Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 22 KEDATANGAN RONAL



SELAMAT MEMBACA


💚💚💚💚💚


"Serius banget, sampai suaminya dicuekin, jadi gemes nih." ucap Rendy mencubit pipi Sofi.


"Sudah selesai mas, mau makan dulu apa nanti, nih filmnya seru, lucu, bagus banget." ucap Sofi sedikit manja. Maklum jiwa jiwa istri yang haus kasih sayang, lagi pengen disentuh. Yang dikode gak peka lagi.


"Makan dulu tapi suapin ya sayang, lagi pengen manja nih." ucap Rendy cuek.


"Ya sudah sini aaaaaaaaeemmmmm..." ucap Sofi sambil menyuapi bayi besarnya.


Malam ini betul betul menjadi malam yang panjang. Keseruan nonton film dan makan sambil suap suapan sukses membuat mereka terbawa suasana romantis. Duduk berdua di sofa, sambil berpelukan, saling menautkan jari jemari, saling tertawa sesekali pun dihadiahi kecupan kecupan mesra baik di kening, di pipi dan di bibir. Keduanya sudah tidak canggung lagi seakan dunia milik berdua. Seperti kekasih yang baru bertemu kembali dan saling meluapkan perasaan rindu yang telah membuncah.


Mereka asyik dengan aktivitas masing masing, ada yang sibuk meremas remas tangan, ada yang sibuk menatap dan mengecup. Suasana romantis pun menjadi hangat bahkan semakin panas.


Entah siapa yang memulainya dan kapan dimulainya. Kedua bibir itu sudah menyatu, berpagutan tanpa celah. Hisapan pada lidah pun terdengar seperti desahan penuh nafsu. Sesekali mereka melepaskan untuk menghirup nafas, dan tanpa aba aba sudah memulainya kembali. Gigitan gigitan kecil pada bibir membuat birahi keduanya seakan menginginkan lebih. Hingga terakhir terdengar nafas tersengal sengal....Arrghhh.... muachhhhhhh.....


Posisi mereka pun sudah tak lagi duduk seperti tadi, Sofi sudah bersandar pada lengan sofa sedangkan Rendy sudah berada tepat diatas Sofi.


Keduanya saling menatap, keduanya saling berbicara melalui batinnya. Aku ingin lebih ...lebih.... bukankah kita sudah halal?


Tersadar ada suara ketukan pintu.


Tok.... tokkkk tokk....


"Siapa?" Sofi pun bangkit berdiri, dan berjalan menuju pintu. Rendy pun langsung membenarkan posisinya kembali duduk dan merapikan kaos dan rambutnya yang sedikit berantakan.


ceklek.....


"Ronal?" Sofi pun kaget melihat Ronal datang ke kontrakannya.


"Sofi.... kaget ya?, kamu lagi sama siapa di dalam? " ucap Ronal enteng.


"Ada Rendy, ayo masuk" ucap Sofi sambil mengajaknya masuk ke dalam


"Oke... Rendy itu senior yang dipromosikan Pak Jae jadi pimpinan di Bali?" ucap Ronal menyelidik.


"Iya bener, emang kenapa?" ucap Sofi.


"Kamu ada hubungan apa sama Rendy, sampai kalian didalam kontrakan berdua dan kunci pintu, gak takut digerebek, atau memang kontrakan mu bebas? ucap Ronal.


"Kita pacaran, apa ada masalah?" ucap Rendy tiba tiba dari dalam.


"Wah wah.... sudah pacaran, tapi belum nikah kan? udah dapet restu belum bang? Restu Orang tua Sofi itu susah susah gampang. Kalo tampang Lo biasa begini mah jauh jauh buat dapetin Sofi. Dia pantesnya sama anak juragan!" ucap Ronal ketus. Merasa tersaingi dengan Rendy. Kenapa pria itu sudah di kontrakan Sofi sih, aku kalah cepat nih.


"CUKUP RONAL.... Kamu apa apaan sih. Dateng ke rumah orang malah cari ribut, emang gak malu sama tetangga? mau kamu pa ke sini?" ucap Sofi sedikit membentak.


"Gue juga mau loe. Mau tidur sama loee. Loe tuh Sofi, dasar wanita murahan, ditidurin calon pimpinan aja udah bangga!" ucap Ronal nyinyir.


"BRENGSEKKK LOE!!!!!" ucap Rendy kasar sambil memukul wajah Ronal.


Bukk.....


"Sekali pukulan cukup, apa mau tambah lagi? KELUAR LOE SEKARANG BRENGSEKK. JANGAN PERNAH LOE HINA SOFI MURAHAN KARENA DIA GADIS TERHORMAT. CAMKAN KATA KATA GUE!!!!! PERGIIIII." ucap Rendy kasar.


Sofi hanya menangis. Setega itu Ronal teman SMP nya berkata ia murahan. Astaghfirullah...


Ronal pun keluar sambil mengacungkan jari tengah nya ke arah Rendy.


"Lihat, gue bales loe rendy!" ucap Ronal dengan amarahnya.


"Sofi kamu gak papa sayang?" ucap Rendy pelan.


"Ada aku sayang, jangan takut ya, aku disini menemanimu." ucap Rendy menenangkan.


"Iya sekarang, besok kamu gak ada mas? kalo Ronal nekat bagaimana?" ucap Sofi lirih.


"Kamu tinggal sama bude aja ya, sekarang kita ke rumah bude. Aku gak ijinin kamu di kontrakan selama aku tidak ada, kamu mau?" ucap Rendy mantap.


"Iya sudah, mungkin disana lebih baik." ucap sofi, masih dengan rasa takutnya.


Rendy membereskan pakaian Sofi ke dalam tas besar. Sementara Sofi hanya duduk terdiam, matanya masih berkaca kaca mengingat kejadian tadi.


"Semua sudah rapi, kita berangkat sekarang ya sayang?" ucap Rendy sambil menggandeng Sofi keluar kontrakan dan mengunci pintu.


Rendy pun berpamitan dengan tetangga kontrakan Sofi, ijin besok mau dinas ke luar kota.


Selama dalam perjalanan, hanya ada keheningan. Sofi masih terdiam karena shock, sedangkan Rendy terdiam memikirkan bila besok tugas, Sofi bagaimana.


Pikirannya sama sama kacau. Dilema antara tugas pekerjaan dan menemani istri.


Pilihan yang sulit. Diliriknya Sofi yang masih memandangi jalan tanpa berkedip.


Perjalanan cukup padat. Laju mobil pun terlihat santai tapi tidak dengan pikiran mereka.


"Sayang, sudah sampai, yuk turun." ucap Rendy membujuk.


"Ekhmmm, iya mas, maaf aku ngalamun tadi, ini rumah bude mas, jangan jangan sudah tidur, takut ganggu mas?" ucap Sofi pelan.


"Ayok... lampunya masih nyala, bude belum tidur." ucap Rendy.


Sambil mengeluarkan tas pakaian Sofi, dan menggandeng tangan Sofi menuju teras depan.


"Assalamualaikum, bude...." ucap Rendy sambil mengetuk ngetuk pintu rumah bude.


" Waalaikumsalam." ucap bude menyahut dari dalam rumah sambil membuka pintu depan.


"Bude, kami akan menginap disini, titip Sofi selama Rendy tugas di bali, jangan boleh keluar ya bude." ucap Rendy panjang lebar sambil mencium tangan bude bergantian dengan Sofi.


"Duh, pengantin tho. Katanya mau nginap di kontrakan sofi? kenapa gak jadi, untung bude belum tidur. Ayok masuk dulu." ucap bude lembut persis seperti umi.


"Biar disini aja bude, biar ada temennya. Rendy dan Sofi ke kamar dulu ya bude." ucap Rendy sopan.


"Iya Rendy, bude senang, Nak Sofi yang betah disini ya." ucap bude dengan senyum mengembang.


"Iya bude terima kasih, Sofi ke kamar dulu ya bude." ucap Sofi lembut dengan senyum manisnya.


Di dalam kamar, mereka sudah berada di bawah selimut tebal. Sofi dan rendy sudah tidak canggung lagi, Rendy memeluk Sofi dari belakang dan mencium leher Sofi.


Ada rasa geli dan nikmat yang membuat tubuh Sofi pun menggelinjang hebat. Dibaliknya tubuh Sofi agar menghadap dengan tubuh Rendy. Tangan Rendy tetap memeluk pinggang sofi, dan Rendy memulai ciumannya ke bibir Sofi dengan lembut dan pelan. Digigitnya lembut hingga membuat celah pada Sofi. Lidah Rendy pun beraksi tanpa aba aba, diabsennya gigi rapi sofi, dan dihisapnya lidah Sofi penuh kenikmatan. Hanya berciuman saja membuat nafas mereka semakin memburu, Sofi pun mulai terengah-engah kehabisan nafas. Arghhh....


"Mas, cukup uhh...Hugh" Nafas Sofi memburu. Antara nikmat dan lelah.


"Maafkan mas, terlalu bergairah dengan bibirmu, mau lagi..." ucap Rendy merengek.


----------------++-----------


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚