Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 64 RANGGA MENCARI CINTA???



Mereka saling menatap ada perasaan rindu dan cinta di keduanya.


"Kamu suka Fi?" tanya Rendy pelan.


Sofi tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Suka sekali, terlebih sama kamu cinta dan suka!! Mas Rendy, jangan diemin Sofi lagi." ucap Sofi dengan nada manja dan merajuk.


"Itu tandanya aku sayang sama kamu Fi. Kadang dengan kita kesal karena kecewa, ingin menunjukan pada pasangannya, bahwa kamu berarti buat aku." ucap Rendy pelan sambil mencubit dagu Sofi dengan gemas.


"Coba cium aku kalau benar sayang." ucap Sofi pelan, ucapannya menantang Rendy.


"Kamu menantangku hemmm ?" tanya Rendy pelan, hingga tubuhnya makin merapat ke arah Sofi, tangannya pun sudah melingkar di pinggang Sofi.


Wajahnya semakin dekat, dekat dan dekat. Secara refleks mata Sofi pun terpejam.


Cup.... Pipi Sofi pun menjadi sasaran empuk bibi Rendy.


Sontak, Sofi membuka matanya dan tersenyum tipis. Rendy pun menjauhkan wajahnya dari wajah Sofi dan melonggarkan pelukan di pinggang Sofi.


"Kenapa? senyumnya tidak seperti biasa?" tanya Rendy lembut.


"Gak papa, aku hanya bahagia saja." ucap Sofi pelan.


"Kamu yakin bahagia sama aku? ciuman tadi baru awal, aku ingin yang lebih, dan itu harus kau lakukan di kamar bersamaku. Aku merindukan tubuhmu yang indah" ucap Rendy pelan di dekat telinga Sofi.


Blush....... merah di pipi seketika langsung merona mendengar gombalan Rendy yang begitu mendesah. Bulu kuduk Sofi seakan langsung meremang.


"I love u ....." ucap Sofi pelan menahan rasa gugup dan cemas hingga meninggalkan Rendy termangu di pinggir danau itu.


Rendy tersenyum lebar mendengar ucapan tulus dari bibir Sang Istri dan berjalan mengikuti langkah Sang istri untuk menggapai tangannya dan menggandengnya.


Mereka berdua berjalan menuju pintu masuk Saung, semua orang sudah berkumpul bersama untuk menyaksikan pengguntingan pita tanda pembukaan Saung Kang Rendy.


Acara pun dilaksanakan dengan khidmat dimulai dengan berdoa dan membac basmalah, lalu sambutan dari Pemilik Saung dan pengguntingan pita kemudian dilanjutkan pemotongan tumpeng, diakhiri dengan makan bersama sebagai jamuan syukuran telah dibukanya Saung Kang Rendy.


Semua orang bersorak sorai riuh dan ucapan selamat pun terus mengalir hingga pengiriman karangan bunga ucapan selamat atas dibukanya Saung Kang Rendy.


"Kamu senang Fi? cita citamu sudah terwujud." ucap Rendy di sela sela acara syukuran itu.


Sofi pun menoleh ke arah suaminya, dan tersenyum lebar tanda kebahagiaanya pun mengembang.


"Aku senang dan aku sangat puas sekali. Besok acara kita disini Mas?" ucap Sofi pelan.


"Ide bagus, sekalian memperkenalkan Saung Kang Rendy. Oke nanti Mas hubungi Candra, untuk perubahan lokasi." ucap Rendy dengan mantap.


"Ayo Mas kita masuk, semua sudah menikmati jamuan syukuran hari ini. Kamu mau aku ambilkan? kami duduk disana dengan Umi dan Abah ya." ucap Sofi dengan nada sopan.


"Oke sayang, tahu kan selera Mas, Fi? Mas duduk dekat Umi dan Abah ya." ucap Rendy pelan.


"Iya Mas, Sofi tahu. Sofi kan istri Mas, pasti Sofi tahu. Iya nanti Sofi nyamper ke Umi dan Abah." ucap Sofi pelan.


Sofi dan Rendy berpisah menuju arahnya masing-masing. Rendy langsung memilih duduk di dekat Umi. Sedangkan Sofi sibuk memilih makanan untuk Suaminya.


"Hai Sofi... mau yang mana sini aku ambilkan, kamu bawa dua piring pasti kesulitan. Biar aku bantu ya." ucap Rangga dengan lembut. Senyumnya langsung merekah tatkala Sofi menatap wajah Rangga dengan sangat dekat.


"Tidak apa Sofi, kamu mau yang mana?" ucap Rangga sedikit memaksa.


"Sudah Mas jangan, maaf ya." ucap Sofi langsung pergi meninggalkan meja prasmanan.


Sofi pun langsung menghampiri Rendy dan meletakkan kedua piring itu diatas meja. Raut wajahnya sedikit cemberut. Rendy pun menggenggam tangan Sofi.


"Kamu kenapa Fi? kok bete gitu mukanya. Tadi senang sekarang cemberut. Senyum dong, dilihat orang banyak nanti dikira gak bahagia." ucap Rendy pelan.


"Gak papa kok Mas, cuma tadi antri jadi agak kesel aja." ucap Sofi pelan.


"Ya sudah, yuk kita makan. Umi, Abah, Rendy dan Sofi makan duluan ya." ucap Rendy pelan.


"Iya sayang, duluan. Umi dan Abah masih menunggu tamu dahulu." ucap Umi pelan.


Rendy dan Sofi pun menikmati jamuan syukuran itu. Sekilas Rendy menatap ke arah seseorang yang sedang memperhatikan istrinya makan. Samar tapi terlihat jelas, ya Rangga. Kenapa Rangga melihat Sofi seperti itu. Tatapan penuh kekaguman dan kasih sayang.


Rendy mencoba menepis pikiran buruknya, toh istrinya sendiri tidak menyadari itu semua. Tapi semakin tidak dipikirkan, bayangan tatapan penuh cinta itu selalu hadir.


"Fi? menurutmu Rangga bagaimana?" tanya Rendy menyelidik.


"Bagaimana apanya? Mas Rangga kan teman kamu Mas. Sofi aja batu kenal tadi." jawab Sofi dengan cuek.


"Pendapat kamu? ganteng gak? keren gak? ato apalah." tanya Rendy pelan.


"Sofi gak mikirin orang lain. Mikirin Suaminya yang moodnya masih naik turun aja susah untuk dijinakkan." ucap Sofi meledek.


"Kamu ini, bisa bisanya meledek Suami kamu yang ganteng." ucap Rendy kesal.


"Mas, kamu itu segalanya, ganteng, baik, ramah, penuh kasih sayang. Lalu aku harus gimana, sedangkan kamu sudah sesempurna itu." ucap Sofi pelan, dengan menatap sendu wajah suaminya.


"Ya kali, Nemu yang ganteng, disikat." ucap Rendy dengan asal.


"Pikiran buruk, buang jauh Mas." ucap Sofi mengingatkan.


"Fi, Mas pengen kamu cepat hamil. Biar semua orang tahu, kamu itu istri Mas, dan calon ibu dari anak Mas." ucap Rendy pelan tanpa rasa bersalah.


"Iya Mas, bukankah kita juga sedang berusaha." Ucap Sofi menghabiskan suapan terakhirnya dan mengunyah secara perlahan.


"Mas, mulai besok bekerja di perusahan Rangga. Sedangkan kamu pemilik Saung ini. Pasti banyak orang yang akan mengagumimu." ucap Rendy pelan sambil meneguk air minumnya.


"Lalu aku akan mudah tergoda? Mas, percaya denganku, aku bukan wanita yang mudah jatuh cinta, apalagi kita sudah berkomitmen dan terikat secara SAH dalam ikatan pernikahan. Itu bukan main main lho Mas." ucap Sofi menjelaskan.


"Tapi Fi....." ucapan Rendy pun terhenti.


"Aku yang seharusnya curiga. Kamu bekerja lagi, dan memiliki sekretaris. Gimana dong?" ucap Sofi pelan.


"Fi .. aku jatuh cinta sama kamu sudah lama, kita bersama pun sudah lama. Apa kamu tidak mengenal aku dengan baik?" ucap Rendy pelan.


"Itu juga yang seharusnya aku tanyakan sama kamu Mas? Kamu tentu sudah mengenal aku dengan baik." ucap Sofi dengan tenang.


"Hai Rendy boleh gabung?, Aku gak ada teman disana." tanya Rangga pelan.


Sofi dan Rendy pun mendongakkan kepalanya menatap ke arah Rangga.