
Semua berjalan dengan lancar dan baik, walaupun sebenarnya ada beberapa orang yang menginginkan kericuhan disana. Tapi untuk saat ini masih aman.
"Fi ... ganti baju dulu." ucap Rendy lembut.
Hari ini memang sangat lelah. Mutiara dan Ibunya sudah tidak ada lagi di rumah ini. Niatnya akan dipekerjakan hingga satu bulan lamanya. Sofi merengek terus kepada Umi untuk segera mengeluarkan Mutiara dari rumahnya.
"Sofi lelah Mas." ucap Sofi pelan. Kedua matanya pun langsung tertutup karena kelelahan.
Dengan siaga, Rendy melepaskan sepatu yang masih menempel di kaki Sofi lalu membuka gaun pengantin yang dipakainya dan mengganti dengan daster patung kesukaan Sofi. Seluruh kaki dan tangannya di basuh dengan air hangat agar tidak lengket.
Untung ada Ibu mertuanya yang sudah sejak tadi lebih dahulu kembali ke rumah sebelum acara benar benar selesai karena sudah terlalu lelah.
Satu hal yang Rendy ingat sewaktu masih di Saung tadi saat hendak akan pergi ke toilet. Ada Ronal disana, entah sengaja atau tidak sengaja Ronal sepertinya menunggu kedatangan Rendy dan memulai pembicaraannya antar laki laki secara jantan.
"Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu." ucap Ronal dengan tegas.
Tatapannya seperti ingin membunuh Rendy saat itu juga.
"Kamu lupa siapa aku, Rendy. Kamu sudah aku singkirkan dari perusahaan tapi ternyata itu tidak membuat kamu menjauhi Sofi!!!" ucap Ronal dengan lantang.
"Apa yang harus aku takutkan dengan kamu Ronal. Jabatan itu tidak penting bagiku. Aku tahu, dalang semua ini adalah Kamu, Ika, Rere dan Pak Jae." ucap Rendy sinis.
Plok.... plok... plok..... Ronal bertepuk tangan dan tertawa renyah, hingga suara baritonnya pun menggema di seluruh ruangan sempit itu.
Ronal pun takjub mendengar penuturan dari Rendy yang bisa membaca situasi kemarin. Dan hari ini pun rencananya sudah di atur sedemikian rupa, namun berhasil digagalkan oleh Candra.
Ronal mengeluarkan satu lembar hasil USG yang entah dari mana Ronal mendapatkan hasil itu.
"Sofi sedang mengandung Baby Twins. Dan itu menjadi sumber kebahagian kalian, aku benci kalian bahagia. Lihat apa yang akan aku lakukan." ucap Ronal meremas kertas tersebut seakan sedang meremas dan meremukkan tilang belulang seseorang.
"Dasar Psikopat kamu Ronal. Biarkan Sofi bahagia. Toh ... Ika juga sedang mengandung anak kamu kan, Ronal?" celetuk Rendy dengan tegas mengingatkan.
"Aku sudah menghabiskan uang banyak Rendy. Keluarga Sofi itu gila harta. Kamu dan keluargamu pasti akan di gerogoti kekayaannya saja." ucap Ronal dengan keras.
"Bicaralah sesuai keinginan kamu Ronal. Aku tidak masalah dengan hartaku." ucap Rendy pelan dan tegas.
Rendy pun meninggalkan Ronal terpaku sendiri mencerna semua jawaban Rendy yang mengisyaratkan semua baik baik saja.
Saat ini di sinilah Rendy berada. Merebahkan diri di samping Sofi dan mengusap perut yang masih rata itu. Disana sudah ada dua calon anak sekaligus. Sembilan bulan bukan waktu yang sebentar menunggu dan menanti tangisan bayi yang nyaring dari bibir mungilnya.
'Jaga diri dan jaga kesehatanmu Fi... Aku belum tentu bisa menjagamu selama dua puluh empat jam.' gumam Rendy dalam hati.
'Aku takut bila benar ada yang ingin mencelakakan kamu dan anak kita.' ucap Rendy dengan sangat lirih.
Kedua matanya pun mulai menutup karena rasa kantuk yang sudah tidak dapat di tahan lagi. Semoga Hari esok, akan lebih baik dari pada hari ini.
JAZAKALLAH KHAIRAN