Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 59 KEBIASAAN BARU



Pagi hari Sofi sudah terbangun dari tidurnya, kemudian mandi dan berwudhu untuk melaksanakan sholat shubuh yang sudah terlambat. Sesuai janjinya pada dirinya sendiri, mulai hari ini Sofi ingin belajar menjadi istri yang baik, yang bisa melayani suaminya dengan baik dan sempurna.


Selesai sholat shubuh, Sofi menghampiri Rendy yang masih nyenyak dalam mimpinya. Sofi mengecupi wajah suaminya agar terbangun.


"Hemmmmmm Fi... jam berapa?" tanya Rendy dengan pelan sambil memeluk Sofi yang duduk disampingnya.


"Sudah jam lima lebih sayang, mandi terus sholat shubuh, aku mau buat sarapan dulu. Nanti ke ruang makan ya." ucap Sofi pelan.


"Cium dulu dong sayang." ucap Rendy sambil memonyongkan bibirnya.


"Mandi dulu, ayok cepetan." ucap Sofi dengan suara khas ibu ibu yang membangunkan anaknya.


Sofi pun meninggalkan Rendy yang masih merenggangkan otot-otot setelah bangun tidur. Kepalanya masih terasa pening, karena kurang tidur.


Sofi tengah asyik membuat kopi dan roti bakar. Semua sudah disiapkan di meja makan. Sofi pun keluar rumah dan membuka pintu rumahnya, udara segar pagi hari dengan langit yang masih memerah belum menampakkan sinarnya secara sempurna.


Rutinitas pagi hari seorang istri yang menjabat sebagai ibu rumah tangga, berbanding terbalik dengan kebiasaannya dulu, bangun pagi bikin kopi langsung cus berangkat kerja. Sekarang statusnya berubah, bangun pagi, bikin sarapan terus bersih bersih rumah, belanja sayur, masak, mencuci baju, menyeterika, masih ada lagi yang lain. Kebiasaan baru ini akan menjadi rutinitas rutin setiap hari.


Sofi mulai mengambil sapu lidi dan mulai mencakar cakar tanah hingga bersih dari dedaunan kering yang berguguran, menjadikan satu dan menyeruak sampah itu ke dalam pengki dan di buang di tempat pembuangan sampah yang telah disediakan di depan rumah.


Satu pekerjaan selesai, lalu mengambil selang dan menyirami beberapa tanaman dan bunga yang ada di taman kecilnya itu hingga bau segar antara air yang menyentuh dedaunan menjadi ciri khas tersendiri.


Baru mematikan keran yang mengalirkan air ke selang, tukang sayur sudah berteriak kencang ke seluruh penjuru perumahan. Sofi pun berbaur dengan para ibu ibu lain, memilih milih sayur yang akan dibeli. Gosip dan ghibah pun tidak pernah lepas dari perkumpulan perempuan.


Pandangan orang orang terhadap Sofi, warga baru, sudah menikah, wanita muda, memakai kerudung dan jarang bersosialisasi pun menjadi sorotan ibu ibu disekitarnya yang memandangnya dengan ketus dan sinis.


Astaghfirullah... batin Sofi dalam hati. Sofi langsung membayar sayuran yang dipilihnya dan segera berpamitan dengan ibu ibu yang masih asyik berbelanja dan berghibah. Sofi kembali ke rumah dengan perasaan dongkol tingkat dewa.


"Kamu dari mana Fi?" tanya Rendy pelan.


"Belanja sayur tuh di ujung jalan, katanya mangkalnya disitu." ucap Sofi masih dengan nada sedikit jengkel.


"Terus kenapa mukanya di tekuk begitu?" tanya Rendy sambil menyeruput kopi hitamnya.


"Kesel sama ibu ibu itu Mas, kayaknya ngomongin Sofi dech. Habis ngelirikn ke Sofi terus, kan risih Mas." ucap Sofi dengan nada khas manjanya.


"Nanti sore kita sedekahkan, panggil ustad untuk pengajian disini dan berbagi sedekah dengan tetangga, sekalian memperkenalkan diri sama warga. Gimana?" ucap Rendy pelan.


"Boleh Mas. Sofi setuju, biar orang tahu, Sofi punya suami bukan simpanan bos atau istri kedua." ucapnya dengan sembarang.


"Yang bilang simpanan bos itu siapa, kita tunjukkan buku nikah kita, walaupun dua hari lagi resepsi pernikahan kita baru diadakan." ucap Rendy pelan sambil menenangkan Sofi.


Sofi mulai mengiris bawang, cabe dan sayuran yang akan di masaknya nanti sambil bercerita dengan suaminya.


"Assalamualaikum..." ucap tamu yang datang sambil mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam .... cari siapa?" tanya Rendy kepada wanita muda di depannya.


"Maaf saya dari Toko Busana Ceria, kesini untuk mengambil baju dari Toko Sofia, betul disini?" ucapnya pelan.


Rendy hanya menatap ke arah Sofi, dan ikut membantu menaikkan barang barang tersebut ke dalam mobil.


"Terima kasih, sudah membantu saya, untuk pengembalian uangnya ini, bukti pengembalian uang titipan dari Bu haji Mila." ucap wanita muda itu pelan.


"Ya sama sama, salam untuk Bu haji Mila." ucap Sofi dengan lembut. Mengantarkan kepergian wanita muda itu dan mobilnya pergi hingga tidak terlihat.


Mereka pun masuk dan menutup pintu rumah. Membereskan rumah tamu dan memindahkan sofa ke ruang tamu.


"Tidak ada yang ingin di jelaskan Fi?" tanya Rendy pelan.


"Untuk masalah apa?" tanya Sofi pelan sambil melanjutkan aktivitas masaknya.


"Soal toko bajumu? bukankah kamu yang antusias memiliki toko baju?" tanya Rendy kemudian.


"Sudahlah Mas, gak perlu dibahas. Itu juga kan pakai uangku sendiri." ucap Sofi seperti menantang.


"Kamu itu kenapa sih Fi, rubah sifat egois kamu. Kamu anggap apa aku disini?" tanya Rendy dengan perasaan kesal.


Sofi hanya terdiam seribu bahasa. Sifat egois dan keras kepalanya memang terlalu berlebihan.


"Sudahlah Mas, jangan pancing emosiku. Ini masih pagi, dan aku gak mau ribut dan berdebat sama kamu." ucap Sofi ketus.


"Kita ini suami istri, keluarga kecil. Walaupun itu uang pribadi kamu, hargai aku sebagai suami kamu. Aku bukan pajangan Fi?" ucap Rendy dengan kesal.


Rendy memilih tetap duduk dan diam, Rendy tidak mau mengulang kesalahan yang sama dengan meninggalkan Sofi seperti tadi malam.


Sofi pun memilih diam dan memasak. Menurutnya apa yang dia lakukan itu benar. Jadi untuk apa perduli dengan hal hal lain.


Masakan pun sudah disiapkan di meja makan. Nasi putih, sayur lodeh dan tempe goreng tepung menjadi pilihan menu makanan yang di masak Sofi.


Mereka berdua menyantap.makan siap dalam diam. Biasanya bercanda, ini harus diam dan cuek. Selesai makan, Rendy pun kembali ke kamar, dan menelepon rekannya.


Sesuai dengan pembicaraan di telepon tadi, besok pagi jam delapan Rendy harus datang untuk menemui Rangga sahabatnya di Perusahaan milik sahabatnya itu.


Rendy tidak mau harga dirinya sebagai suami di injak-injak oleh wanita walaupun itu istrinya sendiri.


Apalagi sudah membicarakan uang itu hal yang sangat sensitif. Ini pakai uangku jadi suka suka aku. Astaghfirullah...


Sofi semakin kesal, emosinya hampir saja meledak ledak, rasa kesal dan amarahnya sudah menjadi satu.


Sofi memilih mencari cari pekerjaan rumah yang belum dikerjakannya. Sofi mulai merendam baju, kemudian mencuci piring dan menyapu lantai rumah, setelah itu mengepel semua lantai. Setelah beres baru mencuci baju dengan tangannya. Membilas dua kali, dan di beri pewangi diamkan sebentar terus dijemur. Alhamdulillah.... beres juga.


Hari pertama rumah tangganya benar benar penuh ujian dan cobaan. Pekerjaan rumah tangganya sudah dikerjakan dengan baik walaupun belum sempurna. Minimal Sofi belajar dan mencoba melakukannya sesuai dengan kodrat wanita.


Tapi.. satu kesalahannya... tidak terbuka dengan suami, dan mendiamkan suami, ini contoh yang tidak baik, karena bisa mengurangi nilai pahala kita.


JAZAKALLAH KHAIRAN