Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 75 KECEMASAN TATANG



Persiapan acara resepsi untuk malam inipun sudah sembilan puluh persen beres. Candra memang bisa diandalkan, walaupun hatinya sedang galau tapi kinerjanya tetap profesional.


Candra tengah menghias bagian pelaminan, tema acara resepsi kali ini adalah outdoor. Jadi sebisa mungkin memilih warna dan hiasan yang pas dan tepat agar bisa dijadikan spot foto yang tepat.


"Assalamualaikum... Sofi atau Rendy tidak ada yang kemari untuk mengecek hasil pekerjaan kalian?" tanya Kang Tatang pelan.


"Waalaikumsalam... ya ampun eke kaget, lagi fokus masang lampu, untung gak jatuh. Sofi sakit Akang..." jawab Candra dengan manja.


"Sakit apa? tadi pagi sepertinya baik baik saja." tanya Kang Tatang pelan.


"Eke gak tahu. Katanya pusing dan mual. Udah ah ganggu eke lagi menghias aja." jawab Candra dengan ketus.


Kang Tatang pun kemudian berpamitan dengan karyawannya dan meninggalkan Saung. Ada perasaan khawatir dan cemas ingin segera melihat keadaan Sofi.


'Tadi pagi sepertinya baik baik saja. Apa yang terjadi sebenarnya,' gumam Kang Tatang dalam hatinya.


Kang Tatang pun menjadi kurang fokus saat mengendarai mobilnya. Melihat satu lapak pedagang buah, Kang Tatang segera memberhentikan mobilnya untuk membeli beberapa buah sebagai oleh-oleh Umi. Sebenarnya ini hanya tipu daya agar tidak ada satu orang pun mengetahui kekhawatirannya.


Satu kilo jeruk Medan, satu kilo anggur merah dan satu kilo mangga gadung. 'Segini cukup lah, nanti beralasan kalau ponselnya tertinggal dan sekalian membeli buah,' gumam Kang Tatang dalam hatinya.


"Assalamualaikum ... Umi.." panggil Kang Tatang sambil mengucap salam.


"Waalaikumsalam ... lho, kamu kenapa?" ucap Umi Anisa pelan.


"Ponsel Tatang tertinggal. Ini Umi ada sedikit buah, tadi ada yang menjual, jadi Tatang iba dan membelinya." ucap Kang Tatang sedikit berbohong pada Umi.


"Ohh ... wah ini mangga?" ucap Umi Anisa dengan girang.


"Iya Umi Mangga gadung. Ada apa Umi?" tanya Kang Tatang pelan.


"Sofi ada di rumah? boleh Tatang lihat keadaannya?" tanya Tatang pelan.


"Boleh... ada di kamarnya. Sepertinya sedang tidur jangan di ganggu." ucap Umi Anisa pelan.


Kaki Tatang pun langsung melangkah ke arah kamar Rendy. Kamar itu sedikit luas diantar kamar yang lainnya. Pintu kamar itu sedikit membuka, dan Kang Tatang bisa mengintip terlebih dahulu apa yang sedang dilakukan oleh Sofi.


Kreeetttttt...... Suara pintu kamar dibuka perlahan oleh Kang Tatang.


Sofi tidak bergerak sedikitpun. Matanya masih terpejam sepertinya tertidur dengan nyenyak dan pulas. Ada minyak kayu putih di dalam genggamannya. Ponselnya pun dibiarkan di samping tubuhnya dengan posisi menyala. Ada satu gambar Sofi sebelum menggunakan hijab, kang Tatang benar benar sudah terbuai dengan pesona Sofi.


Tangannya pun nekat mengusap kepala Sofi dengan lembut. Hanya hembusan kasar yang keluar dari hidung Sofi.


'Kalau kamu bukan istri dari adikku mungkin sudah aku beranikan diri untuk mendekatimu secara terang terangan.' gumam Tatang dengan suara lirih. Suara itu masih bisa di dengar oleh Sofi yang tiba tiba tersadar karena aroma maskulin dari pria yang tidak dia kenal.


Sofi masih tetap memejamkan matanya, dan tetap berbaring lemah. Bau wangi itu sangat menyengat membuat Sofi menjadi mual dan ingin memuntahkan kembali isi perutnya.


Umi Anisa pun masuk dengan pelan, sebelumnya mengintip apa yang dilakukan anak angkatnya itu di kamar menantunya.


Deg....


Deg...


"Tatang.... " ucap Umi Anisa dengan tegas.


Tatang tersentak kaget dan menarik kembali tangannya.


JAZAKALLAH KHAIRAN