Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 53 ALLAH SWT ITU SANGAT DEKAT



SELAMAT MEMBACA


💚💚💚💚💚


Rendy sudah tiba di Ibukota. Tadi malam Rendy sudah menyelesaikan tugas tugasnya dengan baik. Untuk apa mengejar duniawi jika membuat Rendy semakin terperosok.


Langkah kaki Rendy melewati lorong Kantor Pusat pun menjadi perhatian semua karyawan. Pasalnya, pimpinan baru cabang Bali hadir ke Pusat, pasti ada masalah. Dengan mudahnya orang itu menerka dan membuat gosip tanpa tahu kebenarannya.


Sampailah di depan Kantor Direktur Pusat. Ada nama jelas tertulis di depan pintu ruangan tersebut. Ruangan Direktur Bapak Asnawi, gumam Rendy lirih.


"Assalamualaikum... " ucap Rendy mengetuk pintu ruangan itu.


"Waalaikumsalam, masuk." ucap Bapak Asnawi dari dalam ruangannya.


Tidak banyak basa basi dan membuang waktu yang tidak berguna. Rendy pun masuk ke dalam ruangan dengan wajah datar. Rendy pun langsung menyodorkan berkas sebendel di dalam map-nya.


Direktur Asnawi melihat Rendy dengan seksama dan penuh tanya.


"Maaf Pak Asnawi, tugas saya untuk menjalankan proyek sudah selesai. Kedatangan saya kesini untuk menyerahkan kedua berkas ini, yang pertama berkas hasil pertanggung jawaban selama mengurus proyek pertama. Semua beres tanpa hambatan, dan berkas yang kedua adalah berkas pengunduran diri saya dari PT ALKIT. Saya senang bisa menjadi bagian dari perusahaan ini, tapi saat ini saya ingin fokus mengejar akhirat saya dibandingkan dunia." ucap Rendy mantap.


Matanya menatap lekat Sang Direktur. Mencari sesuatu yang janggal itu. Tapi tidak ada wajah Sang Direktur begitu polos dan bijak.


"Kamu yakin, Pak Rendy? Karirmu sedang bagus, kamu pimpinan salah satu cabang yang sedang maju pesat, dan kamu memiliki kinerja dan pamor yang mumpuni. Tapi kamu memilih mudur di saat cabang yang kamu pegang sedang membutuhkan kamu." ucap Sang Direktur pelan dan tegas.


"Jawabannya ada di hati Pak Asnawi. Kalau hati dan pikiran tidak sejalan maka dipastikan semuanya hancur. Saya lebih memilih bekerja menggunakan hati bukan pikiran. Kalau menggunakan hati, maka rasa simpati, empati serta ketulusan bersatu disana. Tapi jika menggunakan pikiran yang ada hanya nafsu dan obsesi. Itu semua bisa menghancurkan diri kita sendiri." ucap Rendy menjelaskan.


"Saya tahu betul seperti apa kinerjamu, saya sangat menyayangkan pengunduran dirimu Pak Rendy. Tapi semua keputusan ada di tanganmu. Mungkin kamu sudah memikirkan hal ini secara matang." ucap Direktur Asnawi pelan.


Rendy hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis kepada Direktur Asnawi.


"Anda benar sekali Pak Direktur, saya ingin berhijrah. Saya ingin berbuat kebaikan, bukan menambah dosa. Istri saya seorang mualaf, tapi dia selalu memotivasi saya untuk melakukan hal hal yang baik dan positif." ucap Rendy pelan.


"Sudah mantap? tidak ingin dirubah lagi?" tanya Direktur Asnawi pelan sambil bernegosiasi.


"Insya Allah, saya yakin dan mantap dengan pengunduran diri saya." ucap Rendy dengan suara yang lantang.


Direktur Asnawi pun memanggil Alya sekretarisnya untuk mengurus berkas pengunduran diri Rendy dan menyiapkan uang pesangon untuk Rendy sesuai masa kerja dan level jabatannya saat ini.


"Jangan pernah menyesali suatu keputusan. Jalani semuanya dengan baik." ucap Direktur Asnawi dengan nada mengejek.


"Tentu tidak Pak Asnawi. Saya yakin dengan keputusan saya. Ada Allah SWT yang selalu menjaga saya, jadi saya tidak akan risau dengan rejeki." ucapan Rendy pun seakan menjawab pertanyaan Direktur Asnawi yang tidak yakin dengan keputusan Rendy.


"Ini berkasnya Pak Rendy, silahkan ditanda tangani, dan ini uang pesangon anda, silahkan ditanda tangani, nanti siang akan secara otomatis masuk ke rekening anda." ucap Alya dengan sopan.


"Terima kasih Pak Asnawi. Semua sudah beres dan saya harus langsung pamit pulang. Assalamualaikum.." ucap Rendy by pelan.


"Waalaikumsalam... Hati hati Pak Rendy." ucap Direktur Asnawi sambil mengacungkan jempolnya.


Ada perasaan lega seolah beban yang selama ini bertengger di pundaknya pun hilang. Ada kenyamanan menjalani, hidup santai tanpa tekanan, tanpa dikejar date line dan waktu. Ada kebahagiaan bisa mengerjakan sesuatu tanpa harus ada aturan atau dikte atau SOP.


Rendy keluar ruangan direktur Asnawi dengan raut wajah beesinar. Langkah kakinya pun semakin cepat dan terasa ringan. Rendy pun menaiki taksi online yang sudah dipesannya menuju stasiun kereta api. Tujuannya saat ini adalah pulang ke rumahnya ke kota K.


Rendy ingin memberikan kejutan kepada Sofi istrinya. Sesuai dengan keinginan Sofi untuk berhijrah bersama, memulai usaha mereka dari awal. Agar bisa merasakan hidup rumah tangga yang sesungguhnya.


Perjalanan menggunakan kereta lebih cepat, hanya setengah dari perjalanan biasa menggunakan kendaraan roda empat.


Setelah dua jam perjalanan sampai juga di kota C dengan selamat. Perjalanan ke kota K dilanjutkan dengan taksi online sekitar tiga puluh menit saja.


Kalau merindu, tiga puluh menit pun terasa lama. Rendy membayangkan reaksi Sofi atas pengunduran dirinya. Apakah senang atau malah sebaliknya?


Mobil taksi online sudah sampai di titik tujuan yang diinginkan Rendy. Rendy pun segera melakukan pembayaran dan turun dari mobil. Langkah lebar dan terburu buru menuju pintu utama rumahnya. Rumah itu terlihat sepi, Rendy pun mengetuk pintu tapi tidak ada yang membukakan pintu utama itu. Rendy pun mencoba untuk membuka pintu rumah itu, ternyata tidak di kunci. Rendy pun masuk mencari keberadaan penghuni rumah namun tidak satu pun ada di dalam rumah.


Entah kemana perginya mereka semua, hingga pintu rumah tidak di kunci. Rendy pun menuju kamarnya dan melepaskan sepatunya dan mengganti pakaiannya dengan kaos singlet tipis dan celana pendek hingga menunjukkan bulu bulu pada dada dan kakinya.


Tubuhnya pun direbahkan di kasur nyaman itu, tidak lupa menggunakan selimut tipis di setengah badannya. Hingga Rendy pun benar benar terlelap dalam tidurnya.


Tiga jam kemudian, Sofi dan Umi pulang dari mengurus usaha yang akan dirintis oleh Sofi. Satu per satu ceklist dalam buku panduannya pun sudah tercoret. Lahan seluar satu hektar, akan dibuat saung dan dibawahnya tambak ikan, ada taman bermain anak, dan ada danau buatan cukup untuk bermain bebek bebek kan yang dikayuh mengitari danau. Rencana yang cukup menarik dan apik. Semuanya sedang proses pembangunan, lahan tersebut sudah dibeli Sofi dan langsung mendatangkan arsitek dan tukang untuk mengurus semuanya sesuai keinginan Sofi.


Rencana kedua adalah menilik rumah bersama Umi. Rumah yang tidak terlalu besar, sederhana, mungil tapi terlihat klasik dan elegan. Rumah itu benar-benar cocok dan sesuai pilihan Sofi, tapi masih akan tahap nego harga.


Rencana ketiga membuat butik. Sementara butik akan dibuka di rumah Umi, Sofi sudah membelanjakan sebagian uangnya untuk modal butiknya. Dan besok semua pesanan barangnya datang. Besok akan menjadi hari yang melelahkan.


Membuka usaha baru itu, susah susah gampang. Tinggal niatkan dalam hati untuk mencari nafkah keluarga. Insya Allah rejeki pun akan dilancarkan.


Sofi, Rendy, menikah itu bukan akhir cerita kalian, tapi inilah awal cerita kalian menjalani dua pribadi yang berbeda yang harus disatukan secara paksa. Akankah berhijrah membuat kalian kuat? atau kalian malah menyerah karena keadaan?


-------------------------------


TERIMAKASIH SUDAH MELIPIR


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚