
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
"Sofi!!!" ucap Ronal lantang.
"Ada apa Ronal?" ucap Rendy tak kalah keras.
"Rendy!!! Sofi itu tunanganku, jadi tidak pantas kalian berduaan seperti itu. Ngaku Islam, pegangan tangan. Jangan jangan kamu berjilbab bawah buka warung!!" ucap Ronal kasar sambil menunjuk Sofi dengan jari telunjuknya tepat di depan wajah Sofi.
Sofi pun terhenyak kaget mendengar ucapan Ronal uang begitu kasar menuduhnya sebagai wanita yang tidak baik. Terlebih membawa bawa agama Islam hanya untuk batu loncatan. Hati Sofi pun pedih mendengar ucapan itu.
"JAGA MULUTMU RONAL!!!! JANGAN KAMU BAWA AGAMA ISLAM UNTUK MENGHINAKU. AKU MEMANG MUALAF, DAN AKU BARU SAJA MEMPELAJARI ISLAM. TAPI ITU TULUS KARENA ALLAH!!!" ucap Sofi marah dan keras.
"Jangan ucapkan itu lagi Ronal!!! Sofi adalah istriku, jangan menghinanya. Dia masih suci dan aku pun belum menyentuhnya." ucap Rendy tegas.
"Perset*n dengan semua itu. Mana ada kucing diam kalau disuguhi ikan tongkol., kecuali kalau kucing itu GAK NORMAL!!!" ucap Ronal semakin kasar.
"Hanya Allah SWT yang tahu, percuma meladenimu Ronal, bila akal sehatmu sudah tidak waras lagi, dan hatimu kacau di kuasai amarah. Aku sudah tahu siapa dirimu, tidak perlu kan aku buka jati dirimu yang sebenarnya itu siapa?" ucap Rendy mantap.
Sofi tetap tunanganmu, orang tuanya pun sudah menyerahkan kepadaku untuk kujaga dan kumiliki, ingat Rendy KUMILIKI. Kmau gak ada hak melarangku untuk membawa Sofi." ucap Ronal lantang.
"Cukup Ronal, aku sudah muak sama kamu. Putuskan pertunangan ini dengan segera, aku tidak ingin melihatmu lagi. Ayo mas Rendy kita pergi dari sini. Jangan sampai kita tersulut emosi ini." ucap Sofi sambil menarik tangan Rendy untuk keluar dari restoran itu.
Rendy pun yang sudah naik pitam, ingin sekali membogem wajah Ronal yang mengesalkan itu. Rendy dan Sofi keluar restoran dengan perasaan yang luar biasa kesal.
Perjalanan yang sunyi, hanya diiringi lagu pop melow. Tidak ada satu pun yang bersuara. Rendy hanya melirik Sofi dengan wajah masih terlihat kesal. Sedangkan Rendy sudah mulai bisa menguasai dirinya sendiri. Nafsu amarahnya pun harus segera dihilangkan agar tidak menggerogoti hatinya untuk semakin dendam.
"Sayang kita langsung jemput keluargamu di stasiun ya. Nanti kita bisa makan dulu disana." ucap Rendy pelan.
Hanya terdengar bunyi suara mesin menderu. Tidak ada jawaban, padahal yang ditanya tidak sedang tidur.
"Sofi sayang, kamu denger aku kan? Kita langsung ke stasiun jemput keluargamu?" ucap Rendy mengulang kembali pertanyaan tadi.
Sofi tetap diam, perasaannya masih sama, KESAL. Sofi hanya melirik Rendy dengan tajam.
"Aku salah apa Sofi? kenapa harus aku yang kamu diamkan?" ucap Rendy pelan.
"Kamu mau tahu salahmu apa! kenapa kamu gak membela aku mas? kenapa kamu hanya diam? kenapa kamu cuma menggertak? kenapa gak kamu pukul dia!!" ucap Sofi kesal, nafasnya memburu tanda ia menahan rasa kesalnya.
"Kamu tahu kenapa aku diam? karena aku gak mau mengotori tanganku untuk hal gak berguna seperti ini." ucap Rendy tenang.
"Hal yang gak berguna katamu mas, apa kamu gak sakit hati istrimu ini dibilang perempuan yang berkedok pakai jilbab tapi buka warung. Dimana harga diri kamu sebagai suami mas?" ucap Sofi semakin emosi.
"Aku juga kesal, aku marah tapi untuk apa? menjelaskan kebenaran kepada orang yang sudah dikuasai amarah dan nafsu. Lebih baik pasrahkan semuanya sama Allah SWT." ucap Rendy semakin tenang dan lembut.
Sofi terdiam mendengar ucapan Rendy, Sofi betul betul mencerna semua ucapan Rendy dengan baik.
"Kamu tahu Sofi, menemukan pasangan, bukan hanya tentang menemukan cinta, tetapi tentang menemukan ia yang menemanimu beribadah bersama, sembari terus memperbaiki diri untuk menggapai RifhoNya hingga ujung usia. Apapun tentang kamu baik yang sudah aku ketahui maupun yang belum aku ketahui, aku akan menerimanya dengan ikhlas. Ikhlasku itu diam baik dibibir maupun dihati, bila aku menggerutu itu bukan ikhlas tetapi itu hanya iklan. Kamu paham?" ucap rendy pelan.
Sofi tetap terdiam, ingin rasanya menjawab iya tapi ia malu mengakuinya. Sofi menyesal telah berbicara kasar dengan nada tinggi kepada suaminya. Padahal maksud Rendy sangatlah baik, dia tidak ingin memancing suatu permasalahan kecil menjadi arogan.
"Masih kesal sama aku, bener nih? ntar diambil Rere lho ini suaminya yang ganteng." ucap Rendy terkekeh.
"Maafin Sofi ya mas, Sofi salah, Sofi tadi terbawa emosi." ucap Sofi menyesali.
"Iya sayang gak papa. Aku mengerti keadaanmu tadi. Nah, gitu dong senyum, kan enak tuh dilihatnya." ucap Rendy sambil menjawil dagu sang istri.
"Mas Rendy .. lihat jalan, fokus dong sayang. Kita langsung ke stasiun kan?" ucap Sofi pelan.
Dua jam setengah perjalanan menuju stasiun. Kemacetan yang masih padat dan belum terurai.
"Sayang kita tunggu disini aja, kita beli makan terus makan dirumah tunggu aja, biar romantis." ucap Sofi sambil tersenyum.
"ROMANTIS, Rokok Makan graTIS." ucap Rendy terkekeh.
"Apaan sih gak jelas banget, jayus tahu gak?" ucap Sofi cemberut.
"Biarin, yang penting istrinya Sholehah." ucap Rendy merayu.
Ting Ting Ting.....
Perhatian ..... perhatian..... kereta jalur dua akan masuk dari arah Utara. Kereta eksekutif jurusan Kota Y menuju Kota J akan segera tiba.
"Sayang itu keretanya, Alhamdulillah sampai juga, kita tunggu dekat gerbong yuk.' ucap Rendy .
"Iya sebentar, aku minum dulu, habis makan burger ntar seret." ucap Sofi pelan agar tidak tersedak.
Rendy badan Sofi menuju jalur dua. Posisi mereka agak jauh dari kereta agar terlihat menyeluruh dari gerbong depan hingga gerbong akhir.
"Sayang itu kan Mama dan Bapak, ayo kita samper kesana." ucap Rendy sambil menggandeng tangan Sofi dengan erat.
Mereka pun berjalan menuju kedua orang tua Sofi, yang juga seperti sedang mencari seseorang.
"Assalamualaikum, mama, bapak, Krisna?" ucap Sofi pelan dan mencium punggung tangan kedua orang tua Sofi dan diikuti Rendy.
"Waalaikumsalam" ucap Rendy lirih tak ada jawaban dari salam Sofi.
"Sofi, Rendy syukurlah kalian sudah datang, tadi Bapak juga sempat was was." ucap Bapak datar.
"Ayo om, Tante dan Krisna kita ke rumah bude Rendy." ucap Rendy sambil mengangkat barang barang yang dibawa oleh orang tua Sofi.
"Ayo ma, pak, Krisna, ikuti Kaka ya." ucap Sofi semangat.
Ada rasa senang seperti selangkah lebih baik untuk keseriusan hubungannya dengan Rendy. Memang cara Allah SWT itu perlahan tapi pasti.
AKU MEMINTA TOLONG DUA HAL KEPADAMU :
Tolong jaga hatimu untuk Allah SWT
Tolong jaga kesendirianmu untukku.
Ini foto kebersamaan Rendy dan Sofi.....
---------------+-++++-------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚