
"Sofi..!!!!!" teriak seseorang dari pintu masuk Saung membuat ricuh sedikit karena suara teriakan lantang dari suara seorang laki-laki.
Sofi pun tampak terkejut kemudian tersenyum lebar, melihat sosok pria itu dihadapannya.
"Sofi... Ya ampun kok kayak orang kaget sih. Ini kan Ronal, bukannya sudah pernah lihat di tempatku dulu." ucap Candra dengan nada yang lemah gemulai.
Sorot mata yang tajam dari Ronal ke arah Sofi membuat Sofi tidak sedikitpun merasakan takut ataupun cemas. Bukti keburukannya menjadi saksi biksu tentang sikap dan sifat Ronal.
"Candra... aku cuma kaget, lagi serius ngobrol dengan Kang Tatang, kenalin ini kakaknya Mas Rendy." ucap Sofi menjelaskan.
"Kirain, takut sama akyu.... Hallo Kang Tatang, akyu Candra, namanya sih Deandra tapi panggil saja Candra." ucap Candra dengan nada manja.
"Hallo, Tatang. Saya tinggal dulu, mau cek dapur dulu." ucap Kang Tatang pelan perlahan mengundurkan diri untuk kembali pada tugasnya.
"Sofi, akyu mulai ya masang tenda dan hiasannya. Sekalian buat promosi WO akyu..." ucap Candra pelan.
"Iya Candra, sesukamu saja. Yang penting bagus, unik dan berkesan." ucap Sofi mengingatkan.
"Tenang saja cantik, serahkan pada Candra dijamin beres semua. Akyu pastikan semuanya puas dengan hasil karyaku. Tapi Akyu mau antar Ronal dulu ya. Nanti akyu kemari lagi." ucap Candra pelan.
"Iya Candra, kalau Sofi gak ada, ketemu Kang Tatang aja. Oke Candra." Tanya Sofi tegas.
"Siap Neng Canti. Akyu pergi ya Sofi. Yuk dada Babay...." ucap Candra lembut.
Ronal masih menatap tajam bahkan tatapannya semakin tajam. Candra sudah lebih dulu ke parkiran depan, sedangkan Ronal meminta ijin untuk ke kamar mandi. Waktu singkat itu, Ronal gunakan untuk bertemu Sofi dan menatap tajam.
"Kamu sudah mengecewakan aku Sofi. Kini giliran aku yang tidak akan pernah bisa membuatmu bahagia dengan siapapun. Lihat saja." ucap Ronal tegas dengan nada mengancam, kedua tangan Ronal pun mencengkeram kedua lengan Sofi dengan keras.
"Lepas Ronal!! lepaskan aku. Jangan bersikap semena mena terhadapku, aku bisa teriak keras di sini. Aku ini istri orang, bukan wanita Single yang kamu kenal seperti dulu. Lepaskan..!!!!" ucap Sofi setengah berteriak.
"Aku mencintaimu Sofi. Aku menyerah, awalnya aku berniat buruk padamu, ternyata aku jatuh cinta sungguhan dengan kamu." ucap Ronal tegas.
"Drama apalagi yang sedang kamu mainkan, hingga aku harus percaya dengan kamu. Perbuatan kamu itu menjijikan Ronal. Hubunganmu dengan Candra itu tidak benar. Bertobat Ronal, kita tidak tahu kapan kita akan mati. Maka semuanya akan sia sia." ucap Sofi menasehati.
"Tidak perlu ceramah Sofi. Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia dengan siapa pun, kecuali aku yang memiliki kamu." ucap Ronal dengan senyum licik.
"Aku punya Allah SWT. Aku tidak takut denganmu Ronal." jawab Sofi dengan mantap.
"Okelah kalau kamu menantang ku!! lihat kedatanganku akan selalu mengancam kebahagiaanmu." ucap Ronal tegas dan meninggalkan Sofi sendiri.
Sofi membalikkan badannya untuk mengamati keindahan danau buatan itu, air yang hijau menambah kealamian suasananya. Sesekali matanya menatap pengunjung yang sedang mencoba arena permainan bebek bebek kan. Senyuman tipis dan manis pun menghiasi sudut bibirnya.
"Itu WO kamu Sofi?" tanya Kang Tatang pelan, kedatangannya cukup mengagetkan Sofi yang sedang termenung dan terdiam.
"Iya Kang Tatang betul sekali." ucap Sofi seperlunya.
"Sepertinya teman SMA Rendy ya. Kayak kenal, dan sering ke rumah." ucap Kang Tatang pelan mengingat teman temanya Rendy yang sering ke rumah.
"Iya Kang betul, kata Mas Rendy, Candra temannya saat SMA dia sering di bully karena gayanya seperti itu, tapi sekarang dia menjadi orang yang sukses dan dikenal banyak orang." ucap Sofi menjelaskan.
"Kamu sepetinya sudah mengenal baik, terlebih dengan pria yang dibelakangnya." Ucap Kang Tatang pelan.
Sofi pun terkejut, sepertinya pembicaraan tadi hanya berdua saja dengan Ronal. Tidak ada orang lain lagi. Kang Tatang kok bisa tahu ya, wah bisa gawat nih, gumam Sofi di dalam hatinya.
Sofi pun by menghembuskan napasnya dengan keras.
"Dia Ronal, mantan tunangan saya Kang. Lebih baik Kang Tatang jangan bicarakan hal ini pada Mas Rendy. Mas Rendy bakal cemburu berat. Sofi mohon ya Kang." ucap Sofi dengan nada memohon.
"Kamu sedang mengajakku bernegosiasi Sofi?" tanya Kang Tatang pelan.
Sofi seperti tampak berpikir, mengajak negosiasi, maksudnya apa. Cukup diam dan tidak membuka apa yang tadi terjadi agar tidak memancing keributan dan emosi Mas Rendy. Kenapa jadi harus bernegosiasi, gumam Sofi semakin bingung.
"Maksud Kang Tatang apa? Sofi gak ngerti. Mas Rendy tahu kok tentang Sofi, ini bukan rahasia. Hanya saja Mas Rendy pasti akan mencari Ronal karena sudah mengganggu saya. Kang Tatang jangan menjadi pemicu kemarahan Mas Rendy ya." ucap Sofi kecewa.
Sofi pun pergi meninggalkan Kang Tatang, yang berdiri tegak dengan senyum membawa luka, tapi penuh kelicikan.
Sofi yang sudah kecewa dan kesal pun, jadi malas untuk belajar dan mempelajari Saung. Lebih baik ku urus sendiri sebisa ku, gumamnya dalam hati.
Sofi pun menelepon Rendy untuk menjemputnya di Saung. Sepertinya sudah jam pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.
📱SAYANGKU💚
"Assalamualaikum, Mas Rendy, Sofi di Saung bisa jemput sekarang." ucap Sofi dengan lembut.
"Waalaikumsalam... Oh Maaf. Pak Rendy sedang sibuk, ponselnya tertinggal di ruangannya." ucap Seorang wanita diseberang sana dengan sopan dan nada sedikit manja.
"Kamu siapa? Berani mengangkat ponsel suamiku?" ucap Sofi dengan tegas. Baru kali ini Sofi tersulut emosi dengan seorang wanita yang menjadi rekan kerja Rendy. Biasanya Sofi akan tampak biasa saja dan lebih paham dengan dunia bekerja, yang akan selalu bersinggungan dengan lawan jenis.
Hatinya tampak panas dan dikuasai amarah. Kekecewaannya begitu mendalam, hingga ponsel yang dianggap pribadi pun bisa tertinggal karena suatu pekerjaan yang tidak jelas.
"Saya Sekretaris Pak Rendy. Mungkin satu jam lagi baru akan kembali. Terima kasih." ucap Wanita itu pelan dan mematikan sepihak sambungan teleponnya.
"Shiiitt.... Hem... aku harus ke kantor Mas Rendy, untuk mencari tahu tentang sekretaris baru itu." gumam Sofi dalam hatinya.
"Aku antar pulang? jangan menolakku." ucap Kang Tatang sedikit memaksa.
"Maaf, saya sudah pesan taksi online. Tuh taksinya datang. Saya pulang dulu." ucap Sofi pelan dan bergegas meninggalkan Kang Tatang uang menatap kepergiannya Sofi dengan taksi online.
Di Ruangan Kerja Rendy
Rendy pun masuk ke ruangannya dengan buru buru. Mencari ponselnya yang tertinggal dimeja.
"Assalamualaikum.. Pak Rendy ini ponsel Bapak tertinggal, tadi saya melihatnya dan saya simpan." ucap Bella dengan sopan dan memberikan ponsel tersebut kepada Rendy.
"Waalaikumsalam.. alhamdulillah.. makasih Bella. Aku tadi buru buru akan pulang, malah ponselku tertinggal, dan harus balik lagi." ucap Rendy pelan.
"Iya Pak sama sama. Aduuuuhhh......" ucap Bella sambil memegang perutnya yang terasa sakit, satu tangannya reflek memegang tangan Rendy. Wajahnya meringis menahan rasa sakit.
"Kamu kenapa Bella?" tanya Rendy pelan, dan memapahnya untuk duduk di sofa.
"Maaf Pak... Asam Lambung saya naik, saya gak kuat Pak, Panggilkan taksi Pak, tolong saya ingin pulang." Ucap Bella pelan.
Rendy tampak berpikir........
JAZAKALLAH KHAIRAN