
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Perasaan bahagia membuat perjalanan pun menjadi tidak terasa. Komunikasi keluarga Sofi pun ternya semakin hangat, karena bisa menerima satu sama lain dengan baik. Cinta yang hadir tanpa restu pun akhirnya mendapatkan restu melalui proses panjang.
"Masih jauh Nak Rendy?" ucap bapak Sofi pelan.
"Sebentar lagi Pak, ini sudah masuk ke jalan desanya." ucap Rendy mantap.
Pemandangan indah, asli pedesaan pun terlihat tampak alami. Pepohonan yang masih terlihat banyak di sisi kanan dan kiri jalan.
Hamparan sawah yang sudah mulai menguning dan menunduk tanda padi sudah siap untuk di panen.
Mobil pun masuk ke dalam pekarangan rumah Rendy. Rumah dengan gaya kuno menampakkan keasriannya namun terlihat mewah dan elegan.
"Alhamdulillah sudah sampai, ayok Pak, Ma, Krisna kita turun, itu Abah dan Umi sudah menyambut kedatangan kita." ucap Rendy pelan.
"Wah, ma.. kita sudah ditunggu besan, lihat itu?" ucap bapak Sofi dengan semangat.
"Assalamualaikum, Umi... Sofi kangen." ucap Sofi dengan nada manjanya dengan mengecup punggung tangan Umi, kemudian mengecup kedua pipi Umi. Rendy pun mengikuti setelah Sofi. Kemudian bergantian kepada Abah.
"Waalaikumsalam, Sofi sayang, Masya Allah... udah berhijab makin cantik, jadi istri Sholehah ya Nak." ucap Umi dengan santainya.
"Istri?" ucap mama yang menyimak pembicaraan antara Sofi dan besannya itu
"Masya Allah, ini mamanya Sofi cantik sekali. Saya manggilnya apa ya?" ucap Umi lembut.
"Saya panggil Umi, Umi panggil saya mama, biar lebih akrab." ucap mama dengan rasa percaya diri.
"Okelah mama Sofi. Ayok masuk dulu, bersantai dulu di gubuk saya ini. Mudah mudahan betah tinggal disini." ucap Umi sopan.
"Masuk bapak, Abah kita bicara disini, masa ngobrol di pekarangan, gak etis dilihat tetangga." ucap umi dengan bijak.
Semua orang pun masuk ke dalam rumah, ruang tamu yang sangat luas membuat rumah itu menjadi terlihat luas.
Sofi sudah menganggap rumah Rendy seperti rumahnya sendiri. Sofi pun ke dapur untuk membuatkan minum dan membawa cemilan untuk kedua orang tuanya.
"Ini ma, pak minumnya. Ini untuk Abah special buatan Sofi. Ini buat kamu mas Rendy, untuk menguatkan stamina tubuh kamu." ucap Sofi polos.
"Ekhmmm iya dech, Umi mah dilupain, cuma buat Rendy dan Abah aja. Buat Umi mana?" ucap umi lembut.
"Ini buat Umi tersayang." ucap Sofi sambil duduk disebelah Umi dan memeluk Umi dari samping.
Sofi lebih nyaman dengan Umi dibandingkan dengan mamanya sendiri. Umi yang lembut dan penuh kasih sayang, membuat Sofi betah berada dipelukannya.
"Sofi, itu suaminya cemburu?" ucap umi lembut sambil mengelus-elus punggung Sofi.
"Saya kok gak paham ya Umi, suami istri, maksudnya apa?" ucap mama Sofi polos.
Abah dan Bapak pun ikut menyimak pembicaraan mereka.
"Kalian sedekat ini Sofi?" tanya bapak Sofi dengan pelan.
Adapun alasan saya menikahi Sofi untuk menghindari fitnah karena kedekatan kami berdua. Selain itu saya ingin menjaga Sofi maksimal, saya sering menemani Sofi dikontrakkan hingga larut malam. Jujur pernikahan ini hanya untuk menghindari fitnah, dan saya dengan Sofi belum pernah sedikitpun berhubungan layaknya suami-istri, kita menjaga itu semua menunggu restu dari Bapak dan Mama. Maafkan Rendy, Bapak dan Mama, Sofi masih utuh dan belum tersentuh." ucap Rendy mantap.
"Kamu yakin Sofi belum kamu sentuh?" ucap bapak Sofi sedikit keras.
"Maksud saya, masih perawan. Kalau tersentuh pastinya sudah, karena saya sering menggandeng tangan Sofi." ucap Rendy sedikit gugup.
"Jujur Bapak kecewa dengan kamu Rendy, kenapa kamu tidak jujur dari awal. Menikah siri itu bagi Bapak merugikan anak Bapak. Karena dia tidak bisa menuntut hak nya sebagai istri, beda dengan pernikahan yang SAH Dimata hukum dan agama. Bapak ingin Sofi menikah sekali dalam seumur hidupnya. Yang kedua, Bapak sudah tidak kaget bila kamu itu sudah menikah, karena tadi pagi yang Bapak lihat itu menjadi bukti, kalian sudah memiliki satu sama lain." ucap bapak tegas.
Rona pipi sudah berwarna merah di kedua pipi mereka. Malu sungguh malu, melihat mereka dalam keadaan nafsu mesumnya.
"Memang tadi pagi mereka berbuat apa Pak?" ucap Umi menyelidik.
"Biasa Umi lagi kasmaran, ya begitulah, salah tempat." ucap Bapak meledek.
"Apa sih Umi, Bapak." ucap Sofi merasa malu.
"Ini foto pernikahan kami, videonya juga ada sebagai bukti kami sudah menikah. Kalau Bapak sudah merestui kita bisa membuat pesta pernikahan dan membuat buku nikahnya." ucap Rendy pelan menjelaskan. Jujur Rendy takut bila bapak mertuanya itu marah.
"Lihat ma, anakmu Sofi begitu cantik, sayang kita tidak bisa melihat waktu ijab Kabul itu berlangsung." ucap Bapak sedikit kecewa dan menyesal, karena mereka orang tuanya, tapi mereka mendapat kabar bahagia yang terakhir kalinya.
Ucapan Bapak sangat menohok dan terlalu tajam menusuk hati ini. Ada rasa sakit dan kecewa, mendengar restu yang sudah kudapat, tapi tidak dengan pengulangan ijab kabul di depan mereka.
Buliran kristal pun mulai jatuh satu per satu. Perasaan bersalah Sofi, karena mengambil keputusan besar tanpa berunding dengan orang tuanya.
Setidaknya sudah ada kelegaan dengan ucapan restu dari orang tua Sofi.
"Maafkan Sofi dan Mas Rendy ya Pak, Ma kalau sudah membuat kalian kecewa." ucap Sofi pelan.
"Nasi telah menjadi bubur, yang lalu biarlah berlalu. Yang penting saat ini kalian sudah berbahagia. Dan Bapak akan pegang janji Rendy untuk tidak menyakitimu." ucap Bapak Sofi dengan tegas.
"Lalu kapan kalian mau buat pesta pernikahan, mumpung Bapak dan Mama ada disini?" ucap Mama Sofi semangat.
"Bagaimana kalau seminggu lagi, pesta yang meriah, karena orang tua sudah merestui pernikahan kami berdua." ucap Rendy mantap.
"Abah dan Umi setuju, ini harus dirayakan." ucap Abah semangat.
"Baiklah kami pun setuju. Setidaknya masih ada moment kebahagiaan pernikahan kalian, Mama masih bisa menyaksikan." ucap Mama pelan.
"Oke semua setuju, seminggu lagi, saya dan Sofi akan menggelar pesta pernikahan disini." ucap Rendy mantap sambil melirik ke arah Sofi.
Lega rasanya untuk jawaban dari doa doaku selama ini. Doa yang indah tepat pada waktunya. Semoga memang ini menjadi takdir yang indah yang Allah SWT berikan kepadaku.
Terima kasih ya Allah SWT, Engkau telah mengabulkan semua doa ku.
---------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚