Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 43 JANGAN LUPAKAN RONAL



SELAMAT MEMBACA


💚💚💚💚💚


Hari sudah mulai senja, semburat merah diawan sudah terlihat. Angin sepoi sepoi menghantam pepohonan hingga ikut menari mengikuti arah angin.


Sofi berdiri di depan teras yang begitu luas. Tangannya memegang pagar catur, dan tubuhnya dirapatkan ke pagar itu. Kerudungnya yang bergerak diterpa angin semilir sore itu.


"Sofi, sedang apa?" ucap Rendy mendekati Sofi ke arah pagar catur itu.


Tangannya memeluk pinggang Sofi yang ramping. Semua sudah mengetahui status hubungannya, tidak perlu ada yang disembunyikan lagi.


"Mas Rendy, aku gak melamun hanya memikirkan Ronal." ucap Sofi enteng, dengna raut muka bingung.


"Didekatku masih saja memikirkan pria lain, apa karena dia gig*lo berati sudah teruji? sedangkan aku belum teruji gitu? mau diuji nih? udah halal lho? mama dan bapak juga sudah tahu?" ucap Rendy merapatkan pelukannya dan menaik turunkan kedua alis matanya.


"Cihhh... apaan sih Mas, ntar kalau udah waktunya ya." ucap Sofi sambil mengecup pipi Rendy.


"Kirain bisa nanti malam buka gembok. Puasa terus." ucap Rendy terkekeh.


"Kita mikirin Ronal dulu, aku gak mau kalau orang tuaku jadi sasarannya. Kira kira gimana baiknya Mas?" ucap Sofi pelan.


"Gimana ya?" ucap Rendy melirik Sofi.


Sore ini Rendy berharap ada sikap romantis dari kekasih halalnya ini. Bukan malah memikirkan Ronal, biarkan saja Ronal.


"Kamu diajak ngobrol serius malah kayak gitu Mas?" ucap Sofi kesal dan melepaskan tangan Rendy yang masih betah di pinggangnya.


Sofi pun masuk ke dalam rumah menuju dapur. Sofi melihat kedekatan dua ibunya yang terlihat akur.


"Umi, mama? lagi masak apa?" ucap Sofi pelan.


"Sofi.. sini sayang." panggil Umi agar Sofi mendekat.


"Apa Umi?" ucap Sofi pelan.


"Lihat mamamu sedang mengajari bunda membuat kue bolu kukus pelangi. Lucu ya?" ucap Umi terlihat senang, kue buatannya tidak gagal.


"Persiapan pernikahanmu bagaiman Sofi?" tanya mama pelan.


"Belum tahu ma, aku sama mas Rendy belum membahas ini. Mungkin nanti malam dibahas." ucap Sofi datar.


"Sofi kami itu sudah menjadi istri Rendy yang SAH, segala sesuatu harus di ceritakan jangan dipendam sendiri." ucap Umi lembut.


"Iya Umi, Sofi mau buat kopi dulu buat mas Rendy." ucap Sofi pelan.


Sofi pun menuju meja makan dan membuat secangkir kopi hitam manis yang panas. Aroma kopi itu benar-benar sedap. Kopi itu dibawa ke depan. Rendy masih di posisi yang sama belum beranjak dari tempat itu.


"Mas Rendy, ini kopi buat kamu?" ucap Sofi tersenyum manis.


"Makasih ya sayang. Lagi belajar jadi istri yang baik. Apa lagi merayu?" ucap Rendy sambil menyeruput kopi hitam itu dengan nikmat.


Kopi ini bukanlah cangkir pertama yang dibuat Sofi untuk Rendy. Ini adalah cangkir yang ke sekian kalinya, tapi rasanya tetap sama karena pembuatnya pun sama.


"Minim kopi kok senyum senyum sendiri sih Mas?" ucap Sofi ramah.


"Aku ingat kamu, ingat senyum kamu saat membuatkan kopi untukku pertama kali fi pantry. Waktu itu aku sudah jatuh cinta sama kamu, ditambah kopi nikmat buatan kamu semakin membuat semangat aku untuk mendapatkan kamu." ucap Rendy tersenyum.


"Gombal..." ucap Sofi sambil meninju lengan Rendy dengan pelan.


"Aku serius Fi, kamu itu idaman." ucap Rendy merayu Sofi.


"Kamu itu gak jelas Mas. Masuk yuk Mas sudah mau Maghrib, kita sholat Maghrib berjamaah ya dikamar aja." ucap Sofi lembut.


"Bentar ngabisin kopi dulu sayang." ucap Rendy pelan.


Adzan Maghrib pun berkumandang. Umi dan Abah sholat ke masjid, sedangkan Sofi dan Rendy sholat dikamar.


"Sayang, mau keluar? apa mau dirumah aja?" ucap Rendy pelan.


"Kalau keluar mau kemana?" ucap Sofi dengan semangat.


"Cari untuk persiapan pernikahan kita?" ucap Rendy asal.


"WO gitu?" ucap Sofi pelan.


"Kamu mau seperti apa?" ucap Rendy semangat.


"Oke, temenku ada yang bisa bantu untuk pesta pernikahan kita? kita kesana yuk?" ucap Rendy semangat.


"Kamu gak cape Mas?" ucap Sofi lembut.


" Udah ayok, ganti baju kamu, aku tunggu diteras ya." ucap Rendy lembut.


Sofi pun mengganti bajunya dengan gamis batik dipadu kerudung coklat, sangat manis dan cocok.


"Kita berangkat sekarang, aku udah pamitan sama mama dan bapak, mereka mau istirahat di dekat tambak." ucap Sofi pelan.


Sofi pun mengikuti Rendy, masuk ke dalam mobil. Mobil pun mulai melaju dengan kecepatan sedang.


Lampu kelap kelip membuat suasana jalanan terlihat romantis. Dinginnya AC mobil pun membuat sepasang sejoli ini mulai mencari kehangatan. Rendy pun memberanikan diri memegang tangan Sofi dengan satu tangan fokus pada bundaran setir.


Sofi melirik Rendy dan tersenyum dengan sangat manis. Diciumnya punggung tangan Sofi, aroma hand body terasa masih sangat wangi menyeruak ke dalam rongga hidung.


"Kamu cantik Sofi." ucap Rendy merayu.


"Kamu juga yg tampan Rendy." ucap Sofi tak kalah merayu.


"Mau makan dulu?" ucap Rendy menawarkan.


"Boleh, lesehan ya." ucap Sofi memohon.


"Pempek kesukaanmu?" ucap Rendy menawarkan salah satu makanan favorit Sofi.


"Dengan senang hati sayang, masih inget aja makanan kesukaanku." ucap Sofi.


Rendy pun membelokkan setornya ke arah lesehan pempek.


"Kok pindah sih, ehh.... alamat itu sama seperti jalan tempat temenku Fi. Kita kesana dulu aja ya." ucap Rendy pelan.


"Iya sayang, ayok" ucap Sofi.


Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit saja, sampai juga di Candra Wedding Organizer.


"Itu tempatnya sayang. Ayok turun." ucap Rendy pelan.


"Iya Mas." ucap Sofi lembut.


Mereka berdua turun dan masuk ke dalam gedung tersebut.


"Maaf PK Chandra ada? Kami akan pesan untuk Minggu depan." ucap Rendy pelan kepada bagian penerima tamu.


"Ada Pak langsung ke atas saja." ucap karyawan itu.


"Baiklah, terima kasih." ucap Rendy pelan.


Mereka menuju lantai dua, dan disana ada satu ruangan tertutup. Diatas ruangan itu tertulis Candra Pratama.


"Mas kayaknya lagi ada tamu Pak Chandranya, kita tunggu di sofa aja." ucap Sofi pelan.


"Oh iya bener Sofi, tapi suaranya kok mendesah gitu ya Fi." ucap Rendy pelan.


"Kita pulang aja Mas, aku jadi takut." ucap Sofi sedikit cemas.


"Ada Mas, Fi, gak perlu takut. Setahu aku Candra itu agak gimana?" ucap Rendy pelan.


Setengah jam menunggu Candra pemilik WO. Akhirnya keluar juga, tapi bersama pria, yang keluar juga pria.


"Astaghfirullah... Mas Rendy." ucap Sofi sambil memberi kode kepada Rendy untuk melihat ke arah pintu.


Mata Rendy pun terbelalak, ternyata adegan mendesah tadi dilakukan antara pria dan pria.


"Fi, Mas gak salah lihat kan?" ucap Rendy termangu melihat kedua pria itu.


----+++++--------


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚