Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 71 JANGAN SELINGKUH, JANJI???



Rendy dan Pak Andi pun mulai mengambil nasi dan lauk pauk tanpa malu malu. Sepertinya menahan lapar sedari tadi. Sofi pun bangkit berdiri untuk mengambil gelas di rak piring.


"Ini airnya Pak... ini buat kamu Mas." ucap Sofi pelan.


"Permisi Bu Sofi, Pak Rendy...." ucap Mutiara pelan.


Mutiara pun berjalan sambil lalu sambil terus tersenyum.


"Itu siapa Fi..?" tanya Rendy penasaran.


"Itu Tiara Mas. Anaknya Bik karsih. Dia baru pulang kerja dari Konter yang di pasar." ucap Sofi pelan.


Pembicaraan mereka pun terhenti sampai disitu. Ada Pak Andi yang ikut menyimak pembicaraan mereka. Sebisa mungkin orang luar jangan tahu isi di dalam rumah tangga. Baik dan buruknya itu adalah aib yang harus ditutupi oleh keduanya.


Makan malam pun selesai. Pak Andi pun terlihat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Bukan saya tidak sopan. Hari sudah malam, saya harus segera kembali pulang. Anak dan istri saya pasti menunggu di rumah." ucap Pak Andi dengan sopan.


"Silahkan Pak Andi. Hati hati dijalan, jangan lupa besok jemput saya lagi." ucap Rendy menitah dan mengantarkan Pak Andi hingga tewas depan rumah.


Pak Andi pun sudah meninggalkan rumah Rendy dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Rendy pun berbalik dan menutup pintu rumah serta menguncinya.


Sofi sudah menunggunya di ruang keluarga dengan segelas kopi hitam kesukaan Rendy.


"Bawa ke kamar saja sayang. Aku mau mandi dulu." ucap Rendy pelan.


Sofi pun menuruti kemauan Suaminya dan membawa kopi tersebut ke dalam kamar. Sofi pun langsung menyiapkan pakaian ganti Suaminya.


"Bik Karsih orang yang dibawa Umi?" tanya Rendy lembut.


Sofi yang sedang berdiri di balkon kamarnya pun kaget menoleh ke arah Rendy yang sudah rapih dengan pakaian tidurnya.


Rendy menyeruput kopi hitam itu dan menghampiri Sofi memeluk tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang.


Sofi yang mendapat perlakuan ini pun tampak bahagia dan senang. Rendy itu memang tipe romantis, tapi kadang moodnya sering gak bagus. Malam ini sepertinya moodnya bagus, pasti akan bercocok tanam lagi.


"Iya Mas. Tapi..... " ucap Sofi terputus dan memilih diam.


"Kamu kurang nyaman kan? terlebih dengan Tiara?" ucap Rendy pelan.


"Iya Mas. Tapi.... " lagi lagi ucapan Sofi terhenti dan memilih diam.


"Tapi kamu gak enak sama Umi kalau menolak? iya kan?" ucap Rendy pelan.


"Iya Mas. Tapi ..... " ucapan Sofi terhenti lagi dan memilih diam kembali.


"Kenapa? kita cari yang lain saja. Yang lebih tua dan bisa ngemong kamu." ucap Rendy pelan.


Sofi pun mengangguk tanda setuju.


"Nanti, aku bilang Umi. Sebetulnya Mas juga gak nyaman, ada wanita muda yang masih perawan." ucap Rendy polos.


"Emang kamu tahu? Tiara masih perawan atau tidak?" ucap Sofi pelan.


"Hemmmm.... aku boleh coba? nanti akan ku beritahu kalau masih penasaran?" ucap Rendy terkekeh.


"Kamu kenapa pulang larut Mas. Memang tidak bisa menghubungi aku. Tadi aku telepon kamu, tapi kata sekretaris kamu, kamu meeting." ucap Sofi pelan.


"Kamu telepon aku? lewat hp?" tanya Rendy meyakinkan.


"Iya ... sekitar jam tiga lah." ucap Sofi pelan.


"Kok aneh ya, Bella gak bilang apa-apa." ucap Rendy polos.


"Bella? itu sekretaris kamu? dari namanya sepertinya cantik dan bahenol." ucap Sofi datar.


"Tahu apa kamu tentang bahenol. Aku gak kegoda mau yang gimanapun. Sudah ada istri yang setia, yang nurut, buat apa mencari yang lain." ucap Rendy pelan.


"Kenapa dengan Kang Tatang?" tanya Rendy pelan, dahinya tampak berkerut mendengar ucapan Sofi.


"Maaf Mas Rendy. Sofi kok kurang sreek ya." ucap Sofi pelan.


"Itu hanya perasaanmu sayang. Jangan berpikir negatif, dia kakakku, walaupun cuma kakak angkat." ucap Rendy mengingatkan.


Sofi pun tampak terdiam, kurang puas dengan jawaban Rendy yang membela Kang Tatang sebagai sosok kakak yang baik.


"Gimana pekerjaanmu hari ini Mas." tanya Sofi membalikkan badannya ke arah Rendy.


Mereka saling berhadapan, hembusan nafas pun saling beradu. Jantung mereka pun berdetak kencang, seperti baru merasakan aliran mendidih seperti ini.


"Menyenangkan. Aku diterima dengan baik oleh Rangga dan karyawan yang lain. Kamu gimana tadi antar pesanan Kue nya." tanya Rendy, satu kecupan mendarat manis di pipi Sofi.


Tubuh Sofi pun seketika meremang. Langsung bisa di atasi dengan baik.


"Ternyata yang pesanan Kue berkarakter itu milik anak Mas Rangga namanya Faiz." ucap Sofi menjelaskan.


Rendy tampak berpikir dan manggut-manggut.


"Kok bisa kebetulan gitu ya." tanya Rendy lirih.


"Aku gak tahu Mas. Aku hanya ambil pesanan dari medsos aja. Tanpa mengetahui siapa yang memesan." ucap Sofi membela diri.


"Iya sayang. Mas percaya sama kamu. Hanya kok bisa serba kebetulan aja." ucap Rendy tersenyum kecut.


"Jauhkan pikiran negatif kamu Mas." ucap Sofi mengingatkan dan mengulang kembali apa yang diucapkan Rendy tadi kepadanya.


Rendy menyentil dahi istrinya dan terkekeh.


"Sudah bisa menggoda suami ya. Suami lagi mode cemburu." ucap Rendy pelan.


"Kamu pikir aku gak cemburu kamu mempunyai sekretaris namanya Bella. Mendengar namanya saja, seperti pelakor." ucap Sofi lantang.


Deg....


Deg....


"Kalau saja Sofi tahu yang sebenar-benarnya tadi sore. Mungkin bercocok tanam kali ini bisa gagal total. Benih yang sudah aku persiapkan dengan baik harus bisa memupuk lahan gambut agar cepat subur." gumam Rendy dalam hati.


"Kok diem sih Mas. Kita berdua ini sama sama pencemburu. Jadi jangan saling membuat aliran darah mendidih Mas." ucap Sofi mengingatkan.


"Baiklah, janji ya. Untuk tidak selingkuh." ucap Rendy dengan serius. Sambil mengangkat jari kelingkingnya untuk ditautkan ke jari kelingking Sofi.


"Perjanjian macam apa itu Mas. Kita sudah menikah jangan seperti anak kecil." ucap Sofi kesal.


"Tapi Fi.... Aku mencintai kamu." ucap Rendy mengecup bibir Sofi.


"Kalau cinta itu gak perlu cemburu yang berlebihan Mas. Aku juga cukup tahu diri dan bisa menjaga diri untuk tidak berhubungan langsung dengan laki laki walaupun itu Kang Tatang kakakmu." ucap Sofi dengan mantap.


Bagi Sofi sudah cukup ujian rumah tangganya. Jangan sampai ada pengganggu dan perusak rumah tangga mereka.


"Jadi malam ini boleh bercocok tanam?" tanya Rendy pelan di dekat telinga Sofi. Rendy pun ******* telinga itu dengan gemas.


Sofi hanya mengerang kegelian. Tubuhnya pun sudah di kurung oleh Rendy dan diangkat oleh Rendy ke dalam kamar kemudian di rebahkan di atas kasur.


Rendy pun langsung mematikan lampu dan menindih Sofi yang sudah tidak berdaya.


Hanya terdengar suara erangan halus dan lembut, seperti rasa menikmati tak tertahankan. (Bisa gagal fokus kalau dilanjutkan 🤭, Author... stop ya.)


Proyek kali ini harus benar benar Jozz Gandos.... tidak boleh gagal. Karena pelakor dan pebinor sudah siap memangsa salah satunya.


JAZAKALLAH KHAIRAN