Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 79 ARAH PEMBICARAANMU JELAS



Bella mendapat perintah dari Rendy pun langsung menutup berkasnya dan pergi meninggalkan ruangan tersebut dan beristirahat di kantin dengan karyawan lainnya.


Kesal? sudah pasti. Mengingat tatapan Sofi yang begitu sinis seakan tahu, maksud Bella itu terselubung.


Berbeda dengan Sofi yang tersenyum penuh kemenangan dengan kepergian Bella dari ruangan itu. Hati seorang istri itu tidak bisa dibohongi, batinnya begitu kuat bila, ada sesuatu kejanggalan atau keanehannya dari pasangannya. Bisa juga sesuatu buruk akan menimpa pasangannya, biasanya seorang istri bisa merasakan.


"Mas... Bella itu suka lho dengan kamu. Lihat dari cara memandangnya." ucap Sofi yang masih duduk di pangkuan Rendy dan mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Jangan suka ngurusin orang lain Fi... " ucap Rendy pelan.


"Aku takut Mas....Istri mana yang rela berbagi?" ucap Sofi tiba-tiba saja berbicara dengan ketus.


"Minum dulu ya. Takut kesedak." ucap Rendy masih tenang.


"Kamu kayaknya seneng banget punya sekretaris seperti Bella." ucap Sofi kesal.


"Fi... aku harus bicara ke kamu berapa kali. Bagiku Sofi itu hanya satu, dan itu kamu. Aku tidak akan tergoda dengan seribu Sofi KW." ucapnya dengan gemas mencubit pipi Sofi.


"Kamu janji Mas?" ucap Sofi dengan nada manja dan menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Rendy.


Rendy hanya terkekeh melihat tingkah Sofi yang sedikit lucu dan polos. Wajahnya terlihat sumringah dan cantik sekali.


"Sudah makannya? kita ke dokter lalu kita pulang, persiapan acara nanti malam. Tadi Candra sudah telepon Mas." ucap Rendy menjelaskan.


Sofi segera bangkit berdiri dari pangkuan Rendy dan mulai merapikan alat makannya dan membuang bungkus dan sisa makanan yang tidak termakan.


Sebelumnya memang Rendy sudah meminta ijin untuk pulang lebih awal karena kata Umi, Sofi sakit dan yang kedua, hari ini acara resepsi yang dilakukan di Saung malam hari.


"Sudah beres Fi? Ayok ... pulang.. " ucap Rendy yang sudah siap untuk menggandeng Istrinya.


"Itu ruangan Rangga... " Ucap Rendy memecah keheningan.


"Terus hubungannya sama aku apa?" tanya Sofi pelan menatap tajam ke arah Rendy yang fokus menatap lurus ke depan.


"Siapa tahu mau antar gofood." ucap Rendy pelan dan datar. Wajahnya terlihat biasa saja, tapi jakunnya terlihat naik turun seperti menahan kekesalan.


Sofi hanya tersenyum tipis, dan menatap lurus ke depan. Jari jemarinya semakin erat menaut dengan jari jemari Rendy.


"Kamu cemburu Mas?" ucap Sofi yang terlihat tenang.


"Untuk hal apa?" jawab Rendy singkat.


"Bilang saja aku gak boleh terima pesanan Mas Rangga. Aku tahu arah pembicaraan kamu itu kemana." ucap Sofi menundukkan kepalanya.


Rendy menoleh sekilas dan berhenti tepat di depan lift. Pintu lift terbuka dan keduanya masuk ke dalam. Rendy menekan tombol ke arah parking, tempat Rendy memarkirkan mobilnya.


Cukup lama, dan di dalam hanya ada Sofi dan Rendy yang hening tanpa suara. Sofi menyandarkan punggungnya ke arah belakang. Melepas tautan jemarinya dan memegang kepalanya buang sedikit pusing.


"Kamu gak papa Fi..." ucap Rendy berbalik menghadap Sofi.


Tanpa aba aba pun Sofi memeluk dan mencium bibir Rendy dengan lembut. Lum#tan itu terasa sedikit hangat dan nakal dengan gigitan kecil di sekitar bibir. Hingga pintu lift itu terbuka pun mereka masih asyik dengan aktivitasnya berciuman.


"Ekhmmm...... " Suara bariton yang berdehem membuat mereka pun menyudahi ciumannya dengan paksa.


JAZAKALLAH KHAIRAN