Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 62 LAMARAN PEKERJAAN



Hari ini pagi pagi sekali Rendy sudah bangun, sesuai dengan janjinya pada Rangga akan datang ke kantornya pagi ini. Sebelum itu akan mampir terlebih dahulu ke rumah Adit untuk memberikan surat lamaran.


"Mas, kamu sudah rapi. Bukannya acara pembukaan nanti jam sembilan?" tanya Sofi pelan kepada Rendy.


Tangannya masih sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Mengolesi roti dengan selai coklat dan membuat kopi hitam kesukaannya.


"Aku mau ke kantor Rangga, aku mau kerja lagi Fi. Aku harap kamu mengerti. Kamu urus saung dengan baik. Lusa acara resepsi kita. Jangan kecapekan." ucap Rendy dengan nada yang sangat datar.


Tidak ada senyuman yang biasa menghias di bibirnya Setiap pagi.


"Kamu masih marah Mas sama aku?" tanya Sofi dengan suara pelan.


Tangannya menggenggam tangan suaminya dengan lembut. Rendy pun langsung menatap Sofi penuh rindu.


"Fi... kita sudah berumah tangga, aku hanya ingin kita terbuka satu sama lain, saling mendukung dan pengertian. Aku harap kamu paham maksudku." ucap Rendy pelan.


Tatapannya kini berpindah pada roti yang sudah disiapkan. Rendy pun menggeser tangannya agar terlepas dari genggaman Sofi.


"Kamu sedang menghukumku Mas?" tanya Sofi pelan.


Rendy hanya mendongakkan kepalanya badan menatap Sofi sekilas. Hanya helaan nafas panjang yang terdengar disana.


Sofi masih menatap Rendy dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Pernah aku berbuat begitu semenjak kita mengenal?" ucap Rendy pelan , sambil menyeruput kopi hitamnya.


Sofi hanya menggelengkan kepalanya.


"Kamu selalu sabar menghadapiku Mas." ucap Sofi pelan.


"Kamu sudah tahu jawabannya kan. Tapi satu hal aku ingin aku lebih perduli dengan pernikahan kita, rumah tangga kita. Bukan untuk urusan pribadimu sendiri." ucapan Rendy begitu tegas dan cukup menohok hati Sofi.


Sofi hanya terdiam mendengar ucapan Rendy. Suara decitan kursi pun membuat Sofi menegakkan duduknya dan bangkit berdiri menyusul Rendy yang sudah lebih dulu menuju depan rumah.


"Mas, nanti aku gimana?" tanya Sofi pelan.


Rendy hanya menoleh sebentar, tangannya sibuk membuka garasi dan memantaskan mesin mobil.


"Kamu naik motor saja. Aku tidak bisa menjemputmu. Maaf Fi." ucap Rendy pelan dan segera masuk ke dalam mobil.


Sofi menghampiri mobil itu dan menarik paksa tangan kanan Rendy untuk di cium punggung tangannya.


"Assalamualaikum... hati hati Mas nyetirnya." ucap Sofi pasrah.


"Waalaikumsalam.. aku berangkat ya." ucap Rendy pelan.


Mobil pun langsung meninggalkan garasi dan melaju pelan ke arah jalan besar.


Sofi masuk ke dalam rumah dengan segera membereskan meja makan bekas sarapan tadi bersama Rendy. Hari ini adalah hari bahagia untuk Sofi, pasalnya Saung yang dia impikan akan dibuka hari ini. Sofi pun bergegas mempersiapkan diri untuk acara tersebut. Bahkan dia melupakan hubungannya dengan Rendy yang sedikit merenggang karena ulahnya sendiri.


Ditempat lain, Rendy yang sedang menyetir mobil menjadi kurang fokus. Hatinya ingin berdamai dan memaafkan secara ikhlas namun egonya masih saja merajalela di otaknya. Membuat tindakan dan pikiran serta hati tidak bisa diajak bekerja sama.


Rendy melajukan mobilnya ke arah rumah Adit dan menitipkan sebuah lamaran di Perusahaan Asuransi tempat Adit bekerja.


Rendy pun langsung memasuki area perumahan milik Adit, dan memarkirkan mobilnya tepat di depan rumahnya.


Rendy pun turun dan mengetuk rumah itu dengan membawa amplop coklat berisikan lamaran pekerjaan.


"Assalamualaikum...." ucap Rendy sambil mengetuk pintu rumah minimalis itu.


"Waalaikumsalam...." ucap seorang wanita berjilbab yang membukakan pintu rumah tersebut.


"Betul rumah Pak Adit? Pak Adit ada?" tanya Rendy kepada wanita itu tak lain Wulan istri Adit.


"Ya betul. Silahkan masuk, Pak Adit sedang sarapan pagi. Saya panggilkan dahulu. Silahkan duduk." ucap wulan dengan lembut, dan mempersilahkan Rendy untuk duduk di sofa ruang tamu.


Tidak lama Wulan ke dalam Adit pun menampakkan wajahnya dari balik tembok yang menjadi sekat rumahnya itu.


"Lha loe yang bilang anter lamaran ke rumah Loe. Gue langsung cabut, mau ketemu Rangga. Jam sembilan acara Pembukaan Saung gue, kalau bisa loe datang, atau pas jam makan siang." ucap Rendy pelan.


"Loe gak ikut sarapan dulu nih. Gue lagi sarapan, tapi loe kalau buru buru ya sudah gak papa." ucap Adit pelan.


"Gue langsung ya, yang penting gue udah nitip lamaran kerja." ucap Rendy pelan sambil bangkit berdiri dan berpamitan.


Rendy pun meninggalkan rumah Adit dan bergegas menuju kantor milik Rangga.


Kantor yang cukup besar, milik pribadi. Masih mudah sudah sukses tapi tidak sesukses kisah cinta Rangga. Harus menjadi duda disaat umurnya masih muda, dan menerima kenyataan pahit Sang Istri berselingkuh dengan partner kerjanya.


Rendy pun masuk ke dalam kantor Rangga, menyusuri lorong kantor dan mencari rumahan Rangga. Menurut bagian informasi, Rangga sudah sejak pagi datang di ruangannya.


Tepat di depan sebuah ruangan bertuliskan Direktur. Rendy pun dengan mantap mengetuk pintu itu.


"Assalamualaikum...." ucap Rendy mengetuk pintu ruangan itu.


"Waalaikumsalam... masuk saja." ucap Rangga dari dalam ruangan.


Rangga sedang sibuk meneliti berkas dan dan mengamati dengan fokus hingga kedatangan Rendy pun tidak digubrisnya.


Rendy mendekat ke arah meja Rangga. Masih dengan posisi berdiri dan membawa amplop coklat untuk melamar kerja.


"Permisi Pak Rangga boleh saya duduk,saya ingin melamar kerja disini." ucap Rendy dengan lantang dan sedikit terkekeh.


Rangga pun mendongakkan kepalanya dan melihat Rendy yang sedang terkekeh pelan di hadapannya.


"Elo Rendy? udah datang pagi pagi. Mana lamaran loe, mau langsung gue proses." ucap Rangga pelan.


"Papah.... " ucap seorang anak laki-laki kecil kepada Rangga.


Anak itu langsung naik ke pangkuan papahnya.


"Hai sayang, sama siapa kesini?" tanya Rangga kepada Faiz anaknya.


"Sama Tante cantik pah, nenek tidak bisa angel Pais." ucap Faiz dengan gaya khas anak kecil yang cadel.


"Tante cantiknya mana?" tanya Rangga kemudian.


"Ada di depan." ucap Pais kemudian.


"Ya sudah kenalin, ini temen papah, namanya Om Rendy." ucap Papah Rangga kepada Faiz dan menyuruh anak itu untuk mengulurkan tangannya untuk Salim.


"Pais om." ucap Faiz pelan.


"Hai Faiz, panggil Om Rendy ya." ucap Rendy pelan.


"Gimana rasanya jadi bapak? loe kayaknya menikmati banget Rangga." tanya Rendy menyelidik.


"Sangat menikmati Rendy, gue bahagia walaupun rumah tangga gue gak bahagia. Anak itu bisa membuat gue mengontrol emosi gue." ucap Rangga pelan.


"Lalu Tante cantik siapa Ngga?" tanya Rendy kemudian.


"Biasa nyokap gue, pengen gue nikah lagi, selalu menjodohkan gue sama anak temannya, jujur gue masih enjoy sendiri dan mengurus Faiz. Atau mungkin gue belum nemu yang pas juga." ucap Rangga pelan.


"Loe gak coba membuka hati Ngga?" ucap Rendy pelan.


"Gue udah berusaha jalan sama cewe, tapi belum ada yang nyaman Rendy. Sudahlah loe kerja mulai hari ini bisa?" tanya Rangga kemudian untuk mengalihkan pembicaraan tentang jodoh.


"Bisa, tapi jam sembilan gue ijin mau pembukaan Saung. Loe bisa kan datang? Loe juga belum kenalan sama bini gue Ngga." ucap Rendy pelan.


"Oke nanti kita kesana, setelah itu loe fokus kerja disini. Bikin inovasi baru untuk percetakan gue. Loe kan jagonya Rendy." ucap Rangga pelan.


"Oke Rangga, makasih udah Nerima gue, gue akan usaha buat yang terbaik di Perusahaan loe." ucap Rendy dengan mantap.


JAZAKALLAH KHAIRAN