mas Rendy, Sofi bener bener ngantuk." ucap Sofi pelan.


"Fi... Mas udah gak tahan nih." ucap Rendy memelas. Stik bolanya sudah tertantang dengan baik.


Sofi sudah terlelap, mungkin memang lelah hingga sudah berada di alam mimpi yang indah.


Satu Jam......


Dua Jam......


Rendy hanya membolak-balikkan badannya karena tidak bisa tidur. Balik lagi menghadap ke Sofi, benar benar pulas dan nyenyak. Mungkin ramuannya salah ya, batin Rendy.


Rendy pun bangkit berdiri menuju dapur. Mengambil satu botol besar air mineral dan beberapa camilan untuk dibawa ke dalam kamarnya.


Rendy melihat ke arah jam besar, saat ini sudah pukul satu dini hari. Tidak ada rasa kantuk sedikit pun, sedangkan Sofi malah lemas dan tertidur. Rendy pun mempercepat langkahnya menuju kamar. Tak lupa mengunci pintu, lalu duduk di sofa dan menonton TV. Remote pun sudah teras pegal hanya di pencet pencet tanpa dilihat karena tidak ada cara yang bagus.


Sofi berdiri di belakang sofa dimana Rendy duduk. Sofi mengalungkan kedua tangannya ke depan dan mencium pipi Rendy dari belakang. Tangannya pun sudah lancar berjalan menuju dadanya yang bidang. Dari belakang Rendy bisa merasakan hembusan nafas Sofi yang hangat. Dadanya yang kenyal menempel pada punggungnya.


"Sudah bangun Fi?" ucap Rendy lirih.


Sofi pun berjalan menuju sofa dan duduk disamping Rendy. Rendy dengan sigap memeluk Sofi dari belakang hingga menyentuh dadanya yang masih kenyal.


Tangannya mulai menelusuri tubuh Sofi, mencari sesuatu yang nikmat untuk diremas.


"Mas.. sakit." ucap Sofi pelan.


"Aku terlalu keras ya?" ucap Rendy pelan.


"Mas aku mau minum dulu." ucap Sofi menetralisir hasratnya kembali yang sudah mulai bergairah.


Rendy pun mulai mencium leher Sofi dari belakang, Rendy sudah tidak terkendali, gairahnya muncul kembali.


Bibir mereka pun sudah bersatu, Rendy mulai ********** pelan, lidahnya pun ikut menari mencari kenikmatan.


Sofi pun mengimbangi permainan Rendy yang sudah terlihat kalap.


"Fi, aku gendong ke kasur ya, disini gak nyaman." ucap Rendy.


"Iya Mas Rendy." ucap Sofi lirih.


Ini pertama kalinya Rendy menyentuh perempuan jadi terlihat kaku.


Rendy mengangkat tubuh Sofi dan Sofi pun mengalungkan kedua tangannya ke Rendy.


Ditidurkannya wanita yang dicintainya. Dibukanya baju tidur milik Sofi.


"Subhanallah, kamu siap Fi?" ucap Rendy pelan.


Rendy pun sudah membuka bajunya dan mereka sudah berada di bawah selimut tebal. Posisi klasik selalu dipilih bagi pengantin baru, karena mereka berdua masih malu malu.


"Mas sakit gak?" ucap Sofi yang ketakutan.


"Aku pelan pelan Fi. Kalau sakit bilang ya." ucap Rendy pelan


Bismillahirrahmanirrahim


Rendy sudah berada diatas Sofi, tubuhnya sudah berkeringat dan basah.


Stik untuk menggiring bola pun sudah tegak lurus tepat berada di depan gawang. Pelan pelan stik itu mengukur jarak gawang dan titik pinalti.


Gawang sudah aman dan sudah basah akibat birahi mereka, ini akan memudahkan stik bola bermain main di dalam gawang lawan.


Stik pun mulai menggiring bolanya dengan pelan dan tenang, hingga pergerakan lawan pun tidak berkutik karena takut dan cemas, dan akhirnya.......Gol..... Stik panjang itu mampu membobol pertahanan gawang dengan sempurna. Tapi, stik itu terjebak didalam gawang hingga permainan alur maju mundur dan mengaduk pun diterapkan.


"Akhhhhhh Mas Rendy.... aku.......mmmhh" Sofi pun meracau.


Mendengar Sofi mendesah, membuat Rendy pun semakin bersemangat.


"Sedikit lagi Fi, mmhhhhh akhmmm Fi..." ucap Rendy.


Gawang pun penuh dengan benih benih kehidupan.


"Fi makasih ya." ucap Rendy sambil mencium bibir Sofi lembut.


"Iya Mas, kok sakit ya Mas agak perih gitu." ucap Sofi pelan.


"Nanti juga terbiasa. Besok ikut ke Bali ya, kayaknya aku gak bisa jauh dari kamu Fi. Aku gak bebas Fi disini, takut mengganggu yang lain" ucap Rendy.


----------------------


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚