Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 86 DUKA SEORANG ISTRI



Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚


Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.


Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.


Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....


Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.


Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...



Kesucian Syahadat


Dahsyatnya SHOLAWAT


Angkringan Cinta


Kopi Paste



Selamat Membaca ....


💚💚💚💚💚💚


Dalam hatinya hanya bisa berharap yang terbaik, dan kondisi suaminya baik baik saja. Sofi hanya terduduk lemas.


"Maaf Bu Sofi, hanya itu yang bisa kami sampaikan. Kami harus kembali bertugas." ucap salah satunya.


Ketiganya pun berpamitan dan pergi meninggalkan rumah Sofi. Sofi hanya pasrah dengan berita yang masih simpang siur ini. Siapa yang harus aku percaya saat ini, gumamnya dalam hati.


Kedua orang tuanya pun hanya mengiba melihat anaknya yang terlihat pucat. Kondisinya yang sedang mengandung membuat hormonnya pun tidak menentu. Padahal kehamilan kembar ini memerlukan kesiapan yang ekstra, tapi kali ini sepertinya semesta sedang menguji keimanan dan kesetiaan Sofi.


"Assalamualaikum ... Sofi ...." panggil Umi dengan lembut. Langkah kakinya di percepat begitu melihat Sofi yang lemas duduk di ruang tamu.


"Waalaikumsalam ... Besan ... Bagaiman ini, apa kejadian itu benar adanya? Mobil Rendy hangus terbakar?" tanya Mama Sofi kepada Umi secara beruntun.


Umi pun hanya menghela nafas panjang kemudian menghembuskan secara perlahan. Umi sudah mendapatkan kabar secara pasti dari Tatang anak angkatnya dan Asmah calon menantunya.


Memang betul, pertemuan singkat mereka di Saung Kang Rendy tadi malam membuat keduanya pun saling mengikat kembali tali cinta yang pernah terputus karena keegoisan mereka. Cinta itu memang aneh dan membingungkan. Dan ini ternyata terjadi pada cerita cinta Kang Tatang dan Asmah.


Pertemuan singkat itu pun langsung diketahui oleh Abah dan Umi. Atas saran Abah dan Umi, karena usia mereka tidak muda lagi, dan mereka berdua sudah mapan, apa yang harus ditunda? Maka lebih baik segera ke Bandung untuk meminang Asmah gadis pujaannya beberapa tahun yang lalu. Walaupun sempat singgah sebentar gadis lain yang telah bersuami tidak lain Sofi.


Abah hanya mengingatkan, walaupun kalian bukan saudara kandung, namun kalian dibesarkan secara bersamaan. Paa kata orang kalian berselisih karena seorang wanita, dan lebih parahnya kalian berdua anak Abah yang Abah banggakan.


Dari situ Kang Tatang pun mencoba membuka hati dan pikirannya agar lebih jernih mencari solusi. Menguatkan kembali keimanannya dan melupakan sosok Sofi yang dia kagumi.


Pagi itu sesuai kesepakatan antara Kang Tatang dan Asmah tadi malam. Mereka pun melakukan perjalanan ke Bandung untuk menemui orang tua Asmah. Di tengah perjalanan, Kang Tatang dan Asmah melihat persis kejadian tabrakan itu. Kang Tatang sadar mobil di depannya adalah milik adiknya, karena plat nomor itu nampak jelas. E 123 NDY. Plat itu cukup unik dan di pesan secara khusus boleh Rendy.


Kejadian itu begitu cepat, Kang Tatang berada di sekitar dua mobil di belakang Rendy. Jalur itu memang jalur rawan kecelakaan. Rendy melesat nanjak dan berbelok kemudian hilang kendali menabrak mobil di depannya buang sepertinya sengaja berhenti dan kemudian mobil tidak stabil akhirnya terguling dan terjadi ledakan dahsyat.


Satu mobil di depannya, melaju seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa. Lalu seorang laki-laki bertubuh tinggi pun keluar dari mobil itu dan berpindah ke mobil yang ada di depannya Kang Tatang. Mereka pun melesat dan meninggalkan area kecelakaan tadi.


Kang Tatang dan Asmah sejak tadi sudah mencari celah untuk membawa Rendy yang masih tergeletak di sisi jalan, walaupun api itu sudah mulai berkobar. Asmah dan Kang Tatang saling membahu mengangkat tubuh Rendy dan di bawa ke dalam mobil.


Darah segar sudah mengalir di wajah , tangan dan kaki.


"Kita harus ke Rumah Sakit Asmah. Berikan pertolongan pertama untuk Rendy semampu kamu saja." ucap Kang Tatang dengan gugup kemudian menyalakan mobilnya dan melajukan mobil itu dengan kencang.


Asmah pun mengelap darah yang masih masih mengalir dengan handuk yang ia bawa. Ikat pinggangnya sudah di buka, dompet sudah di keluarkan dari saku celananya.


"Rendy tidak sadarkan diri. Aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membersihkan lukanya yang terlihat dengan alat sederhana. Aku pun tidak membawa tas dokterku." ucap Asmah menyesal.


"Adikku selamat Asmah???" tanya Kang Tatang sesekali menengok ke belakang untuk memastikan keadaan adiknya itu.


Asmah duduk di lantai mobil dan memeriksa denyut nadi Rendy dan jantung dengan tangannya. Darahnya sudah berhenti, paling tidak Rendy tidak akan kekurangan darah. Semoga saja benturannya pun tidak mengakibatkan cidera di kepalanya.


Di lain tempat ... Besan dan Mama Sofi pun saking menguatkan Sofi yang terpuruk. Ucapan Umi dan Mamanya pun hanya terdengar pias.


"Sofi, kamu kuat? Kalau kuat, Umi ajak sekarang ke Bandung untuk menjenguk Rendy." ucap Umi pelan. Awalnya Umi tidak akan mengajak Sofi, namun melihat Sofi yang seperti ini, Umi pun tidak tega meninggalkannya. Mungkin dengan Kedatangan Sofi, Rendy pun bisa cepat sadar.


"Aku ikut Umi. Biarkan Sofi melihat keadaan Mas Rendy yang sebenarnya. Sofi ikut Umi." ucap Sofi mengiba dan terisak.


Umi pun memeluk menantunya dengan tulus dan penuh kasih sayang. Mengusap lembut punggung menatunya.


Mama Sofi sedang menyiapkan perlengkapan yang akan di bawa oleh Sofi dan Besannya. Mama Sofi tidak ikut, begitu pula dengan Bapak Sofi yang memilih menunggu rumah.


Sofi terlihat lemas dan lunglai. Umi dan Mama Sofi pun memapah Sofi hingga ke mobil Umi. Di sana hanya ada Abah dan supir saja.


"Mama ikut ya temani Sofi." ucapnya lirih.


"Ikutlah Mah, biar Sofi ada temannya. Bapak di rumah saja. Nanti rumah kosong." ucap Bapak Sofi dengan pelan.


"Baiklah Sofi, Mama ikut." ucap Mama pelan menyetujui keinginan anaknya itu


Perjalanan ke Bandung sekita dua jam dari rumah. Cukup memakan waktu lama. Rasa hati sudah berdebar-debar tidak karuan. Kabar Rendy pun belum di dapat Umi. Terakhir Rendy sudah di bawa ke rumah sakit, namun masu menunggu hasil Rontgen di kepalanya.


"Umi ... apakah Mas Rendy selamat?" tanya Sofi lirih, matanya sudah basah sejak tadi. Namun semakin menangis dan menahannya maka perutnya akan terasa keram dan sakit.


"Sayang ... kita berdoa yang terbaik ya untuk Rendy. Semoga semua baik baik saja." ucap Umi dengan pelan.


Tatapannya nanar ke depan dan mengusap kepala Sofi yang berada di pangkuan Umi.


Inilah perjalan hidup yang sesungguhnya, Ada senang dan ada susah. Semuanya silih berganti hingga kita pun tidak bisa menikmati semuanya karena semua itu akan lenyap dan mati rasa. Itu tandanya kita sudah berada di alam kubur dan menyesali semuanya.


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.


Biar aku makin semangat menulisnya ...


Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.


Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.


Ditunggu ya ...


Terima Kasih ....


💚💚💚💚💚