
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
"Kamu sering kesini Sofi?" tanya Rendy pelan.
"Kalau sempet, tempatnya enak udaranya pun sejuk, bisa melihat pemandangan indah. Ada bioskopnya juga tentang film dokumenter Gunung ini. Mau lihat?" ucap Sofi dengan semangat.
"Boleh, kenapa tidak, aku kan bakal jarang bareng kamu. Istiqomah ya sayang pakai kerudungnya, I Love u." ucap Rendy dengan senyum manis nya.
"Manis banget senyumnya sih, awas kalau di Bali genit sama cewek, digerus kamu nanti." ucap Sofi terkekeh.
Hari ini beban mereka berdua seperti ringan, beban berat untuk bertemu Bapak Sofi pun sudah terlaksana. Dan hasil akhirnya diberi kesempatan. Tapi ini baru awal, mungkin ada ujian yang lebih berat dari ini.
"Kita kayak orang pacaran ya?" ucap Sofi seperti merasa sedikit aneh.
"Padahal kita Sumi istri, kenapa harus bahas itu sih? aku tuh jadi gak tega mau ninggalin kamu buat kerja." ucap Rendy tulus.
"Sayang, selagi masih ada waktu ya kita berkarir dulu. Yang penting komunikasi dan kejujuran, entah itu menyakitkan atau tidak kita harus jujur. Kalau salah satunya sudah gak jujur, hubungan kita juga gak mungkin berjalan baik." ucap Sofi mengingatkan.
"Iya aku tahu, selama ini aku jujur sofi, kamu yang kurang jujur sama aku." ucap Rendy sedikit kecewa.
"Udah jangan bahas yang dulu, bahasnya yang sekarang mas Rendy. Dulu kita cuma berteman yah bohong bohong dikit gak papa." ucap Sofi pelan.
"Dulu cuma temen terus sekarang apa donk?" ucap Rendy sambil memegang kedua pipi Sofi.
"Kan sekarang deket, tuh kan deket." ucap Sofi menggoda sambil mencium pipi Rendy dan berlari masuk ke gedung film untuk melihat film dokumenter.
"Udah berani godain aku ya." ucap Rendy ikut mengejar Sofi dan menarik tangan Sofi agar berjalan dengan bergandengan tangan.
Hari ini mungkin jadi hari bahagia mereka berdua. Minimal restu orang tua Sofi yang baru sedikit itu sudah dikantongi. Semua itu tergantung Niat. Mengawali semuanya dengan niat baik, maka semuanya akan terasa mudah dan lancar.
Film pendek itu berakhir, film yang menceritakan tentang bahaya Gunung Merapi, dan manfaat dari letusan Gunung Merapi.
"Besok aku harus berangkat lg fi, aku gak bisa anter kamu gak papa fi?" ucap Rendy pelan.
"Gak papa kok mas Rendy, kamu kerja, aku pun kerja, yang penting kita saling percaya." ucap Sofi lembut.
Sebenarnya Sofi sedang menguatkan dirinya sendiri. Berjauhan dengan Rendy adalah musibah. Rendy yang selama ini ada untuk Sofi harus berpisah jarak dan itu berada banget sepinya.
"Kok bengong? gak rela ya sama keadaan, ayo halalin Abang dong fi." ucap Rendy terkekeh sambil mengusap kepala Sofi yang sudah tertutup kerudung.
"Aishhh.... kelakuan laki begini amat ya, udah halal kali bang, cuma terhalang restu jadi belum bebas aja. Abang sih kurang maju jangan kasih kendor." ucap Sofi meledek.
"Belum pernah dihukum ya, awas ya ngeledekin aku Mulu, lama lama aku makan kamu Sofi." ucap Rendy pura pura kesal.
"Makan dulu yuk, di angkringan, Sego kucing mas, mau gak?" ucap Sofi menawarkan.
"Boleh tuh, belum pernah nyobain." ucap Rendy semangat.
Perjalanan menuju kota Y sekitar satu jam sudah termasuk macet. Kota Y sebagai kota pelajar, menjadi kota yang ramai. Tempat favorit Sofi untuk sekedar nongkrong melepas lelah selain ke pantai ya ke ALKID. Tempat yang romantis, tenang dan nyaman.
"Apa ya fi, bingung aku, terserah kamu aja, kamu lebih tahu seleraku kan?" ucap Rendy.
"Okey Pak Bos! aku pesen dulu ya, kamu disini aja, jangan kemana-mana" ucap Sofi.
"Disini enak ya Sofi, nyaman, kalau yang itu apa fi?" tanya Rendy menunjuk dua pohon beringin ditengah alun alun.
"Oh itu namanya pohon beringin cinta, itu ada filosofi nya, siapa yang bisa melewati jalan diantara pohon beringin dengan mata tertutup itu maka apapun permintaannya terkabul, kalau jalannya berdua dan berhasil kemungkinan berjodoh, mau coba mas?" ucap Sofi penuh harap.
"Gak ah, takut sakit hati." ucap Rendy datar.
Dalam hatinya ingin sekali terjebak dalam permainan itu, tapi kalau hasilnya tidak sesuai harapan, kita yang ada kecewa dan dongkol.
"Uhh payah Cemen gak berani." ucap Sofi dengan kekecewaannya.
"Itu mitos Sofi, konyol. Percaya sama Allah SWT, bukan dengan mitos seperti itu." ucap Rendy tegas.
"Kan cuma buat seru seruan aja mas, bukan untuk serius." ucap Sofi ngeles.
Rasanya hari ini tidak mau berakhir, dan masih ingin seperti ini terus. Duduk berdua, menikmati makanan, menikmati sekeliling, memperhatikan kegiatan orang, berbagi dengan pengamen, melihat keluarga kecil yang romantis dan bahagia. Begitu indah dan menyenangkan. Ternyata bahagia itu memang sederhana, melihat sekeliling kita tertawa bisa menjadi kebahagiaan kita tersendiri.
Malam yang semakin larut, udara dingin pun mulai menusuk kulit. Keramaian tempat ini pun masih terasa. Kota yang akan selalu kurindukan. Kota yang menyatukan cintaku dan dia.
"Suatu saat aku ingin kesini lagi fi, semoga kita sudah benar benar halal atau bahkan sudah memiliki keturunan." ucap Rendy dengan senyumannya.
"Kamu mulai terpesona dengan kota ini mas?" ucap Sofi tersenyum.
"Tidak hanya keindahan kotanya, tapi juga makanannya, keramahan orang orangnya, yang lebih penting, separuh jiwaku terlahir disini, dia adalah gadisku, gadis yang selalu ku impikan untuk menjadi pendampingku, dan itu menjadi kenyataan walaupun masih ada beberapa ujian lagi yang harus ku tempuh. Semoga aku kuat dengan ujian ini." ucap Rendy mantap dan menoleh menatap Sofi penuh kasih sayang.
"Apa itu untukku?" ucap Sofi malu malu dan pura pura bodoh. Wajahnya sudah merah menahan malu.
"I LOVE U SOFI... DAMPINGI AKU HINGGA KITA MENUA NANTI." ucap Rendy sambil menggenggam tangan Sofi dan mencium punggung tangan gadisnya itu.
"I LOVE U TOO MAS RENDY..... AKAN KUJAGA CINTAKU HINGGA MAUT MEMISAHKAN KITA." ucap Sofi pun mantap.
Mereka berdua sudah terhanyut dengan suasana malam itu. Rasa cinta yang begitu dalam dan tulus selalu diungkapkan, semakin diungkapkan rasa itu makin bertambah. Malam ini malam terakhir sebelum mereka sama sama larut dalam pekerjaan mereka masing masing.
"Terima kasih Sofi atas semuanya. Malam yang indah ini, menjadi malam romantis kita." ucap Rendy sambil merangkul pinggang Sofi.
"Sama sama sayang, bukankah kita diciptakan untuk saling melengkapi?" ucap Sofi dengan menyandarkan kepalanya ke bahu Rendy.
------------------------------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚