Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 84 KALAU TAKDIR BERBICARA, AKU BISA APA??



Pagi ini baru terasa, badan yang pegal dan linu karena acara kemarin hampir semalaman kakinya berdiri menyambut tamu yang hadir.


Begitu pun dengan Sofi. Wanita yang sedang hamil muda sudah pasti lelah dan tidak bersemangat. Maunya nempel terus dengan bantalnya.


Bunyi dering ponsel Rendy sangat nyaring. Tertulis nama Rangga disana Si penelepon pagi buta.


Rendy pun menyambar ponselnya dan menekan tombol hijau disana.


"Assalamualaikum Ngga ada apa?" tanya Rendy sopan. Angga tetaplah atasannya walaupun di luar kantor mereka bersahabat


"Okeh ... aku mengerti. Baiklah mumpung mertuaku masih di sini." ucap Rendy menjelaskan.


"Iya siap Ngga." ucap Rendy pelan menjawab setiap pertanyaan dari Rangga.


Rendy meletakkan kembali ponselnya dan memakai bajunya dengan cepat. Pagi ini Rendy harus lebih pagi ke kantor dan nanti sore ada meeting dengan klien. Sofi hanya menatap Rendy dengan malas. Aroma menyengat dari botol parfum suaminya pun membuat kepalanya pusing dan mual.


"Mas ... jauh-jauh baunya gak enak." ucapnya ketus.


"Ini kan parfum biasa Fi. Kamu juga kan yang belikan buat aku." ucap Rendy tidak mau kalah.


Sofi pun berlari ke arah kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya yang masih kosong. Kepalanya benar benar pusing sekali. Apakah semua ibu hamil akan merasakan hal yang sama seperti ini.


"Fi ... Kamu kenapa sayang. Mau apa?" ucap Rendy lembut sambil memijat tengkuk Sofi agar semakin lega dan lebih nyaman.


Sofi pun menyandarkan punggungnya ke tembok dengan lutut sedikit di bengkokkan. Rasanya sangat lemas sekali, hingga berdiri di kakinya sendiri pun sulit. Dengan sigap Rendy pun membopong Sofi yang terlihat pucat dan tidak berdaya.


Di baringkannya Sofi di kasur dan di selimuti hingga menutup perutnya.


"Kamu ingin sesuatu sebelum aku pergi?" tanyanya pelan.


Sofi hanya terdiam dan memejamkan matanya lalu menggeleng dengan pelan.


"Fi ... aku harus berangkat pagi. Mau ada meeting sore ini dengan klien luar kota. Jadi aku harus standby." ucap Rendy pelan.


"Iya Mas. Pergi aja, aku gak papa kok." ucap Sofi pelan.


Rendy keluar dari kamarnya menuju dapur untuk mengambil makanan untuk Sofi. Ibu mertuanya masih sibuk di dapur untuk membuat makanan.


"Ada apa Rendy? Sofi hamil?" tanya Mama Sofi dengan girang. Kedua matanya langsung berbinar.


"Iya Mah. Kemarin USG hasilnya positif bahkan ada dua kantung janin." ucap Rendy bahagia.


"Hemm beri susu, buah dan sayur. Itu nutrisi terbaik untuk Ibu hamil." ucap Mama Sofi menjelaskan.


"Baiklah, tapi Sofi habis muntah-muntah katanya mual dan lemas. Sekarang maunya tiduran aja. Apakah orang hamil sepeti itu?" tanya Rendy kemudian kepada Mama Sofi.


"Kondisi Ibu hamil itu berbeda-beda ada yang mual ada yang tidak. Ada yang doyan makan ada juga yang tidak mau makan. Kamu mau berangkat kerja? Biar Sofi, Mama yang urus oke." ucap Mama Sofi dengan sangat lembut.


"Aku pagi ini harus Ke Bandung Mah. Untuk rapat dengan klien baru. Tapi aku pamit dengan Sofi hanya ke kantor saja. Rendy gak mau Sofi khawatir. Jagain Sofi ya Mah sampai Rendy datang nanti." ucap Rendy pelan. Wajahnya terlihat sedih dan sendu. Rasanya seperti berat meninggalkan rumah ini, apalagi harus berjauhan dengan Sofi yang sedang mengandung.


Rendy pun berpamitan kepada Mama Mertuanya untuk berangkat ke kantor lebih awal. Hari ini jadwalnya sungguh padat tapi di sisi lain, Rangga malah terlihat santai dan jarang di kantor.


Mobil sudah melaju dengan cepat karena mengejar lalu lintas belum padat di jam kerja. Mobil pun melaju di atas aspal yang mulus hingga di tikungan yang berkelok tajam ada mobil yang tiba-tiba berhenti dan mobil Rendy pun tidak terkendali, remnya pun tidak berfungsi dengan baik.


Duuuuuaaaaaarrrrrrrrrr ..... Tabrakan itu tidak terelakkan lagi hingga mobil yang di tabrak terdorong kencang ke depan. Mobil Rendy sendiri terguling bebas dan berhenti pada posisi terbalik.


Rendy masih sadar sempat membuka sabuk pengamannya dan berusaha untuk menyelamatkan dirinya sebelum mobil itu meledak, karena tanki bahan bakarnya pecah dan bahan bakar berceceran di jalan.


Kening Rendy sempat terbentur setir mobil hingga keras yang mengakibatkan kepalanya sedikit pening hingga Rendy pun tidak sadarkan diri, walau sudah berhasil membuka pintu mobil itu.


Api mulai menyambar karena percikan dari kabel yang konslet hingga ledakan pertama pun muncul bersamaan dengan api yang telah berkobar tinggi.


Jalanan begitu sepi, sepertinya semesta tidak menghendaki kebahagiaan di antara mereka berdua.


Kobaran api yang menyala-nyala pun meluluhlantahkan semua bagian mobil hingga tidak bersisa. Semua yang ada di dalam mobil tidak terselamatkan.


Di lain tempat, peluh sudah membasahi kening dan leher Sofi. Entah mengapa siang itu Sofi bermimpi buruk. Mimpi yang sama yang terus hadir selama tiga hari berturut-turut. Apakah ini pertanda buruk?, gumam Sofi dalam hatinya.


Pikirannya langsung ke arah Rendy yang sejak pagi tidak menghubunginya. Sesibuk apa kamu Mas Rendy, hingga mengabari aku saja tidak sempat?, gumam Sofi lirih sambil mengusap perutnya yang masih rata.


JAZAKALLAH KHAIRAN