
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Kesucian Syahadat
Dahsyatnya SHOLAWAT
Angkringan Cinta
Kopi Paste
Ketabahan Aisyah
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
"Sayang ... kita berdoa yang terbaik ya untuk Rendy. Semoga semua baik baik saja." ucap Umi dengan pelan.
Tatapannya nanar ke depan dan mengusap kepala Sofi yang berada di pangkuan Umi.
Inilah perjalan hidup yang sesungguhnya, Ada senang dan ada susah. Semuanya silih berganti hingga kita pun tidak bisa menikmati semuanya karena semua itu akan lenyap dan mati rasa. Itu tandanya kita sudah berada di alam kubur dan menyesali semuanya.
Akhirnya perjalanan pun berakhir. Tujuan Rumah Sakit pun sudah terlihat di depan mata. Mobil pun menepi mencari parkiran di dalamnya.
Abah pun dengan cepat turun dari mobil dan berjalan menuju ruang informasi. Sofi pun turun dari mobil dibantu oleh Mama dan Umi.
Kang Tatang dan Asmah sejak tadi berada di depan ruang operasi. Mereka memang sengaja menutupi apa yang sebenarnya terjadi pada Rendy. Ada luka memar di sekujur tubuh Rendy, dan yang lebih parah, rendy mengalami gegar otak ringan dan patah tulang di lengan bagian kanannya.
Operasi yang dilakukan untuk mengurangi penyumbatan darah yang membeku di kepala Rendy.
Abah pun berlari menyusuri lorong setelah mendapatkan informasi dari bagian depan. Pasien kecelakaan atas nama Rendy sedang melakukan operasi.
Sofi pun berlari dengan terseret-seret, perutnya keram dan sakit sekali. Belum lagi rasa mual dan pening di kepalanya membuatnya semakin terasa sesak di dada.
Pandangannya pun semakin gelap dan buram, Sofi pun masih memaksa berlari dengan tumpuan memegang tangan Umi dan Mamanya.
Brug ....
Sofi pun terjatuh tidak sadarkan diri di lantai rumah sakit itu sebelum mengetahui kabar Suaminya.
"Sofi ... Masya Allah ... Nak bangun ... Ini gimana, tolong panggil perawat bawa menantu saya ke ruang IGD." ucap Umi setengah berteriak kepada orang-orang di sekitar.
Mama Sofi sudah berlari menuju bagian pendaftaran untuk mendaftarkan anaknya. Satu brankar di dorong dari arah depan, dan mengangkat tubuh Sofi yang kemudian diletakkan di brankar itu.
Brankar itu pun di dorong kencang menuju IGD. Kondisinya lemah sejak mengandung dua bayi di rahimnya.
Sofi pun di periksa dan akhirnya di pindahkan ke ruang rawat inap. Sofi hanya kelelahan dan shock atau stres, hingga mengakibatkan keram pada perutnya. Asupan makan yang kurang dan kurangnya minum air membuat Sofi terlihat lemah dan pucat.
Sofi pun siuman dari tidurnya sekitar tiga jam di brankar itu. Satu infusan menusuk di punggung tangan kirinya. Rasanya lapar dan ingin makan.
"Mah ... Sofi mau makan dan minum." ucap Sofi pelan.
Mendengar anaknya memanggil, Mama Sofi pun beranjak dari duduknya dan menghampiri sofi.
"Mau makan apa sayang?" tanya Mamah Sofi dengan pelan dan lembut.
"Bubur ayam Mah sana teh manis hangat." ucap Sofi pelan.
"Tunggu ya sayang, Mama akan belikan untuk kamu." ucap Mama pelan dan pergi ke luar ruangan rawat inap itu.
Sofi memegang kepalanya dan masih terasa pusing. Sampai lupa menanyakan kabar Suaminya bagaimana pasca operasi itu.
-Di Ruang Rendy-
Rendy baru saja selesai di operasi, bahkan sudah satu jam belum sadar juga. Hasil dari operasi baru akan terlihat setelah Rendy sadar. Operasi berjalan dengan lancar. Semua bisa bernapas dengan lega.
"Bangun Nak ... Istrimu pun sedang tidak sadarkan diri, bahkan dia pun belum mengetahui kabarmu bagaimana." ucap Umi yang sejak tadi terus saja menangis dan memegang tangan anaknya itu.
Abah pun hanya terduduk lesu, setelah berbincang dengan dokter spesialis yang menangani Rendy. Dokter pun menjelaskan keadaan Rendy yang sebenarnya dan bagaimana respon dan reaksi setelah pasca operasi nanti.
Hal terburuknya adalah Rendy bisa hilang ingatan walaupun tidak permanen. Luka di sekujur tubuhnya pun akan hilang cukup by lama. Karena ada beberapa benturan yang cukup parah mengenai dada Rendy.
Menurut Dokter itu, kesembuhan Rendy bergantung pada Kesabaran keluarganya yang akan mengurus. Tidak lupa kontrol kesehatan Rendy minimal satu bulan sekali.
Abah pun hanya menggelengkan kepalanya tanda paham dan mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh dokter. Sedangkan Kang Tatang tampak sesekali melontarkan pertanyaan seputar kesehatan Rendy yang belum bisa dia pahami.
Situasi ini sulit, terlebih Sofi sedang mengandung. Kasus ini pun sedang di selidiki, menurut Tatang ada kejanggalan disini.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
Ditunggu ya ...
Terima Kasih ....
💚💚💚💚💚