
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Hari ini adalah hari pertamaku bekerja dengan menggunakan hijab. Hari ini adalah hari untuk membuktikan bahwa aku Sofia Indah Permana telah menjadi mualaf. Mungkin aneh, bagi yang baru mendengar berita ini, tapi lama lama pasti orang disekitarmu pun akan terbiasa. Langkahku begitu pelan menyusuri lorong kantor menuju ruanganku, entah berapa pasang mata yang melihatku, ada yang senang dan memuji karena perubahanku, tapi ada juga yang nyinyir dengan pandangan tidak suka, lebih parahnya ada yang bilang itu hanya settingan. Ini agama, bukan mainan jadi gak mungkin aku melakukan untuk sebuah popularitas dengan cara settingan. Sepertinya kalau benar itu terjadi mungkin Allah SWT akan murka padaku.
"Sofi... Masya Allah, pangling lho aku." ucap Ika dengan gemas mencubit pipi Sofi.
"Ika... sakit tau." ucap Sofi dengan nada manja.
"Sofi, kamu serius kan masuk muslim bukan karena Rendy?" ucap Ika sedikit menyelidik.
"Aku serius, bahkan aku sudah bicara dengan bapakku, selagi aku nyaman gak papa. Dan ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Rendy, mungkin awalnya aku sendiri kepikiran gitu, tapi sama sekali gak kok Ika. Ini pyurr keinginanku sendiri." ucap Sofi mantap.
"Manager Pemasaran pengganti Rendy sudah datang tuh." ucap Ika sambil mengarahkan dagunya ke ruangan sebelah.
"Terus.... aku harus bilang wow gitu?" ucap Sofi terkekeh.
"Ya kali pengen ketemu secara kan loe berdua udah tunangan gitu." ucap Ika menatap ke arah mata Sofi.
"Terus...... loe cemburu gitu? sok ambil... gue ikhlas Ika.... hahaha..." ucap Sofi terbahak bahak.
ceklek...
"Pagi Pak Jae, ada apa pak, sampai datang ke ruangan saya?." ucap Sofi sedikit tergagap.
"Pagi Pak, anu ...ini lagi minta tanda tangan Bu Sofi kan kemarin habis cuti." ucap Ika gugup dan cemas secara pagi pagi udah ghibah aja, karena tingkat kekepoannya yang level akut.
"Tidak ada apa apa, saya hanya memastikan rumor yang beredar pagi ini benar atau tidak. Dan ini nyata, Sofi kamu terlihat cantik bila menutup aurat seperti itu." ucap Pak Jae memuji.
"Terima kasih Pak, ada lagi Pak?" ucap Sofi memberanikan diri bertanya kepada Pak Jae.
"Tidak ada Sofi, selamat bekerja kembali. Oh iya, Rendy resmi dipindahkan ke Bali menjadi pimpinan disana. Dan itu Ronal pengganti Rendy, tapi belum ada pengangkatan resmi. Saya permisi dulu." ucap Pak Jae sopan.
"Iya Pak, silahkan." ucap Sofi dan Ika bersamaan.
"Sofi menurut loe ada yang aneh gak sama Pak Jae?" ucap Ika menangkap hawa hawa kurang baik.
"Pak Jae kan memang begitu, ramah dan baik, terus perhatian juga." ucap Sofi tampak berpikir dan mengingat ingat.
"Entahlah gue ngerasa beda aja." ucap Ika polos.
"Kita gak usah suudzon Ika, biarin aja asal orang itu tidak menganggu kita. Udah sana kerja, ghibah mulu." ucap Sofi sambil mengusir Ika dari ruangannya.
Hari ini Sofi tampak lebih nyaman dengan pakaian yang ia digunakan. Masih sedikit gerah tapi masih bisa diatasi. Semoga Sofi bisa Istiqomah Ya Allah.
"Sofi!!! kamu apa apaan seperti itu?" ucap Ronal marah membuat Sofi mendongakkan kepalanya.
"Kamu kenapa Ronal? datang ke ruangan orang, bukannya permisi atau ketuk pintu dulu, ini malah marah marah gak jelas." ucap Sofi kecewa dengan kelakuan Ronal.
"Kamu itu kenapa sih fi? kamu itu tunangan aku, aku berhak mengatur kamu!!! Lepas itu jilbab!!! Apa apaan kamu pakai jilbab segala, mau cari sensasi dikantor??? Iya??" ucap Ronal terlihat kesal.
"Ronal, kamu gak pantes ngomong begitu sama aku. Aku memang muslim sekarang. Kenapa? kecewa?" ucap Sofi menantang Ronal.
Ronal pun melangkah maju mendekati Sofi. Wajahnya didekatkan ke wajah Sofi, matanya melotot seperti akan menerkam.
"Aku gak takut sama kamu, aku hanya takut sama Allah SWT. Dan aku mau kita PUTUS!!!! Ini cincin dari kamu, aku kembalikan." ucap Sofi lantang dan bangkit berdiri meninggalkan Ronal sendiri.
Sofi berlari menuju mushola kecil di kantornya. Ia mengambil wudhu dan mulai melakukan sholat Sunnah Dhuha. Setelah selesai sholat, Sofi cukup lama berdiam diri di mushola kecil itu.
Disini benar benar nyaman dan membuat hatiku tenang. Pantes dulu Rendy paling senang di Mushola ternyata memang membuat hati sejuk.
"Sofi... Sofi...gue cari loe kemana? inibrendy telepon. Ini hp loe, gue balik dulu ya?" ucap Ika terbata bata sambil mengatur nafasnya yang sedikit ngos ngosan.
"Makasih ya Ika." ucap Sofi pelan dengan menerima hp miliknya.
📱
"Hai sayang, kamu dimana? di mushola? Masya Allah istriku memang TOP BGT." ucap Rendy dengan senyum tipis.
"Kenapa si sayang, udah absen aja, emang gak lagi sibuk? aku sengaja gak ngubungin kamu takut sibuk." ucap Sofi pelan.
"Paling bisa ya ngeles, ngomong aja lupa sama suami sendiri. Aku punya rencana? gimana kalo orang tuamu main ke rumah umi dan Abah? setuju gak?" ucap Rendy semangat.
"Ekhmmm gimana ya? harus janjian dulu dong. Nanti aku tanya bapak dulu ya." ucap Sofi datar.
"Sofi... kamu resign dari situ mau gak? cari kerja disini? aku gak mau kita jauh kayak gini." ucap Rendy dengan suara yang sendu.
"Kok jadi melow gitu sih, kita usahain untuk bapak dulu, setelah itu baru mikir resign oke sayang." ucap Sofi pelan.
"Ya sudah, jangan lupa makan ya sayang, aku lanjut kerja dulu. I Love u." ucap Rendy lirih.
"Iya sayang kamu juga ya. I love u too." ucap Sofi pelan.
Kalau hati sudah terikat jdi seperti ini, gak bisa jauh. Ini yang aku takutkan Rendy. Tapi aku akan menjaga kesetiaan untukmu.
"Disini kamu rupanya. Lepas itu jilbab, lepas gak?" ucap Ronal kasar sambil menarik kerudung Sofi.
"Apa apaan sih kamu? aku teriak ya?" ucap Sofi mengancam.
"Lihat loe Sofi, gue bikin perhitungan sama loe. Gue cuma pengen loe lepas jilbab loe, loe denger gue gak? kita udah tunangan Sofi." Suara Ronal pun makin meninggi.
"Aku mau kerja dulu." ucap Sofi langsung pergi menuju ruangannya.
Tangan Sofi langsung ditarik oleh Ronal hingga tubuh Sofi menubruk dada Ronal, ini kejadian kedua setelah pertunangan malam itu. Ronal langsung mengunci pinggang Sofi dengan pelukannya yang erat, hingga Sofi pun sulit bergerak apalagi berusaha untuk melepaskan diri.
"Aku seperti ini karena aku sayang kamu Sofi, berapa kali harus aku utarakan kepada kamu, aku cinta sama kamu. Kamu itu berpikir tentang aku terlalu jauh, kalau aku hanya ingin bermain main dengan kamu, buat apa aku minta tunangan dengan kamu. Kamu harusnya mikir dong Sofi. Satu lagi, sekarang aku masih bisa menjaga kehormatan kamu, tapi bila ada yang mengganggu kamu lagi, demi kebahagiaan kita, jangan salahkan aku bila aku nekad mengambil paksa kehormatanmu." ucap Ronal tegas, seperti psikopat.
Sofi pun meringis mendengar ucapan Ronal yang mengancamnya.
-----++++++++-------+++----------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚