
Suara adzan shubuh yang sedang bergema dengan suara yang merdunya. Panggilan dari Allah SWT bagi hamba hambanya yang mau melaksanakan sholat shubuh dan menghadap Sang Pencipta untuk memulai awal hari mereka. Tapi tidak untuk kedua pasangan pengantin yang tengah tertidur pulas karena kelelahan.
Sudah pukul lima tapi tidak ada pergerakan dari kamar pengantin itu.
"Lihat, mereka mungkin beberapa ronde melakukannya, hingga shubuh pun terlambat. Ramuan yang kita buat benar benar ampuh." ucap Umi Rendy pelan.
"Iya walaupun ada kesalahan telurnya harusnya setengah matang dan telur ayam kampung, kita malah memberinya telur bebek mentah." ucap Mama Sofi menimpali.
"Tidak tanggung-tanggung lima butir, pasti lemas lho Mah." ucap Umi tersenyum lebar.
"Semoga mereka bahagia dan cepat dapat momongan. Saya sudah kepengen cucu." ucap Mama Sofi.
Kedua ibu itu sibuk dengan menanggapi hasil ramuan yang mereka buat. Mereka pikir itu berhasil, ternyata?
Kedua pasangan pengantin baru itu masih terlelap, hawa segar dan sejuk udara pagi yang masuk melalui celah celah jendela kamar, membuat selimut tebal itu semakin ditarik ke atas.
Lain halnya dengan Sofi yang merasa sedikit dingin menusuk tulang dan sendi.
Sofi mulai membuka kedua matanya, mata indah itu masih mengerjap ngerjapkan matanya dan merasakan area intimnya yang sedikit perih dan terasa mengganjal.
Sofi hanya tersenyum mengingat apa yang telah terjadi semalam, bagaimana perkasanya seorang Rendy membobol gawang dan mampu membuat gawang lawan itu benar benar menikmati hingga dan merengkuh puncak nikmatnya hingga puas dan akhirnya terkulai lemas.
Sofi menghadap ke arah Rendy, memegang wajahnya yang baby face itu, terasa menggemaskan. Selama ini mereka berteman, bersahabat dan dekat, tapi memang mereka masih memiliki batas batas berteman.
Kamu ganteng Mas, gumam Sofi pelan.
"Baru sadar sayang, kalau suamimu ini ganteng." ucap Rendy pelan sambil tersenyum lebar.
"Kok bangun sih, biarin aja begini sayang. Harusnya kamu pura pura gak tahu." ucap Sofi pelan.
Rendy pun mengecup pipi dan bibir Sofi dengan lembut.
"Sayang ramuannya baru bereaksi. Tadi malam kok Mas malah lemas. Tapi sekarang melihatmu seperti ini Mas ingin melanjutkan yang terlewatkan tadi malam." ucap Rendy menggoda.
"Memangnya apa yang terlewatkan?" ucap Sofi polos.
"Mas lupa minta tambah sama kamu." ucap Rendy tertawa renyah.
"Mesum aja punya suami." ucap Sofi pelan., sambil mencubit gemas pipi Rendy.
"Sudah hak milik, lihat tuh sudah ada cap paten, MILIK RENDY." ucap Rendy mantap.
"Mandi dulu sayang kita belum sholat shubuh lihat tuh sudah jam lima lebih." ucap Sofi menasehati.
"Habis itu nambah ya, kalau gak biar Mas peluk terus seperti ini." ucap Rendy manja.
"Gampang itu, yang penting mandi dulu sayang." ucap Sofi datar. Sofi pun menurunkan kedua kakinya dan mulai berjalan. Lumayan sakit nih buat jalan.
"Fi, kamu kenapa? sakit perut?" ucap Rendy yang juga sama polosnya.
Masa iya mau bilang sakit anunya. Bisa kecewa Mas Rendy.
"Iya Mas, mules mau ke WC dulu ya." ucap Sofi dengan sedikit meringis.
Rendy pun melihatnya seperti ngilu bukan sakit perut biasa. Tapi Sofi sudah keburu masuk ke dalam kamar mandi. Rendy pun berdiri dan melihat ke arah bercak darah berwarna merah. Rendy pun mengganti sprei dengan yang baru dan merapikan tempat tidur hingga rapi kembali.
"Fi..." ucap Rendy pelan mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya Mas, kenapa, sebentar lagi Fi selesai." ucap Sofi pelan.
Tidak sampai lima menit pintu kamar mandi pun terbuka. Sofi keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di tubuhnya. Rambutnya masih basah dan tetesan airnya pun masih menetes di bahunya. Terlihat fresh dan cantik. Rendy pun melihat ke arah Sofi tanpa berkedip. Ingatannya kembali saat tadi malam memulai menggiring bola ke kanan dan ke kiri berputar dan ke depan serta ke belakang. Sang gawang pun terlihat terkecoh dan mendesah.
"Fi..." ucap Rendy dengan lirih.
Rendy langsung ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu. Sofi telah selesai sholat shubuh kemudian mengeringkan rambutnya. Tubuhnya masih terlilit handuk, karena belum sempat mengambil baju.
"Sarung Mas buat sholat mana Fi? yang hitam sudah kotor." ucap Rendy pelan.
Sofi mengambilkan sarung baru untuk Rendy sholat.
"Ini Mas sarungnya." ucap Sofi pelan.
"Makasih sayang." ucap Rendy lembut.
Rendy pun melaksanakan sholat shubuh dengan khusyuk walupun kesiangan.
Rendy berjalan ke arah Sofi, rambutnya yang setengah kering membuat gairahnya kembali terpacu.
"Fi, aku nambahnya sekarang ya? boleh sayang?" ucap Rendy lembut. Bibirnya sudah berjalan menyusuri leher Sofi.
"Eughhhh Mas..." ucap Sofi pun terbawa suasana.
Tangan Rendy pun sudah membuka lilitan handuk itu dengan lembut hingga si empunya tidak tersadar, karena sudah terangsang dengan ciuman ciuman dileher dan ditubuh Sofi.
Gunung kembar yang tertutup handuk pun berganti tertutup oleh kedua tangan Rendy. Tidak hanya menutup tapi juga memilin bagian ujung gunung kembar itu secara bersamaan, membuat si empunya pun menggelinjang hebat. Ada setrum yang membuat rangsangan itu pun menginginkan lagi, lagi dan lebih lagi...
Stik golf Rendy sudah menegang dengan sempurna. Rendy menggendong Sofi ke kasur yang rapi dan nyaman itu. Tubuhnya sudah bergetar tak karuan, lengannya pun sudah mengalungkan ke leher Rendy. Rangsangan yang dahsyat membuat wanita jadi terlihat lebih nafsu.
Ciuman bibir tidak lagi lembut, gigitan kecil, luma*tan, dan hisapan dibibir dan dilidah mereka sehingga membuat sedikit kebas.
"Fi....Mas masukin ya sayang." ucap Rendy lirih.
Tangannya masih menyentuh satu gunung kembar, kemudian beralih pada lembah sejuk nan basah. Lembah yang membuat hawa panas dan nafsu beringas.
"Iya Mas, pelan pelan, biar Sofi bisa menikmati seperti malam tadi." ucap Sofi dengan senyum merekah.
Sofi ingin mengulangi lagi, menikmati puncak kepuasannya bersama dengan suaminya.
"Kamu menikmati sayang?" ucap Rendy sedikit meracau.
Rasa enak, geli, nikmat bercampur menjadi satu karena telah menyelami lembah sejuk itu. Lembah semakin basah dan licin membuat pergerakan stik golf itu semakin lincah dan gesit.
Semakin lama semakin cepat dan seluruh tubuh sudah basah keringat kenikmatan. Stik golf itu pun semakin cepat, cepat dan lebih cepat untuk menggapai puncak asmara mereka.
Rendy pun sudah tidak terkontrol, stik golf itu keluar masuk mencari kenyamanan dan kenikmatan untuk mencapai kepuasan. Semua goyangan pun di coba, goyang ngebor, goyang itik, goyang gergaji sampai goyang milenial pun tak terlewatkan hanya untuk mencari kenikmatan.
"Fiii...... akhhh..... Fi....... Akhhhhhhhhhh!!!!!!" ucap Rendy yang sudah terbelenggu dengan hasrat nafsu yang membuncah.
Sofi tersenyum bahagia, melihat suaminya telah mendapatkan kepuasan secara bersamaan dengannya. Senyuman yang terukir indah dibibirnya. Seperti telah menjadi istri yang seutuhnya.
"Mas, hangat dan penuh." ucap Sofi pelan.
"Kamu puas Fi?" ucap Rendy yang terlihat lemas.
Sofi menganggukkan kepala. Perasaannya memang bahagia dan senang. Kali ini memang lebih nikmat dan bisa dinikmati, karena rasa sakit itu telah hilang.
"Sangat Puas Mas." ucap Sofi mantap.
--------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚